“Sstt…Facebook Islami Tak Hanya ‘Jualan’ Sarana Pertemanan Saja Lho”, “Alhamdulillah, Komunitas Muslim British Columbia Bangun Masjid Pertama”, “Gawat… Wilders Siapkan Buku tentang Islam”.
Judul-judul berita di atas bisa ditemukan di situs republika.co.id. Saya menyebutnya “judul berita centil” atau “genit” –untuk tidak mengatakan “lebay”.
Secara jurnalistik, judul-judul tersebut bisa dikatakan mengandung opini atau “mencampuradukkan fakta dan opini”. Kata-kata “Sttt… lho”, “Alhamdulillah”, dan “Gawat…” menggambarkan opini wartawan.
Boleh? Menurut kode etik jurnalistik sih tidak boleh. Mestinya “datar” saja, seperti “Facebook Islami Tak Hanya ‘Jualan’ Sarana Pertemanan”, “Komunitas Muslim British Columbia Bangun Masjid Pertama”, dan “Wilders Siapkan Buku tentang Islam”. Lebih “netral” ‘kan?
Tiap kali membaca judul berita demikian, saya merasa berdosa, “guilty feeling”, sekaligus ke-ge-er-an. Pasalnya, saya termasuk yang “mengusulkan” penulisan judul berita semacam itu dalam buku Jurnalistik Dakwah: Visi dan Misi Dakwah Bil Qolam terbitan Rosdakarya Bandung –yang sudah bertahun-tahun tidak ada kabar tentang royaltinya (sms, tlp, inbox facebook, tidak ditanggapi, mungkin harus “diontrog” langsung ya…? Belom sempet euy…!).
Saya akan merevisi buku tersebut dan menghapus “usulan” penulisan judul berita Islami seperti itu. Dalam buku itu saya bilang begini:
“…berita Islami adalah laporan faktual atau informasi tentang sebuah peristiwa yang berdimensi Ilahi. Peristiwa atau fakta yang ditulis diarahkan untuk tidak sekadar menyajikan informasi, tetapi juga mengingatkan pembaca akan Allah SWT dan ajaran-Nya (Islam).
Dalam dunia jurnalistik, berita demikian bisa dimasukkan ke dalam kategori “berita interpretatif” (interpretative news), yakni berita yang berisi gabungan antara penuturan fakta dan komentar, ulasan, atau penafsiran penulisnya. Mari kita simak contoh berikut:
- Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. K.H. Fulan meninggal dunia kemarin pagi. ia merupakan tokoh Islam yang dikenal lugas dan berani menyuarakan aspirasi umat sehingga umat Islam merasa kehilangan.
- Allahu Akbar! Seorang anak balita selamat tanpa cedera apa pun dalam sebuah kecelakaan mobil di Jl. Anu Bandung kemarin. Padahal, penumpang lainnya tewas dan luka berat karena kerasnya tabrakan.
- Musibah adalah ujian bagi kaum mukmin. Sebuah rumah ludes terbakar “si jago merah” di Jl. Anu Bandung kemarin. Kebakaran diduga akibat…dst.
Nah, sudah lama saya sadari, itu bukan contoh judul dan lead berita yang benar secara jurnalistik karena mengandung opini. Kategorinya juga bukan masuk dalam kategori “berita interpretatif”.
Judul dan lead itu tepatnya buat tulisan feature atau artikel opini, bukan untuk berita. Janji deh, saya akan revisi pada terbitan berikutnya (nunggu kabar dulu dari Rosdakarya). Wasalam. (www.romeltea.com).*
Tulisan Lainnya:
Tags: Berita, centil, fakta, judul, Opini, republika
Print This Post
Asep Syamsul M. Romli a.k.a Romel tea --akrab disapa Kang Romel-- adalah komunikator profesional -wartawan, penulis buku-buku komunikasi praktis, editor, penyiar radio, konsultan media, public speaker, dan trainer-motivator yang siap berbagi dalam pelatihan jurnalistik, menulis, siaran radio, public speaking, MC, public relation (humas), media sosial, dll. Dosen luar biasa mata kuliah ilmu komunikasi. Sering menjadi pemateri di berbagai diklat internal instansi pemerintah/swasta. Kontak saja: romeltea@yahoo.com
Tetap update berita/artikel di mana pun dari Romeltea Magazine dengan mengetikkan www.romeltea.com di browser ponsel Anda!