Friday, May 18th, 2012

Bahasa Jurnalistik: Hindari Pemborosan Kata!

Published on December 12, 2011 by | 127 Views |   ·   2 Comments

Kini zaman KISS, Keep It Simple and Short! Orang lebih suka tulisan pendek ketimbang yang panjang. Dalam bahasa apa pun, kata orang, tulisan pendek lebih mudah dipahami.

Aturan baku, lebih tepatnya sih “anjuran” yang sifatnya “sunah muakkad”, panjang tulisan, khususnya untuk media online atau blog, tidak boleh lebih dari 800 kata! Kira-kira 1,5 halaman A4 dengan font Calibri 12 point di MS Word.

Cara terbaik untuk membuat tulisan pendek adalah “hemat kata” (economy of words) –salah satu karakter bahasa jurnalistik (bahasa media). Penghematan bisa dilakukan dalam unsur kata dan kalimat.

Dalam unsur kata, pilih kata yang lebih pendek, misalnya:

  • “lalu” (kemudian)
  •  “kaget” (terkejut)
  •  “sekitar“ (kurang lebih)
  • “hingga” (sehingga)
  •  “tapi” (tetapi).
  • “dari” (daripada)
  • “kini” (sekarang
  • “kian” (semakin

Penghematan dalam unsur kalimat, misalnya gunakan kata:

  • “mencuri” (melakukan pencurian)
  •  “meneliti” (melakukan penelitian)

Hindari juga penggunaan kata-kata yang “tidak penting” –dalam bahasa jurnalistik disebut “Kata Jenuh”, “Kata Penat “, ” Tired Word”, atau “Ungkapan Klise” (Stereotype) — seperti:

  • “sebagaimana kita ketahui”
  • “sementara itu“
  • “dalam rangka”
  •  “dapat ditambahkan”
  • “dapat kami informasikan”
  • “perlu diketahui” (kalo pembaca ‘gak perlu tau, ngapain ditulis, ya ‘gak?)
  • “bahwasanya”
  • “sehubungan dengan hal itu”
  • “selanjutnya”
  • “adapun” (di awal kalimat)
  • “yang mana” (kata sambung)
  • “di mana” (kata sambung)
  • “adalah” (di awal kalimat)

Bagaimana jika tulisan itu berupa cerpen, novel, atau puisi? Beda lah! Kalau untuk tulisan fiksi, sastra, dan feature, justru kayaknya harus “dilebaykan” alias menggunakan kata-kata yang berona (colorful words), misalnya “menitikkan air mata” terasa lebih “dramatis” ketimbang “menangis”, “matanya berbinar-binar” (gembira), “memendam asa” (berharap), dan sebagainya. Wasalam. (www.romeltea.com).*

 

Tulisan Lainnya:

  1. Bahasa Jurnalistik Media Online
  2. Pengertian Bahasa Jurnalistik
  3. Bahasa Jurnalistik Itu Egaliter
  4. Pemborosan Kata, Adalah Merupakan
  5. Penyimpangan Bahasa Jurnalistik

Tags: , , , , , ,

Print This Post Print This Post

About Romeltea:

Asep Syamsul M. Romli a.k.a Romel tea --akrab disapa Kang Romel-- adalah komunikator profesional -wartawan, penulis buku-buku komunikasi praktis, editor, penyiar radio, konsultan media, public speaker, dan trainer-motivator yang siap berbagi dalam pelatihan jurnalistik, menulis, siaran radio, public speaking, MC, public relation (humas), media sosial, dll. Dosen luar biasa mata kuliah ilmu komunikasi. Sering menjadi pemateri di berbagai diklat internal instansi pemerintah/swasta. Kontak saja: romeltea@yahoo.com


Tetap update berita/artikel di mana pun dari Romeltea Magazine dengan mengetikkan www.romeltea.com di browser ponsel Anda!


Readers Comments (2)

  1. kta says:

    info yang penting, untuk meningkatkan kualitas konten blog saya. Terima kasih




Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.




POSTING TERBARU



KOMENTAR

My Links



Adsense Indonesia



WEB STATS

  • 946081Total reads:
  • 78Today:
  • 759Yesterday: