HARI Rabu (19/9) saya menjadi pembicara/narasumber acara talkshow di sebuah stasiun TV lokal Bandung. Kebetulan, sang presenter/host yang menjadi pemandu talkshow rupanya baru pertama kalinya menjadi presenter TV. “Saya biasa bawain acara off air, tapi kalo di depan kamera (TV) baru kali ini…,” katanya lirih.
“Tenang aja, kamu pasti bisa,” saya berusaha menenangkannya. “Anggap saja kamera itu sebagai audiens yang selama ini kamu pandangi dalam acara-acara off air. Bicara saja sama kamera…. Ia (kamera) itu ‘mewakili ‘ penonton di rumah,” imbuh saya.
“Rileks, tarik nafas… Bicara sama kamera, itu lawan bicaramu, senyum sama kamera…. Dia mewakili penonton!” Kata-kata itu saya kemukakan berulang-ulang di sela-sela jeda iklan selama acara talkshow berlangsung.
Sang presenter memang tampak nervous, demam panggung! Seringkali ia salah ucap. “Bicara agak pelan, jangan cepat-cepat, santai aja…!” saran saya.
Untuk mengurangi kegugupannya, saya juga ajak dia bercanda selama obrolan berlangsung. “Terima kasih, Kang … gurauan akang sangat mencairkan suasana…” akunya saat jeda iklan. “Ya, rileks aja… wawancara ini kan seperti obrolan sehari-hari, cuma tema obrolannya fokus pada tema tertentu,” ujar saya.
Saat jeda iklan, saya pun membantunya membuatkan pertanyaan ketika saya lihat list pertanyaannya hampir habis.
Alhamdulillah, acara berlangsung lancar. Selesai siaran, sang produser berkata: “Bagus teh, tinggal poles dikit, kirim aja lamaran dan CV ke sini…” katanya sambil mengacungkan jempol, mengapresiasi penampilan “sang presenter dadakan” itu.
Ah, saya mungkin sok tahu, padahal saya juga baru pertama kali bicara di depan kamera TV. Namun, saya sudah terbiasa bicara di studio radio, jadi bedanya cuma dikit antara bicara di depan mikrofon studio radio dengan di depan kamera TV. So…. Saya, alhamdulillah, tidak terkena demam panggung.
Cuma agak sedikit bingung memang, di mana harus “menyimpan” kedua tangan saya ketika saya tidak berbicara (setting kursi tanpa meja soalnya…, saya juga tidak pegag apa-apa –buku, kertas, pulpen….). Kalo sedang bicara, saya gunakan gesture tangan. Alhamdulillah, kata kawan-kawan yang nonton, saya seperti sudah terbiasa tampil di layar kaca (ah… bikin ge-er aja…!).
Dari pengalaman itu saya makin yakin, bahwa untuk menjadi presenter TV, bisa dimulai dari karier sebagai penyiar. Yang penting lancar berbicara! (Presenter TV yang memulai karier sebagai penyiar, bisa komentari hal ini, silakan….!).
Saya jadi ingat dua tahun lalu, ketika harus membimbing seorang calon presenter TV yang bahkan tidak punya pengalaman sebagai penyiar. Ia hanya biasa menjadi MC.
Uniknya, saya sendiri belum pernah jadi presenter, hanya bermodal pengalaman sebagai penyiar, saya bimbing dia, saya latih dia, bahkan sering saya buatkan script siarannya.
Hasilnya, alhamdulillah, kini dia sudah tidak usah lagi telpon atau SMS saya kalo mau siaran di TV tersebut. Dia lancar sekarang, malah kian lincah saja…. Alhamdulillah.
Nah, bagi Anda yang mau menjadi presenter, baiknya memang ikut diklat presenter TV atau sekolah broadcast TV. Tapi, bisa juga sekadar ikut diklat penyiar.
Yang penting: lancar bicara! Yuk, kita gabung dengan Diklat Penyiar SHINTA BROADCASTING SCHOOL (SBS) di Radio Shinta 97.2 FM Bandung (www.shintabroadcast.co.nr), Tlp. 7811777, 7811888. Biayanya cuma Rp 750 ribu buat diklat selama 3 bulan. Praktek siaran langsung on air di acara ZONA SBS tiap Selasa malam.
Ayo, buruan daftar….! Insya Allah, pengalaman kedua presenter TV yang saya ceritakan tadi bisa Anda alami. Bahkan, kedua presenter cantik itu bisa saya datangkan untuk berbagi pengalaman dengan Anda. (www.romeltea.com).*
Tulisan Lainnya:
Tags: Penyiar, presenter, Radio, TV
Print This Post
Asep Syamsul M. Romli a.k.a Romel tea --akrab disapa Kang Romel-- adalah komunikator profesional -wartawan, penulis buku-buku komunikasi praktis, editor, penyiar radio, konsultan media, public speaker, dan trainer-motivator yang siap berbagi dalam pelatihan jurnalistik, menulis, siaran radio, public speaking, MC, public relation (humas), media sosial, dll. Dosen luar biasa mata kuliah ilmu komunikasi. Sering menjadi pemateri di berbagai diklat internal instansi pemerintah/swasta. Kontak saja: romeltea@yahoo.com
Tetap update berita/artikel di mana pun dari Romeltea Magazine dengan mengetikkan www.romeltea.com di browser ponsel Anda!
wah, saya baru baca ini, tapi seru sekali pengalamannya. boleh kita berbagi ? saya juga berawal dari penyiar radio di Banten, sekarang saya sudha menjadi presenter Tv lokal di Banten juga. Alhamdulilah, penyiar radio meang bisa menghantarkan seseorang ke dunia televisi. Dengan pengalaman saya yang sering berbicara di depan mickrofon da peralatan radio lainnya, mmebuat saya berani berbicara di depan kamera. sebenarnya memang tekniknya tak berbeda jauh antara penyiar radio dengan presenter TV.
Salut tuh untuk murid presenter yang awalnya dari MC,….koq bs ya jd presenter ??? Alhamd kang romel gak direpotin lagi dunk ama dia hehe….
(*) he he….
Salam kenal , Tulisannya bagus . Saya suka sekali ngomongin ttg penyiar . Betul Penyiar Radio itu ibaratnya mata uang yang berlaku dimana-mana
(*) Salam kenal kembali, bung… terimakasih.
Reuwas nih, pas nonton tv lokal Rabu (19/9) sore saya kira ada kiyai baru yang jadi narasumber, ternyata kiyai jurnalistik
Penampilan perdananya bagus kang, seperti sudah biasa, baju dan pecinya juga keren, hehe. Sukses jenderal !
(*) He he…. hatur nuhun, terima kasih, atas apresiasi dan dukungannya… Bajunya tuh baju lebaran, tapi karena mau tampil di tv, ya dipake duluah deh… pecinya kata orang mah kurang mecing ama bajunya, mestinya peci coklat… Ok brother, thanks and good luck …. ! Amin…