Saturday, May 19th, 2012

Jangan Anggap Sepele Tata Bahasa!

Published on January 6, 2012 by | 1 Views |   ·   6 Comments

bahasa_mediaDIKISAHKAN, Umar bin Khathab pernah menganjurkan Abu Musa Al-Asy’ari agar mencambuk juru tulisnya karena melakukan kesalahan dalam menulis kata “min Abu…” (seharusnya “min Abi…” sesuai dengan kaidah tata bahasa Arab).

Khalifah Umar juga pernah memarahisekelompok orang yang sedang belajar memanah karena mengucapkan “Inna Qoumun muta’allimin” (seharusnya “…muta’allimun”). Umar berkata, “Demi Allah, kesalahan kalian dalam bertutur kata, bagiku lebih berbahaya dari pada kesalahan kalian dalam mengarahkan anak panah!” (www.taufikhamim.com).

Kemarahan Umar dapat dipahami karena bahasa Arab adalah bahasa Al-Quran. Orang Arab pula yang mestinya lebih fasih dan baik dalam berbahasa Al-Quran itu.

Dalam konteks bahasa Indonesia, siapa yang harus marah seperti Umar ketika ada orang yang salah berbahasa Indonesia? Lembaga negara atau instansi pemerintah mana yang harus membimbing dan menjaga tata bahasa Indonesia?

Parahnya lagi, kemampuan berbahasa Indonesia wartawan atau media massa kita “payah”. Wartawan sering melanggar kaidah tata bahasa, termasuk penulisan kata baku dan tidak baku. Anehnya, hal itu terus berlangsung dan terkesan dibiarkan sehingga menimbulkan “salah kaprah”.

Contohnya, coba Anda baca koran hari ini, juga edisi sebelum dan sesudahnya. Tolong temukan kata “sementara itu”. Ada…? Banyak! Lalu coba nyalakan televisi atau radio. Dengarkanlah, apakah presenter mengucapkan kata “dan juga”? Ada…? Sering!

Coba cari juga kalimat yang polanya seperti ini “kampus ini lulusannya mudah bekerja” (mestinya: lulusan kampus ini mudah bekerja); “ia melakukan penelitian” (mestinya, untuk menghemat kata/kalimat: ia meneliti….).

Mengapa saya “ngurusin” masalah itu ya? ‘Kan itu tugas para pemimpin redaksi, editor/redaktur bahasa, utamanya lembaga bahasa atau pemerintah! Saya ‘kan tidak digaji oleh uang negara/uang rakyat! Lagi pula, yang penting mah orang/pembaca ngerti deh apa yang kita tulis atau ucapkan, ya ‘gak?

Begini aja deh, saya mengimbau, wahai lembaga bahasa, gencar dong sosialisasikan dan kampanyekan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Daftar kata baku dan tidak baku ‘kan sudah disusun, tapi masih banyak yang melanggar tuh. Sebagai “ulil amri” dalam hal bahasa Indonesia, bertindaklah! Wasalam. (www.romeltea.com).*

Tulisan Lainnya:

  1. Persetan dengan Tata Bahasa, Yang Penting Orang Ngerti!
  2. Menyunting Naskah: Kuasai Tata Bahasa
  3. Jangan Nulis ‘dan’ di Awal Kalimat
  4. Pengertian Bahasa Jurnalistik
  5. Penyimpangan Bahasa Jurnalistik

Tags: , , , , ,

Print This Post Print This Post

About Romeltea:

Asep Syamsul M. Romli a.k.a Romel tea --akrab disapa Kang Romel-- adalah komunikator profesional -wartawan, penulis buku-buku komunikasi praktis, editor, penyiar radio, konsultan media, public speaker, dan trainer-motivator yang siap berbagi dalam pelatihan jurnalistik, menulis, siaran radio, public speaking, MC, public relation (humas), media sosial, dll. Dosen luar biasa mata kuliah ilmu komunikasi. Sering menjadi pemateri di berbagai diklat internal instansi pemerintah/swasta. Kontak saja: romeltea@yahoo.com


Tetap update berita/artikel di mana pun dari Romeltea Magazine dengan mengetikkan www.romeltea.com di browser ponsel Anda!


Readers Comments (6)

  1. Kang Romel, terima kasih. Masya Allah, karena terinspirasi dari tulisan-tulisan Akang, saya menulis artikel seperti ini. Kiranya Akang berkenan untuk berkunjung ke laman saya. :-D  

  2. romeltea says:

    Buat Bung inung, soal penggunaan kata “sementara itu” sudah saya kupas juga di blog ini. Silakan “search”… Intinya, kata “sementara itu” tidak usah digunakan karena tidak bermakna apa-apa. Kata “sedangkan” termasuk kata sambung, maka tidak boleh ada di depan kalimat, harus di tengah kalimat yang disambungkannya. Misalnya, “Presiden berkunjung ke Bandung sedangkan Wakil Presiden meresmikan….”

  3. ademalsasa says:

    Bahasa adalah alat komunikasi nomor satu!

    Jadi kalau manusia ingin berhubungan dengan manusia lain, maka harus mengerti bahasa.

    Jika bahasa sudah rancu, rusak, dan tidak beraturan (kebanyakan disingkat dan disalahkaprahkan) maka suatu saat manusia akan sulit berkomunikasi satu sama lain.

    Bagaimana bisa rusak? Karena malas, bodoh, dan tidak cinta bahasa.

    Aku dukung judul posting ini!!! Kang Romeltea, mohon moderasi kalau ada salah ketik.
    ;)

  4. indy says:

    Para pejabat dan orang-orang terkenal di negeri ini pun harus ”dipaksa” menggunakan bahasa Indonesia yang benar agar kesalahkaprahan tidak semakin merajalela

  5. inung says:

    Kang Romel

    Penggunaan ‘sementara itu’ tidak tepat dan biasanya kata itu digunakan untuk menyambung kalimat: Sementara itu, Agus Pakpahani juga akan membangun galangan kapal…. Nah, bagaimana sebaiknya kita menyambung kalimat?

    Oya, apakah penggunaan ‘sedangkan’ juga salah atau boleh dipakai? Misalnya: Sedangkan di Jawa Barat juga dilakukan operasi …

    Trims

    Inung di Kebayoran baru, Jakarta

  6. FnD says:

    Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Wah..saya jadi teringat hal yang sama juga sering Jaya Suprana sampaikan di salah satu rubik kelirumologi di majalah Intisari..

    Bahasa memang punya kekuatan tersendiri, lebih tajam dari pedang!




Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.




POSTING TERBARU



KOMENTAR

My Links



Adsense Indonesia



WEB STATS

  • 946106Total reads:
  • 103Today:
  • 759Yesterday: