Agenda Setting dan Kebohongan Media

Oleh ASM. ROMLI

Makalah “Seminar Kebohongan Media Barat” ICMI Orwil Jabar. Sabtu, 7 Juni 2008

“Kelompok militan Hamas menyerang Israel…”; “Kaum militan Islam di Selatan Thailand melakukan serangan ke pos keamanan…”; “Kelompok teroris Al-Qaidah terus diburu…”; “Keluarga teroris datangi Polri…”; “Kelompok radikal Islam melakukan protes”; “Ulama garis keras memprotes tayangan televisi”; “Kaum separatis Filipina Selatan”; “Kelompok pemberontak Chechnya menyerang pasukan Rusia…”

Kalimat seperti di atas belakangan sangat akrab di telinga dan mata kita. Jika tidak memiliki background information atau pengetahuan yang memadai sebelumnya, kita akan “terjebak” pada propaganda media semacam itu. Mayoritas pembaca menjadi korban manipulasi informasi dan kalimat-kalimat tendensius seperti itu.

Wartawan yang taat pada kode etik –khususnya mengenai “pencapuradukan fakta dan opini—tidak akan menulis kalimat seperi di atas, yakni tidak mencantumkan kata-kata yang digarisbawahi! Membuangnya atau menggantinya dengan kata-kata yang “netral”.

Kata-kata yang digarisbawahi bukan fakta, melainkan opini atau interpretasi, kecuali kata-kata itu adalah kutipan pembicaraan atau pernyataan narasumber. Jika kata-kata itu disusun oleh wartawan sendiri, berarti ia sudah memasukkan opini dalam berita. Parahnya, opininya itu merupakan penjulukan (labelling) yang akan berpengaruh pada citra pihak yang dilabelinya.

Apakah Hamas menamakan dirinya militan? Apakah para pejuang kemerdekaan di Selatan Thailand menyebut dirinya militan Islam? Apakah Al-Qaidah menamakan dirinya teroris? Apakah ulama yang diberitakan itu menyebut dirinya ulama garis keras? Jika tidak, dan memang tidak, maka julukan itu adalah opini wartawan dan ini sebuah kebohongan!

Wartawan yang jujur cukup menyebut Hamas, ulama, sekelompok orang, atau gerilyawan, tanpa embel-embel apa pun. Bukankah cukup dengan menulis: Kelompok Hamas menyerang Israel? Kenapa harus diembel-embeli kata militan?

Kasus ini sekadar contoh, sulit menemukan kejujuran dalam pemberitaan media massa. Apalagi kini masanya “perang informasi”, era propaganda, dan media menjadi bagian dari alat perjuangan politik, termasuk dalam hal “pembunuhan karakter” (character assasination), “pembanguan citra” (image building), “invasi pemikiran” (ghozwul fikr), dan justifikasi tindakan kepada publik.

 

Semua Media ‘Berbohong’

Semua media massa hakikatnya melakukan kebohongan, setidaknya karena satu hal: membesar-besarkan, mendramatisasi, mengecilkan fakta, atau menyisihkan fakta-fakta tertentu.

Kebohongan demikian merupakan sebuah risiko, sekaligus “bisa dimaafkan” (forgivable), karena masih dalam konteks jurnalisme. Dunia pemberitaan media massa memiliki rumusan tersendiri: berita adalah rekonstruksi peristiwa melalui simbol, kata-kata dan/atau gambar. Dengan keterbatasan ruang (kolom) dan waktu (durasi), banyak fakta harus tersisihkan setidaknya berdasarkan “teori” piramida terbalik –sangat penting, penting, tidak penting.

Itulah sebabnya, The press and the media do not reflect reality, they filter and shape it. Apa yang disajikan media adalah “relaitas kedua” (second reality) atau “realitas semu” (pseudo reality) yang sudah ditambah, dikurang, atau “dibumbui” dengan permainan kata-kata atau sensasi tertentu agar menarik perhatian publik.

Yang tidak bisa dimaafkan adalah jika kebohongan itu disengaja, misalnya dengan memanipulasi fakta, memutarbalikkan fakta, mendistorsi kebenaran, melanggar prinsip fairness doctrine, atau melanggar kode etik jurnalistik, misalnya asas praduga tak bersalah, berimbang (balance), check and recheck (tabayun, konfirmasi, klarifikasi, verifikasi data), dan mencampurkan fakta dan opini (wartawan) dalam berita.

Selain itu, wartawan tidak mungkin tidak subjektif dalam menulis berita. Persepsi wartawan tentang suatu peristiwa, baik dari sudut pandang jurnalistik (news value) maupun perspektif ideologisnya, sangat berpengaruh pada pilihan angle (sudut pandang) peristiwa yang ia tulis. Dari segi teknis, subjektifitas juga terjadi, ketika wartawan menentukan peristiwa yang harus diliput dan fakta yang harus dipilih dan dipilahnya dalam penulisan berita.

Oleh karena itu, jangan berharap ada objektivitas murni dalam sebuah berita media massa. Objektivitas di media massa adalah “objektivitas yang subjektif”.

 

Agenda-Media Setting

Setiap media massa memiliki agendanya sendiri, sesuai dengan visi dan misi yang dimiliki. Visi-misi media massa adalah “company philoshopy” yang menjadi “basic values” yang harus ditaati para wartawan dalam menulis berita. “Nilai-nilai dasar” baik yang sifatnya ideologis, politis, maupun ekonomis, menjadi acuan dalam penyusunan “editorial policy” sebuah media massa.

Editorial Policy adalah kriteria layak-tidaknya sebuah berita dipublikasikan yang dalam dunia komunikasi massa disebut gatekeeping, yakni “a series of check point” yang dijaga oleh para gatekeeper (para redaktur rubrik). Sebuah berita harus melalui ”gate” tersebut sebelum sampai ke publik. Artinya, lolos-tidaknya sebuah peristiwa diberitakan (menjadi berita) bergantung pada hasil pengecekan tersebut, belum lagi ditambah “selera” redaktur yang subjektif.

Secara teroritis, setiap media memiliki “agenda-media” yang disetting sejak awal. Agenda dan gatekeeping  itulah yang “mengendalikan akses kita terhadap berita, informasi, dan hiburan” (Wilson).

Dalam perspektif teori komunikasi (massa) dikenal dengan “agenda-media setting theory” (Maxwell McCombs and Donald L. Shaw [1973]).

The Agenda-Setting Theory says the media (mainly the news media) aren’t always successful at telling us what to think, but they are quite successful at telling us what to think about”.

Agenda Setting juga didefinisikan sebagai proses di mana media massa menentukan apa yang kita pikirkan dan cemaskan (the process whereby the mass media determine what we think and worry about).

Walter Lippmann (1922) menegaskannya: the media dominates over the creation of pictures in our head; the public reacts not to actual events but to the pictures in our head.

Secara praktis, Agenda-Setting menentukan apa yang harus diberitakan sehingga menjadi “agenda publik” (public agendas), yakni isu utama yang menjadi bahan pembicaraan; diharapkan agenda publik nantinya menjadi “agenda kebijakan” (policy agenda) atau mempengaruhi “agenda politik” (political agenda) para pembuat kebijakan, yang pada akhirnya menentukan kebijakan publik (public policy). Sebagai contoh, disinyalir, gencarnya pemberitaan kasus kekerasaan di IPDN karena media massa punya agenda: pembubaran IPDN!

The Media agenda is the set of issues addressed by media sources and the public agenda is the issues the public consider important (Miller, 2005).

Demikianlah, semua pemberitaan media melalui proses tertentu yang “dibingkai” (framing) berdasaran agenda-media, sehingga menimbulkan pengaruh dan interpretasi tertentu dan menciptakan “opini publik” (public opinion). Opini publik itulah yang mengendalikan pemikiran dan sikap masyarakat terhadap isu tertentu.

Agenda Media Amerika

Informasi yang disebarluaskan jaringan media Amerika bukanlah informasi yang bebas, melainkan informasi yang telah tersaring dan membawa misi tertentu. Media massa Amerika, sebagaimana media massa pada umumnya, dijadikan alat propaganda bagi pemerintah Amerika.

Seorang dosen studi media massa di Universitas New York, Mark Crispin Miller, mengatakan, “Media massa Amerika sebagian besar dikontrol oleh perusahaan-perusahaan besar, yang demi keuntungan-keuntungan ekonomi, mereka menjadi pendukung pemerintah.”

Kritikus pemerintah AS, Noam Chomsky, menyatakan, Washington setiap tahunnya menghabiskan dana satu milyar dolar untuk propganda atau humas, dengan tujuan agar dapat mengontrol opini umum dunia. Agar dapat mengontrol jaringan media massa dunia dan agar jaringan media massa itu mampu mendominasi arus informasi di dunia, Gedung Putih mendorong agar perusahaan-perusaan media itu saling melakukan merger sehingga membentuk perusahaan media raksasa.

Dosen di Universitas Illionis AS dan pemimpin redaksi Monthly Review, Robert Mc Chensy, menulis, “Pada saat ini pasar media dunia berada di tangan tujuh perusahaan multinasional, yaitu Disney, Time Warner, Sony, News Corporation, Viacom, Vivendi, dan Bertelsmann. Ketujuh perusahaan ini merupakan studio pembuatan film terbesar dunia, menguasai 80-85 persen pasar musik dunia, menguasai pasar buku dunia, majalah, serta kanal-kanal televisi dunia.”

Tahun 1996, Kongres AS memberikan dana sebesar 10 juta dolar kepada jaringan media massa dunia dan beberapa milyar dolar lagi untuk jaringan media besar lainnya. Sebaliknya, dari media-media itu, pemerintah AS meminta adanya dukungan terhadap kebijakan pemerintah (www.indonesian.irib.ir).

Bila kita melihat liputan yang dilakukan oleh jaringan media massa dunia terhadap peristiwa 11 September dan invasi AS ke Irak, kita akan makin jelas melihat betapa jaringan media dunia itu sangat mengabdi pada kepentingan imperialisme Gedung Putih. Segera setalah serangan terhadap Gedung Kembar WTC, media-media Barat mengaitkan peristiwa itu dengan kaum Muslimin dan opini dunia dibentuk untuk menganggap kaum Muslim sebagai teroris.

Begitu pula, ketika pemerintah AS berencana menyerang Irak, jaringan media massa dunia beramai-ramai menciptakan opini tentang kekejaman Saddam, bahaya senjata pembunuh massal yang dimiliki oleh rezim Saddam, dan sebagainya.

Dalam bukunya, Kuasa Media (2005), Noam Chomsky menjelaskan, setidaknya, ada tiga cara pemerintahan Amerika dalam memanfaatkan media untuk kepentingan mereka.

Pertama dengan industri humas. Industri humas Amerika di desain dan didanai untuk mengontrol opini publik. Jadi, beberapa industri humas tidak independen, tetapi bekerja untuk kepentingan pemerintahan Amerika. Mereka memanfaatan Sumberdaya Manusia (SDM) yang mempunyai kompetensi dalam bidang tersebut untuk mematahkan setiap opini yang berseberangan dengan kepentingan Amerika, termasuk menghambat opini-opini yang tidak menyepakati kepentingan-kepentingan mereka.

Kedua ,merekayasa opini. Di dalam sejarah Amerika, rakyat pernah dipaksa untuk menyepakati perang. Rakyat yang kebanyakan anti perang berkat rekayasa opini yang dilakukan, kemudian diarahkan untuk menyepakati perang (Kasus perang Dunia II).

Ketiga, memelintir sejarah. Di dalam sebuah kasus perang, usaha yang dilakukan adalah dengan memelintir sejarah. Yaitu merekayasa keadaan hingga ketika pemerintah Amerika melakukan serangan dan menghancurkan satu pihak, seakan-akan sedang melindungi dan mempertahankan diri dari para penyerang atau monster penghancur dan seterusnya.

Penguasa (Media) Amerika

Dunia saat ini berada di tengah kepungan propaganda media pro-Zionis. Hampir semua pemilik media besar dunia dimiliki oleh Yahudi pro-Zionis. Sejak awal terbentuknya gerakan Zionisme Internasional, para aktivis gerakan ini telah memanfaatkan media massa untuk mempropagandakan pemikiran mereka kepada dunia. Dalam Protokol ke-12 Gerakan Zionisme, disebutkan, “Media massa dunia harus berada di bawah pengaruh kita.”

Peletak fondasi dasar Gerakan Zionisme Internasional, Theodore Hertzel, dalam konferensi di Swiss tahun 1897 mengatakan, “Kita akan berhasil mendirikan pemerintah Israel dengan memanfaatkan dan menguasai fasilitas propaganda dunia dan media massa dunia.” Dengan dilandaskan pada pemikiran ini, Zionisme selalu berusaha untuk menguasai berbagai media massa di dunia, atau minimalnya, menginfiltrasi media massa tersebut.

Saat ini ada segelintir kantor berita yang memproduksi berita dengan volume terbanyak di dunia, antara lain AFP, AP, dan Reuters. Mereka memiliki tugas untuk melaporkan berbagai kejadian di berbagai penjuru bumi dalam waktu sesingkat-singkatnya. Oleh karena itu, tidak aneh apabila Zionisme pun menjadikan upaya untuk mengontrol kantor berita-kantor berita itu sebagai prioritas utama mereka, dengan tujuan agar berita-berita yang diproduksi tidak bertentangan dengan kepentingan Zionis.

Dewasa ini Zionisme memiliki kontrol atas berbagai kantor berita penting di dunia. Sebagai contoh, kantor berita Inggris, Reuters,dibentuk oleh seorang Yahudi bernama Julius Powell dan kantor berita ini menerima pengaruh yang sangat besar dari Zionisme. Kantor berita Perancis dan AS, yaitu AFP dan AP, juga sangat pro Zionis dalam meliput pemberitaan mereka.

Pemimpin redaksi majalan terbitan Inggris, Cressent International, Iqbal Shadiqi, mengatakan, “Media-media AS sangat bergantung kepada para investor dan orang-orang Zionis. Kedua kelompok inilah yang mengontrol pemerintah dan media AS.”

Data menunjukkan, media-media besar di AS memiliki keterkaitan dengan Zionisme. Sebagai contoh, Direktur Pelaksana stasiun ABC, adalah seorang Yahudi bernama Leonard Goldenson dan direktur entertainmentnya adalah Stuart Bloomberg, juga seorang Yahudi.

Stasiun CBS didirikan oleh William S. Paley, seorang Yahudi Rusia. Stasiun televisi AS yang paling jelas kecenderungannya terhadap Zionisme adalah Fox News, yang didirikan oleh Rupert Murdoch, seorang Yahudi Australia, tahun 1996. Perusahaan film terkemuka, 20th Century Fox, Walt Disney, Paramount Picture, yang produksnya tersebar ke berbagai penjuru dunia, juga dipimpin oleh orang-orang Yahudi.

Koran-koran terkemuka dunia seperti Newsweek, New York Post, atau Wall Street Journal, dipimpin oleh jurnalis-jurnalis Yahudi, yaitu Katherine Meyer Graham, Peter Kalikov, dan Peter Kann. Perusahaan-perusahaan rekaman kaset yang menguasai dunia rekaman, semisal EMI, juga dipimpin seorang Yahudi, yaitu Charles Koppelman.

Dominasi kaum Yahudi dalam berbagai jenis media massa tidak hanya terjadi di AS, melainkan juga di berbagai negara Eropa. Di Inggris, koran-koran seperti Daily Express, Observer, Daily Mail, dan Times, berada di bawah kontrol orang-orang Yahudi. Di Jerman, jaringan Spinger yang menguasai 30 persen media cetak di negara itu, juga dikontrol oleh Zionis. Di Perancis, majalah terkenal seperti Figaro, juga berada di bawah dominasi Yahudi.

Itulah salah satu kunci atau rahasia kekuatan Zionis saat ini karena “the new source of power is information in the hand of many”. Itulah pula sebabnya, Zionis menjadi “shadow government” Amerika. Mereka menjadi “real government” Amerika, pengendali para elite di Washington DC, termasuk soal pemberitaan media.

Why didn’t hear that on the mainstream agenda news media?

Simple. They are controlled by the government ‘elite’ in Washington D.C.! They are not allowed to inform you , the public, of anything that Washington D. C. doesn’t want you to know. True knowledge is power . They don’t want YOU to have any !! Get this straight : They are the boss, and you are the obedient slave !

The dishonesty in our American main-stream agenda media is the “little conspiracy” that is a major part of the world wide scheme to manipulate the masses. Why ? Because the ruling elite government knows that if the public knew the real true news, the public would never go along with their plan and practices — so they choose to keep YOU in the dark, and lulled into a false world.

Our beliefs, our minds, our attitudes, our tastes, are all formed by what we are told by the media – – it’s called ‘brainwashing!’  How do you find out the truth ?  The ” underground mediathat’s how ! That’s what government has ‘labeled ‘ them. (www.home1.gte.net).

 

Who Rules America?

There is no greater power in the world today than that wielded by the manipulators of public opinion in America… Their power is not distant and impersonal; it reaches into every home in America, and it works its will during nearly every waking hour. It is the power that shapes and molds the mind of virtually every citizen, young or old, rich or poor, simple or sophisticated.

The mass media form for us our image of the world and then tell us what to think about that image. Essentially everything we know—or think we know—about events outside our own neighborhood or circle of acquaintances comes to us via our daily newspaper, our weekly news magazine, our radio, or our television.

As an example, consider the media treatment of Middle East news. Some editors or commentators are slavishly pro-Israel in their every utterance, while others seem nearly neutral. No one, however, dares suggest that the U.S. government is backing the wrong side in the Arab-Jewish conflict, or that 9-11 was a result of that support. Nor does anyone dare suggest that it served Jewish interests, rather than American interests, to send U.S. forces to cripple Iraq, Israel’s principal rival in the Middle East. Thus, a spectrum of permissible opinion, from pro-Israel to nearly neutral, is established.

Jewish media empire: Time Warner, Disney, ESPN, Viacom, NBC Universal, Fox News, NBC, CNBC,  MSNBC, CBS, ABC, The Associated Press (AP), New York Times, the Wall Street Journal, Washington Post, Newsweek, Time, U.S. News & World Report, Daily News, etc. The founders, CEO’s, chief editors, are Jews!

Jewish media control determines the foreign policy of the United States and permits Jewish interests rather than American interests to decide questions of war and peace. Without Jewish media control, there would have been no Persian Gulf war, for example.

By permitting the Jews to control our news and entertainment media we are doing more than merely giving them a decisive influence on our political system and virtual control of our government; we also are giving them control of the minds and souls of our children, whose attitudes and ideas are shaped more by Jewish television and Jewish films than by parents, schools, or any other influence. (National Alliance. www.Natall.com).*

By controlling key political positions, we will control legislation. By controlling key media positions, we will control what people think. With a generation or two to work with, we will control America. (Morris Dees 1970)

“We, the Jewish people, control America, and the Americans know it.”  (Ariel Sharon, Israeli Prime Minister, 3 October 2001).

Demonologi Islam

Demonologi Islam menjadi bagian dari agenda media Amerika dan media Barat pada umumnya. Demonologi Islam sebagai “perekayasaan sistematis untuk menempatkan Islam dan umatnya agar dipandang sebagai ancaman yang sangat menakutkan”. Hal itu dilakukan oleh pihak Barat yang memandang Islam sebagai ancaman bagi kepentingan mereka. Demonologi Islam menjadi bagian dari strategi Barat untuk meredam kekuatan Islam –yang mereka sebut sebagai the Green Menace (Bahaya Hijau).

Demonologi Islam yang sasarannya bukan saja masyarakat Barat melainkan juga masyarakat Islam sendiri agar mereka menjauhi ajaran agamanya ini, juga merupakan bagian dari apa yang disebut Anwar Al-Jundy sebagai “pembaratan di dunia Islam”. Pembaratan dalam pengertiannya yang paling luas berarti mendorong kaum Muslim dan bangsa Arab untuk menerima pemikiran-pemikiran Barat, menanamkan prinsip-prinsip pendidikan Barat dalam jiwa kaum Muslim, sehingga mereka tumbuh dalam kehidupan dan pemikiran Barat, dan nilai-nilai keislaman menjadi kering dalam jiwa mereka.

Proses demonologi itu berlangsung melalui pencitraan negatif tentang Islam dan para pejuangnya, melalui penjulukan-penjulukan “fundamentalisme Islam” (Islamic Fundamentalism), “terorisme Islam” (Islamic Terrorism), dan “bom Islam” (Islamic Bomb), yang dipopulerkan media massa.

Menurut Noam Chomsky, pemburukan citra Islam adalah bagian dari upaya Barat –khususnya negara adikuasa Amerika Serikat– menata dunia menurut kepentingan mereka. Barat mengklaim diri sebagai pemegang supremasi kebenaran, sementara semua yang mengancam kepentingannya, dalam hal ini Islam atau komunitas Islam, atau bahkan tidak bersepakat dengannya dianggap berada di jalan yang sesat (“Antara Konspirasi dan Kesalahpahaman”, Republika, 13 Oktober 1993).

Korban-korban atau objek-objek utama demonologi adalah, pertama, orang-orang atau kelompok yang berjuang untuk menegakkan syi’ar Islam. Mereka antara laun para aktivis harakah al-Islamiyah (gerakan Islam) seperti Ikhwanul Muslimin (Mesir), Front Islamique du Salut (FIS, Aljazair), Harakah Muqawamah al-Islamiyah (HAMAS Palestina), dan lain-lain.

Kedua, rezim atau pemerintahan negara mana saja yang berani menentang hegemoni Barat dalam percaturan sosial, politik, dan ekonomi dunia –seperti Imam Khomeini (Iran), Muammar Khadafi (Libya), dan Saddam Hussein (Irak), ataupun mereka yang berani coba-coba menerapkan syariat Islam dalam sistem pemerintahan –seperti Zia ul-Haq (Pakistan), Hassan Al-Basyir (Sudan), dan Taliban (Afghanistan).

Ketiga, para aktivis Muslim yang berjuang baik atas nama Islam maupun atas nama komunitas Muslim di pentas dunia menentang kezhaliman Barat dan antek-anteknya, seperti Syeikh Omar Abdul Rahman dari Mesir, Syeikh Ahmad Yassin (Palestina), Dr. Hassan At-Turabi (Sudan), Osama Bin Laden (Arab Saudi), dan Abdullah “Apo” Ocalan (Kurdi-Turki).

Mereka dicitrakan sebagai fundamentalis dan teroris. Amerika Serikat, menurut Noam Chomsky, bahkan telah memanfaatkan terorisme sebagai instumen kebijakan standar untuk memukul atau menindas lawan-lawannya dari kalangan Islam. Dengan alasan “memerangi terorisme”, AS dan rezim-rezim sekutunya di berbagai negara merasa leluasa dan “berada di jalan yang benar” ketika membasmi gerakan-gerakan Islam penentangnya yang mereka sebut “kelompok fundamentalis Islam” (The Jakarta Post, 3 Agustus 1993).

References:

Asep Syamsul M. Romli. Demonologi Islam: Upaya Barat Membasmi Kekuatan Islam. Gema Insani Press, Jakarta, 2000; Agenda Setting Theory. www.wikipedia.org; “Dunia di Tengah Kepungan Propaganda Media Pro-Zionis”. www.indonesian.irib.ir; Joseph Sobran. “In Our Hands”. www.sobran.com, www.russian.org; McCombs, M.E. (1982). The Agenda-Setting Approach. In: Nimmo, D. & Sanders, K. (Eds.) Handbook of Political Communication. Beverly Hills, CA.: Sage; Noam Chomsky . Kuasa Media. Pinus Jogjakarta, 2005; National Alliance, “Who Rules America?”. www.natall.com. The Alien Grip on Our News and Entertainment Media Must Be Broken  By the Research Staff of National Vanguard Books P.O. Box 330 · Hillsboro West Virginia 24946 · USA. (Artikel lengkap tentang media massa Amerika dan para pendiri dan pemimpinnya yang semuanya Yahudi dan mengabdi kepada Zionis); “Why didn’t hear that on the mainstream agenda news media?”. www.home1.gte.net .*

 

Copyrights © ASM. Romli 2008 www.romeltea.co.nr

Related Post

Menimbang Jurnalisme Militan – Pers Bawah Ta... Menimbang Jurnalisme Militan - Pers Bawah Tanah (Underground Press) WARTAWAN selalu punya "informasi rahasia" (off the record) yang tidak dipublika...
Kebebasan Pers Dinikmati Kaum Kapitalis * Blog dan ‘Underground Press’ Jadi Alternatif  SUATU malam, seorang teman, sebut saja A, menelepon. “Kang, saya dimarahin B!” katanya. “Gara-gara ...
Media Massa: Pengertian, Karakter, Jenis, dan Fung... Pengertian Media Massa serta Karakter, Jenis, dan Fungsinya Media Massa (Mass Media) --sering disingkat jadi "media" saja-- adalah channel, media (...
Standar Profesi Wartawan Ada yang bertanya, sekarang banyak wartawan asal tulis atau tulisannya tidak akurat. Salah satunya karena banyak media yang tidak selektif dalam merek...

COMMENTS