Ketua PWI: Wartawan Harus Disertifikasi

newspapers 250x187 Ketua PWI: Wartawan Harus DisertifikasiSeluruh wartawan maupun perusahaan media massa yang ada di Indonesia harus disertifikasi, guna menjaga profesionalisme.

“Untuk menjaga profesionalisme, wartawan maupun perusahaan media massa yang ada di Indonesia harus disertifikasi,” kata Ketua PWI Pusat, Maragiono ketika pembukaan konfercab PWI Sumbar di Padang, Senin (13/6/2011).

Menurutnya, sertifikasi bagi wartawan sudah menjadi kesepakatan bersama PWI, AJI, IJTI, serta Dewan Pers untuk dilaksanakan tahun 2011. Sertifikasi ini penting agar kualitas dan profesi wartawan dapat dipertanggungjawabkan.

“Profesi wartawan harus ada sertifikasinya. Sehingga ke depannya, tidak semua orang dan dengan begitu mudah dan gampangya menjadi wartawan. Ini semua untuk meningkatkan kualitas wartawan,” katanya.

Dia menambahkan, tim penguji sertifikasi bagi wartawan yakni, Dewan Pers, Lembaga Pendidikan Pers Dr Sutomo, perguruan Tinggi yang memiliki jurusan Jurnalistik minimal 10 tahun.

“Wartawan yang mengikuti sertifikasi akan diuji beberapa hal terutama pengetahuan umum dan pemahaman kode etik jurnalistik. Mereka yang tidak memenuhi standarisasi tidak akan diberi sertifikat oleh tim penguji,” katanya.

Dia mengatakan, sejak ditetapkannya UU Pokok Pers Nomor 40 tahun 1999, jumlah wartawan yang ada di Indonesia tumbuh pesat.

Saat ini ada sekitar 100.000 orang wartawan di seluruh Indonesia. Sebanyak 70.000 diantaranya belum bisa dikatakan profesional. Sangat kurang yang paham kode etik. “Memang banyak pelanggaran yang terjadi disebabkan wartawan tidak paham kode etik jurnalistik,” kata Margiono.

Dia menambahkan, wartawan juga, jangan memanfaatkan profesinya untuk hal-hal yang menyimpang dari kode etik atau peraturan perundang-undangan yang berlaku, Wartawan harus mempertahankan martabatnya, karena itu akan membuat wartawan itu besar.

“Banyak konsekwensi dan resiko yang akan dihadapi wartawan dalam prakteknya dilapangan, dan oleh karenanya, wartawan harus berorganisasi atau berkecimpung diorganisasi kewartawanan,” kata Margiono.

Menyinggung standar kompetensi wartawan (SKW), Margiono mengatakan, pemberlakuan kompetensi juga ada tahapannya, yaitu wartawan Muda, Madya, dan Utama.

“Kompetensi wartawan yang paling dasar yakni kompetensi wartawan muda. Setelah tiga tahun menjalani jenjang kompetensi wartawan muda, dapat mengikuti ujian jenjang kompetensi wartawan Madya, lalu setelah dua tahun menjalani jenjang kompetensi wartawan madya dapat mengikuti uji kompetensi wartawa utama,” kata Margiono. (KOMPAS.COM).*

pf button both Ketua PWI: Wartawan Harus Disertifikasi

WARNING !!! Halal, diizinkan, dibolehkan copy paste & kutip tulisan di atas dengan mencantumkan sumber www.romeltea.com. Copy Paste/kutip tulisan tanpa menyebutkan sumber = Plagiarism/Plagiat dan Penalty Google! Dapat terlacak dengan "Copyscape Tools" dan "Plagiarism Checker". Untuk dibaca offline, klik PRINT/PDF.

Konten blog ini sering di-COPY PASTE blogger lain tanpa mencantumkan sumber. Jika Anda butuh copy tulisan ini untuk kepentingan pendidikan dan non-komersial, silakan "request" di Kolom Komentar atau di Buku Tamu.

Incoming Search:sertifikasi kewartawanan » »

RSS Subscribe via Email

Baca Tips Komunikasi Praktis, Teknik Menulis, Teknik Jurnalistik, Public Speaking, Siaran Radio, Tips Humas, Tips Blogging, Teknik MC, Langsung di Email Anda. Gratis!!!

About romeltea

Asep Syamsul M. Romli --akrab disapa Kang Romel-- adalah praktisi, trainer, dan konsultan media. Profil lengkap dapat dilihat di menu "My Profile" dan buku-buku yang ditulisnya dapat dilihat di menu "My Books".

Tulis Komentar

*