Koes Plus: Legenda Musik Indonesia

Koes Plus adalah Grup Musik Legenda Indonesia. Pemerintah sudah mengakui hal itu melalui Piagam dari Kementerian Pemuda dan Olahraga pada 31 Januari 2009. Koes Plus juga meraih penghargaan “Legend Basf Award” tahun 1992.

Grup musik yang terkenal pada dasawarsa 1970-an ini sering dianggap sebagai pelopor musik pop dan rock ‘n roll di Indonesia. Mereka menulis tidak kurang dari 953 lagu yang terhimpun dalam 89 album.

Sejarah Koes Plus dimulai dengan pendirian grup band Teen Ager’s Voice (1952), Irama Remaja, Koes & Bros, Koes Bersaudara (1960), dan Koes Plus (1969).

Saya merasa beruntung bisa menjadi penyiar acara khusus lagu-lagu Koes Plus sejak 2005, yaitu di Radio Antassalam 103,9 FM Bandung (s.d. tahun 2007) dalam acara “Koes Plus Request” dan di Radio Shinta 97,2 FM Bandung sejak 2008 hingga 2012 dalam acara “Dheg Dheg Plas”, tiap hari Minggu, jam 3-6 sore.

DENGARKAN KOES PLUS DI RADIO ONLINE

Sejarah Koes Plus
Koes Plus memulai kisah perjalanannya yang panjang di dunia musik dengan band Teen Ager’s Voice yang dibentuk Tonny Koeswoyo sekitar tahun 1952. Setelah bertukar nama menjadi Irama Remaja dengan anggotanya Sophan Sophian, band ini terpaksa dikubur untuk kemudian Koes & Bros. Dalam grup terbaru anak2 pak Koeswoyo itu terselip pula nama Jan Mintaraga yang sekarang dikenal sebagai pelukis komik.

Tahun 1960 nama Koes & Bros diubah menjadi Koes Bersaudara dengan formasi Koestono Koeswoyo (melodi), Koesnomo Koeswoyo (drum), Koesjono Koeswoyo (rhytem,vocal), Koesroyo Koeswoyo (bass, vocal). Nama-nama ini kemudian dikenal sebagai Tonny, Nomo, Jon, dan Jok, yakni 4 dari 9 putra-putri (yang seorang telah meninggal) Koeswoyo, pensiunan Departemen Dalam Negeri.

Dua tahun kemudian, Koes Bersaudara mendapat kesempatan merekam lagu-lagunya di perusahaan piringan hitam Irama milik Mas Yos (El-Shinta) dengan juru rekamnya Freddy Bulek. Tidak kurang dari 20 lagu Koes Bersaudara membombardir kehebatan “patah hati”-nya Rahmat Kartolo yang waktu itu menguasai pasaran musik Pop Indonesia.

Dengan bermodalkan lirik dan melodi yang sederhana, kuat, dan komunikatif, anak-anal Pak Koeswoyo itu berhasil menarik perhatian publik. Dalam bahasa iklan, dapatlah dikatakan perhatian pendengar beralih kepada mereka. Namanya terkatrol naik ke tempat teratas lewat lagu-lagu manis, seperti Dara Manisku, Bis Sekolah, Pagi yang Indah, Telaga Sunyi, dan Kuduslah Cintaku.

Udara musik Indonesia mulai diimbau oleh keserasian duet Jon dan Jok yang mengingatkan orang pada penyanyi Everly Brothers. Pengaruh “luar “ itu bukan saja hinggap pada gaya nyanyi mereka tapi juga pada lagunya. Kita lihat misalnya lagu Di Pantai Bali yang dijiplak mentah-mentah dari sebuah lagu Hawaii.

Gaya main yang tenang mengasyikkan dari Koeswoyo Junior kian memanas ketika wabah Beatles merasuki mereka. Tonny, Nomo, Jon, dan Jok bergoyang-goyang diombang-ambingkan lagu Jhon lennnon cs. Tanpa terbendung lagi, mereka terbawa arus musik “ kontra revolosioner” hingga masuk dalam kamar 15 penjara Glodok selama 3 bulan dan baru melihat dunia bebas lagi 2 hari menjelang meletusnya Gestapu.

Pengalaman pahit itu merupakan kenangan yang paling berharga dalam perjalanan kariernya di dunia musik: yang disertai juga rasa bangga dihati Koes Bersaudara, karena baru band merekalah yang mendapat kesempatan disebut-sebut dalam pidato kenegaraan Bung Karno. Itu terjadi pada 17 Agustus 1965. “…..Jangan seperti kawan-kawanmu, Koes Bersaudara. Masih banyak lagu-lagu Indonesia, kenapa musti Elvis-Elvisan?” kata Bung Karno.

Oleh-oleh dari bui direkamnya dalam plat ebonite. Keluarlah lagu sendu seperti Mengapa, Hari Telah Gelap, Di Dalam Bui, Balada Kamar 15, Jadikanlah Aku Dombamu, Voorman, Untuk Ayah dan Ibu. Dalam periode itu nyata sekali kelebihan mereka. Meski gaya Beatles masih mengganduli Koes Bersaudara, tetapi sebagian besar lagu yang lahir sesudah lepas dari bui itu terpengaruh oleh bule lain: Bee Gees.

Dalam rangkaian ini pula mereka menelurkan lagu-lahu berhasa Inggris, eperti Tree little word, The Land of Evegreen, dan The Old Man.

Kelahiran Koes Plus
Tahun 1968-1969 merupakan saat-saat surut bagi Koes Bersaudara. Perbedaan pendapat yang diawali pada 1968 antara Tonny Koeswoyo dan adiknya, Nomo, kian meruncing. Nomo yang rupanya berjiwa bisnis itu menginginkan agar Koes Bersaudara tidak mengandalkan hidupnya pada musik melulu, harus ada usaha lain. Pendapat ini tidak disetujui, akhirnya di tahun 1969 mereka menempuh jalanya sendiri-sendiri. Nomo menjadi pedagang,

Sedangkan Tonny bersama adik-adiknya yang lain meneruskan kariernya di bidang musik. Lahirlah kemudian nama Koes Plus dengan Murry (eks. personel Band Patas milik Kejaksaan ) sebagai faktor plusnya menggantikan kedudukan Nomo sebagai drumer.

Penggantian atribut menjadi Koes Plus membawa Tonny ke jenjang yang lebih dewasa. Di bawah naungan nama Koes Plus itulah beberapa lagunya menjadi populer, antara lain Kembali ke Jakarta dan Derita.

Tonny mulai menukarkan gitarnya dengan organ. Album ini disusul dengan album kedua yang mengorbitkan lagu-lagu Kisah Sedih di Hari Minggu, Andaikan Kau Datang, Hidup yang Sepi, dan Rahasia Hatiku. Sayang, album ini “dirusak” oleh lagu-lagu semacam Pencuri Hati dan Jangan Selalu Marah yang lirik dan melodinya “berantakan”.

Kecenderungan memasukan unsur Jazz dimulai pada album keduanya, semakin jelas di album berikutnya. Dalam album ke-3 yang judul lagunya banyak menggunakan kata ”hati” itu kita bisa mendengar lagu-lagu Selamat Berpisah, Isi Hatiku, Hati yang Suci, dan Kasih yang Suci. Di album inilah Murry memperlihatkan kemantapanya menabuh drum.

Dalam jarak yang tidak terlampau jauh keluar lagi album ke-4 Koes Plus yang memunculkan lagu-lagu ciptaan Jon (Jeritan Hati, Termenung Lesu, Bunga di Tepi Jalan),  Jok (Why Do You Love Me, Jangan Sedih, dan Kembalilah), serta Murry dengan lagu ciptaanya, Bertemu dan Berpisah.

Di album ke-6 Koes Plus melemparkan kepasaran kurang dari 6 lagu bersyair bahasa Inggris, yang kesemuanya tidak memenuhi sasaran. Mungkin hanya lagu Sonya yang dibuat Jok untuk orang yang paling dekat di hatinya, Sonya Tulaar, istrinya. Namun, lagu ini tiga tahun kemudian, 1974, menimbulkan kenangan pahit bagi Jok: Sonya tewas akibat kecelakaan mobil.

Masa Keemasan
Tahun 1972 Koes Plus melakukan sesuatu yang baru dalam musiknya. Eksperimannya dalam menonjolkan beat keroncong dan beat topeng yang disisipkan tetabuhan, cukup menimbulkan rasa girang. Hal itu bisa kita nikmati dari lagu Kr. Pertemuan dan Mari-Mari.

Sampai dengan album ini Tonny masih menyeret ciri bermanis-manisnya, seperti yang terungkap dalam lagu-lagu Malam yang Indah, Manis dan Sayang, serta Nama yang Manis.

Untuk kesekian kalinya Koes Plus gagal membawakan lagu-lagu bersyair bahasa Inggris. Bukan saja lagunya tidak sedap didengar telinga, tapi juga lidah Jawa Koes Plus tidak pernah klop dengan lagu-lagu berbahasa Inggris.

”Saya selamanya segan nyanyi lagu-lagu Barat, tapi saya seolah dibayangi terus oleh para penggemar kami yang menginginkan kami menyanyikan lagu tersebut,” ucap Tonny suatu ketika.

Tahun 1973 ditandai oleh adanya lingkungan hidup baru bagi grup paling beken di Indonesia itu, yang ternyata membawa kecemerlangan materi bagi personel Koes Plus. Tahun 1973 itulah mereka pindah kandang dari fabrik PH Dimita ke perusahaan rekaman Remaco. Perpindahan ini membawa pengaruh besar bagi Koes Plus: betapa tidak jika tadinya mereka terbiasa oleh sistem 2 track-nya, Dimita kini mereka beralih menggunakan 4 track-nya Remaco dengan headphone yang lebih gede dan anyar.

Untuk pertama kalinya, pada 23 Juli 1973, mereka mulai mencetak lagu-lagunya di Remaco. Hasilnya dikenal sebgai LP VIII, antara lain berisi lagu Kolam Susu dan Nusantara II. Di Remaco inilah dimulai seri Nusantara-nya Koes Plus. Sedangkan lagu Kolam Susu cukup diberi anggukan kepala dari sekian banyak perbauran lagu-lagu Koes Plus yang bergerak di antara jalur mutu dan komersil.

Bagi Koes Plus hasil LP ini lebih dari cukup yang membuat iri rekan-rekan seprofesi lainnya. Betapa tidak, begitu selesai mereka merekam LP VIII-nya, mobil Merc 220 model terakhir (waktu itu) telah nongkrong dalam garage markas Koes Plus di Cipete, menggantikan kedudukan Fiat 1400-nya.

Melihat Kolam Susu-nya, orang tadinya berharap Koes Plus menjadi pelopor sebagai pembuat lagu-lagu yang berbobot dan komersil. Sebab dengan mendengarkan Kolam Susu, segolongan anak muda mulai menaruh kepercayaan akan omongan yang pernah dilontarkan Paul Simon: ”Musik bukan hanya sekadar teriak-teriak kosong antiperang, tapi musik sama halnya dengan syair, merupakan ekpresi pribadi, bukan produk dari suatu golongan mana pun monopoli orang-orang industri atau cukong rekaman ”.

Namun, harapan muluk yang digantungkan kepada Koes Plus itu lenyap disapu salju Christmas Song 1973 yang teramat jelek.

Sejak saat itulah roda mesin Koes Plus diputar semakin cepat untuk memenuhi target fabrikan. Dalam hitungan waktu yang amat pendek, berhamburanlah produk mereka: ada Pop jawa, Keroncong Pop, Pop Anak-Anak, dan Pop Melayu (dimulai akhir Juli 1974 ) yang masing-masing bervolume. Belum lagi volume berikutnya: 9, 10, 11, 12, dan yang terakhir volume 13 yang diseling lebih dulu oleh LP lagu-lagu berbahasa Inggrisnya (Another Song for You) yang rusak.

Legenda Musik Indonesia
Lagu-lagu Koes Bersaudara dan Koes Plus masih digemari hingga kini. Lagu-lagu mereka banyak dibawakan oleh pesmusik lain dengan aransemen baru. Sebagai contoh, Lex’s Trio membuat album yang khusus menyanyikan ulang lagu-lagu Koes Plus, Cintamu T’lah Berlalu yang dinyanyikan ulang oleh Chrisye, serta Manis dan Sayang yang dibawakan oleh Kahitna, Andaikan Kau Datang oleh Ruth Sahanaya, dan Kisah Sedih di Hari Minggu oleh Marshanda.

Personel Koes Bersaudara 1960 -1963
1.    John Koeswoyo – (Koesdjono)
2.    Tonny Koeswoyo – (Koestono)
3.    Yon Koeswoyo – (Koesjono)
4.    Yok Koeswoyo – (Koesrojo)
5.    Nomo Koeswoyo – (Koesnomo)

Personel Koes Bersaudara 1963 – 1968
1.    Tonny Koeswoyo
2.    Yon Koeswoyo
3.    Yok Koeswoyo
4.    Nomo Koeswoyo

Personel Koes Plus 1969 – 1987
1.    Tonny Koeswoyo
2.    Yon Koeswoyo
3.    Yok Koeswoyo
4.    Murry – (Kasmurry)

Personel  Koes Plus saat ini
1.    Yon Koeswoyo
2.    Danang
3.    Sony
4.    Seno

Masuk Penjara
Pada Kamis 1 Juli 1965, sepasukan tentara dari Komando Operasi Tertinggi (KOTI) menangkap kakak beradik Tony, Yon, dan Yok Koeswoyo dan mengurung mereka di penjara Glodok, kemudian Nomo Koeswoyo atas kesadaran sendiri, datang menyusul.

Adik Alm Tony Koeswoyo itu rupanya memilih “mangan ora mangan kumpul” ketimbang berpisah dari saudara-saudara tercinta. Adapun kesalahan mereka adalah karena selalu memainkan lagu – lagu The Beatles yang dianggap meracuni jiwa generasi muda saat itu. Sebuah tuduhan tanpa dasar hukum dan cenderung mengada ada, mereka dianggap memainkan musik “ngak ngek ngok” istilah Pemerintahan berkuasa saat itu, musik yg cenderung imperialisme pro-Barat.

Dari penjara justru menghasilkan lagu-lagu yang sampai saat sekarang tetap menggetarkan, Di Dalam Bui, Jadikan Aku Dombamu, To The So Called The Guilties, dan Balada Kamar 15.

Pada 29 September 1965, sehari sebelum meletus G 30 S-PKI, mereka dibebaskan tanpa alasan yang jelas. Belakangan setelah peristiwa itu berlalu, Koes Bersaudara yang masih hidup dan menginjak usia tua, melakukan testimoni di depan pemirsa acara talkshow Kick Andy (Metro TV) pada akhir 2008: di balik penangkapan mereka sebenarnya pemerintahan Soekarno menugaskan mereka dalam sebuah operasi “Kontra Intelejen” guna mendukung gerakan Ganyang Malaysia!

Pelopor Musik Pop di Indonesia
Koes Plus dan Koes Bersaudara harus dicatat sebagai pelopor musik pop di Indonesia. Sulit dibayangkan sejarah musik pop kita tanpa kehadiran Koes Bersaudara dan Koes Plus.

Tradisi membawakan lagu ciptaan sendiri adalah tradisi yang diciptakan Koes Bersaudara. Kemudian tradisi ini dilanjutkan Koes Plus dengan album serial volume 1, 2 dan seterusnya. Begitu dibentuk, Koes Plus tidak langsung mendapat simpati dari pecinta musik Indonesia. Piringan hitam album pertamanya sempat ditolak beberapa toko kaset. Mereka bahkan mentertawakan lagu Kelelawar yang sebenarnya asyik itu.

Kemudian Murry sempat ngambek dan pergi ke Jember sambil membagi-bagikan piringan hitam albumnya secara gratis pada teman-temannya. Dia bekerja di pabrik gula sekalian main band bersama Gombloh dalam grup musik Lemon Trees.

Tonny yang kemudian menyusul Murry untuk diajak kembali ke Jakarta. Baru setelah lagu Kelelawar diputar di RRI orang lalu mencari-cari album pertama Koes Plus. Beberapa waktu kemudian lewat lagu-lagunya Derita, Kembali ke Jakarta, Malam Ini, Bunga di Tepi Jalan, hingga lagu Cinta Buta, Koes Plus mendominasi musik Indonesia waktu itu.

Dengan adanya tuntutan dari produser perusahaan rekaman maka group-group lain yang “seangkatan”, seperti Favourites, Panbers, Mercy’s, D’Lloyd menjadikan Koes Plus sebagai “kiblat”, sehingga grup-grup ini selalu meniru Koes Plus, pembuatan album di luar pop Indonesia, seperti pop melayu dan pop jawa menjadi trend grup-grup lain setelah Koes Plus mengawalinya. Ada pendapat, seandainya Koes Plus lahir di Inggris atau Amerika, bukan tidak mungkin akan menggeser popularitas Beatles.

Lagu-lagu di album Volume 1-8, seperti Nusantara I, Oh Kasihku, Mari-Mari, Diana, dan Kolam Susu merajai musik pop Indonesia waktu itu. Puncak kejayaan Koes Plus terjadi ketika mereka mengeluarkan album Volume 9 dengan lagu yang sangat terkenal Muda-Mudi (yang diciptakan Koeswoyo, bapak Tonny, Yon, dan Yok), disusul lagu Bujangan dan Kapan-Kapan dari volume 10. Masih berlanjut dengan lagu Nusantara V dari album Volume 11 dan Cinta Buta (Volume 12).

Bersamaan dengan itu Koes Plus juga mengeluarkan album pop Jawa dengan lagu yang dikenal dari tukang becak, ibu-ibu rumah tangga, hinga anak-anak muda, yaitu Tul Jaenak dan Ojo Nelongso. Belum lagi lagu mereka yang berirama Melayu seperti Mengapa, Cinta Mulia, dan lagu keroncongnya yang berjudul Penyanyi Tua.

Sayang sekali di setiap album yang mereka keluarkan tidak ada dokumentasi bulan dan tahun, sehingga susah melacak album tertentu dikeluarkan tahun berapa. Bahkan tidak ada juga kata-kata pengantar lainnya. Album mereka baru direkam secara teratur mulai volume VIII setelah ditandatangani kontrak dengan Remaco. Sebelumnya perusahaan yang merekam album-album mereka adalah “Dimita”.

Pada tahun 1972-1976 udara Indonesia benar-benar dipenuhi oleh lagu-lagu Koes Plus. Baik radio atau orang pesta selalu mengumandangkan lagu Koes Plus. Barangkali tidak ada orang-orang Indonesia yang waktu itu masih berusia remaja yang tidak mengenal Koes Plus. Kapan Koes Plus mengeluarkan album baru selalu ditunggu-tunggu pecinta Koes Plus dan masyarakat umum.

Tahun 1972 Koes Plus sempat menjadi band terbaik dalam Jambore Band di Senayan. Semua peserta menyanyikan lagu Barat berbahasa Inggris. Hanya Koes Plus yang berani tampil beda dengan menyanyikan lagu “Derita” dan “Manis dan Sayang”.

Rekor Album
Tahun 1974 Koes Plus mengeluarkan 22 album, terdiri dari album lagu-lagu baru dan album-album “the best” termasuk album-album instrumentalia, yang dibuat dari instrument asli Koes Plus atau rekaman “master” yang kemudian diisi oleh permainan saxophone Albert Sumlang, seorang pemain dari group the Mercy’s.

Jadi, rata-rata mereka mengeluarkan 2 album dalam satu bulan. Tahun 1975 ada 6 album. Kemudian tahun 1976 mereka mengeluarkan 10 album. Mungkin rekor ini pantas dicatat di dalam Guinness Book of Record.

Hebatnya, lagu-lagu mereka bukan lagu ‘asal jadi’, tetapi memang hampir semua enak didengar. Bukti ini merupakan jawaban yang mujarab karena banyak yang mengkritik lagu-lagu Koes Plus cuma mengandalkan “tiga jurus”: kunci C-F-G.

Karena banyak jasanya dalam pengembangan musik, masyarakat memberikan tanda penghargaan terhadap prestasinya menjadi kelompok legendaris dengan diberikannya tanda penghargaan melalui “Legend Basf Award” tahun 1992.

Prestasi yang dimiliki disamping masa pengabdiannya dibidang seni cukup lama, produk hasil ciptaan lagunya pun memadai karena sejak tahun 1960 sampai sekarang berhasil menciptakan 953 lagu yang terhimpun dalam 89 album. Prestasi hasil ciptaan lagu untuk periode kelompok Koes Bersaudara sebanyak 203 lagu (dalam 17 album), sedang untuk periode kelompok Koes Plus sebanyak 750 lagu dalam 72 album (Kompas, 13 September 2001).

Salah satu anggota Koes Plus mengatakan bahwa mereka dibayar sangat mahal pada masa jayanya. Yon mengungkapkan bahwa pada tahun 1975 mereka manggung di Semarang. “Waktu itu pada tahun 1975, kami telah dibayar Rp 3 juta saat pentas di Semarang,” kenang dia. Padahal, saat itu harga sebuah mobil Corona tahun 1975 kira-kira Rp 3,750 juta. Bila dikurs saat ini bayaran tersebut kurang lebih sama dengan Rp 150 juta. (Suara Merdeka, 4 Mei 2001).

Waktu itu, Rp 3,5 juta sangat tinggi, mengingat mobil sedan baru Rp 3 juta. Jika dikurskan dengan nilai uang sekarang, jumlah itu sama dengan Rp 200 juta sampai Rp 300 juta. Jumlah penonton melimpah ruah tidak seperti sekarang, kenang Yon. (Suara Merdeka, 23 Oktober 2001).

Setelah itu popularitas Koes Plus mulai redup. Mungkin karena generasi sudah berganti dan selera musiknya berubah. Koes Plus vakum sementara dan Nomo masuk lagi menggantikan Murry, sekitar akhir 1976-an. Koes Bersaudara terbentuk lagi dan langsung ngetop dengan lagunya “Kembali” yang keluar tahun 1977. Murry bersama groupnya Murry’s Group juga cukup menggebrak dengan lagunya “Mamiku-papiku”.

Tidak bertahan lama, tahun 1978 kembali terbentuk Koes Plus. Lagu barunya, “Pilih Satu” juga langsung populer. Setelah itu keluar lagu “Cinta”, dengan aransemen orchestra, yang benar-benar berbeda dengan lagu Koes Plus yang lain. Kemudian populer juga album melayu mereka yang memuat lagu “Cubit-Cubitan” dan “Panah Asmara”. Tetapi Koes Plus generasi ini tidak lagi sepopuler sebelumnya. Walaupun, kalau disimak lagu-lagu yang lahir setelah 1978, masih banyak lagu mereka yang bagus.

Diskografi Koes Bersaudara
1962
1.    Dara Manisku;Jangan Bersedih/Dewi Rindu;Si Kancil (Irama)
2.    Selamat Berpisah/Selalu (Irama)
3.    Harapanku / Kuduslah Tjintamu (7″) (Irama NP-31)

1964
1.    Pagi Yang Indah/Oh Kau Tahu (Irama)
2.    Angin Laut/Aku Rindukan Kasihmu (7″) (Irama NP-33)
3.    Selalu / Awan Putih (7″) (Irama NP-34)
4.    Bis Sekolah / Gadis Puri (7″) (Irama NP-35)
5.    Aku Rindu / Sendja (7″) (Irama NP-36)
6.    Kus Bersaudara (Dari Berpita;Untuk Ibu/Bintang Ketjil;Dipantai Bali)(Irama EP-61)
7.    Meraju Kalbu (Oh Kau Tahu;Pagi Yang Indah/Aku Rindu;Awan Putih)(EP)
8.    Angin Laut;Aku Rindukan Kasihmu/Bis Sekolah Gadis Puri (EP)
9.    Angin Laut (Koes Bersauadra 1962-1964) (LP) (Dara Manisku; Djangan Bersedih; Harapanku; Dewi Rindu; Bis Sekolah; Pagi Jang Indah/Si Kantjil; Oh Kau Tau; Telanga Sunji; Angin Laut; Sendja; Selamat Berpisah)(Irama LPI 17573)

1967
1.    To The So Called “The Guilties” (Mesra)
2.    Djadikan Aku Domba Mu (Mesra MP-41)
3.    Dara Puspita / Kus Bersaudara – Pesta Pak Lurah; Halo Halo (Dara Puspita)/Ami; Senandung Malam Hari (Kus Bersaudara) EP Irama EPLN-2)

Diskografi Koes Plus
1969
1.    Koes Plus Dheg-dheg Plas (Melody. LP-23)

1970
1.    Natal bersama Koes Plus (EP) (mesra. EP-97)
2.    Koes Plus Volume 2 (Mesra. LP-44)

1971
1.    Koes Plus Volume 3 (Mesra. LP-48)

1972
1.    Koes Plus Volume 4 Bunga Di Tepi Jalan (Mesra. LP-50)
2.    Koes Plus Volume 5 (Mesra. LP-51)

1973
1.    Koes Plus Volume 6 (Mesra. LP-60)
2.    Koes Plus Volume 7 (Mesra. LP-65)
3.    Koes Plus Volume 8 (Remaco. RLL-187)
4.    Koes Plus Volume 9 (Remaco. RLL-208)
5.    Christmas Song (Remaco. RLL-210)

1974
1.    Koes Plus Volume 10 (Remaco. RLL-209)
2.    Koes Plus Volume 11 (Remaco. RLL-301)
3.    Koes Plus Volume 12 (Remaco. RLL-302)
4.    Koes Plus Qasidah Volume 1 (Remaco. RLL-341)
5.    Natal bersama Koes Plus (LP) (Remaco. RLL-342)
6.    Koes Plus The Best Of Koes
7.    Koes Plus Pop Anak-Anak Volume 1 (Remaco. RLL-306)
8.    Koes Plus Another Song For You (Remaco. RLL-348)
9.    Koes Plus Pop Melayu Volume 1 (Remaco. RLL-314)
10.  Koes Plus Pop Melayu Volume 2 (Remaco. RLL-347)
11.  Koes Plus Pop Jawa Volume 1 (Remaco. RLL-248)
12.  Koes Plus Pop Jawa Volume 2 (Remaco. RLL-311)
13.  Koes Plus Pop Keroncong Volume 1 (Remaco. RLL-299)
14.  Koes Plus Pop Keroncong Volume 2 (Remaco. RLL-300)
15.  Koes Plus Volume 8 (Instrumental)
16.  Koes Plus Volume 9 (Instrumental)
17.  Koes Plus Volume 10 (Instrumental)
18.  Koes Plus Volume 11 (Instrumental)
19.  Koes Plus The Best Of Koes (Instrumental)
20.  Koes Plus Pop Jawa Vol 1 (Instrumental)
21.  Koes Plus Pop Jawa Vol 2 (Instrumental)
22.  Koes Plus Pop Melayu Volume 1 (Instrumental)
23.  Koes Plus Pop Keroncong Volume 1 (Intrumental)

1975
1.    Koes Plus Volume 13 (Remaco. RLL-303)
2.    Koes Plus Volume 14 (Remaco. RLL-631)
3.    Koes Plus Selalu Dihatiku (Remaco. RLL-468)
4.    Koes Plus Pop Anak-Anak Volume 2 (Remaco. RLL-448)
5.    Koes Plus Pop Melayu Volume 3 (Remaco. RLL-390)
6.    Koes Plus Pop Jawa Volume 3
7.    Koes Plus Pop Melayu Volume 2 (Instrumental)

1976
1.    Koes Plus In Concert (Remaco. RLL-635)
2.    Koes Plus History Of Koes Brothers (Remaco. RLL-715)
3.    Koes Plus In Hard Beat Volume 1 (Remaco. RLL-717)
4.    Koes Plus In Hard Beat Volume 2 (Remaco. RLL-768)
5.    Koes Plus In Folk Song Volume 1 (Remaco. RLL-)
6.    Koes Plus Pop Melayu Volume 4 (Remaco. RLL-730)
7.    Koes Plus Pop Keroncong Volume 3 (Remaco. RLL-388)
8.    Koes Plus Pop Jawa Melayu (Remaco. RLL-633)
9.    Koes Plus Volume 12 (Instrumental)

1977
1.    Koes Plus Pop Jawa Volume 4

1978
1.    Koes Plus 78 Bersama Lagi (Purnama. PLL-2061)
2.    Koes Plus 78 Melati Biru (Purnama. PLL-2077)
3.    Koes Plus 78 Pop Melayu Cubit-Cubitan (Purnama. PLL-3055)

1979
1.    Koes Plus 79 Melepas Kerinduan (Purnama. PLL-323)
2.    Koes Plus 79 Berjumpa Lagi (Purnama. PLL-3040)
3.    Koes Plus 79 Aku Dan Kekasihku (Purnama. PLL-4022)
4.    Koes Plus 79 Pop Melayu Angin Bertiup (Purnama. PLL-4009)

1980
1.    Koes Plus 80 Jeritan Hati (Remaco. PLL-4044)

1981
1.    Koes Plus 81 Sederhana Bersamamu (Purnama. PLL-5091)
2.    Koes Plus 81 Asmara
3.    Koes Plus Medley 13 Th Karya Koes Plus
4.    Koes Plus 81 Pop Melayu Oke Boss
5.    Koes Plus Medley Dangdut 13 Th Karya Koes Plus

1982
1.    Koes Plus 82 Koperasi Nusantara
2.    Koes Plus 81 Pop Keroncong

1983
1.    Koes Plus 83 Da da da
2.    Koes Plus Re-Arrange I & II

1984
1.    Koes Plus 84 Angin Senja & Geladak Hitam
2.    Koes Plus 84 Palapa
3.    Memble
4.    Koes Plus Album Nostalgia Platinum 1
5.    Koes Plus Album Nostalgia Platinum 2
6.    Koes Plus Album Nostalgia Platinum (Intrumental)

1985
1.    Koes Plus 85 Senja Kelabu

1987
1.    Koes Plus 87 Cinta Di Balik Kota
2.    Koes Plus 87 Lembah Derita
3.    Milik Illahi

Catatan sejarah Koes Plus ini saya posting sekadar buat dokumentasi pribadi. Saya kutip dengan sedikit editing bahasa dari sumbernya, Wikipedia dan Majalah Top No. 26, yang sudah tersebar juga di banyak blog lain. Salam Jiwa Nusantara! Merdeka! (www.romeltea.com).*

Dapatkan Posting Terbaru via Email Anda! It’s Free!
Asep Syamsul M. Romli aka Romeltea --akrab disapa Kang Romel-- adalah praktisi, trainer, dan konsultan media. Profil lengkap di menu "My Profile". Karya tulis (buku) di menu "My Books". Kontak email: romeltea@yahoo.com. Follow @romeltea

1 Comment

  1. subur suwardjo

    December 30, 2012 at 5:22 am

    Salut buat band koes bersaudara atau koes plus yang sudah memberi inspirasi dan sebagai inspirator bagi bangsa, khususnya para pemuda Indonesia yang telah mengekspresikan musik di Indonesia sampai saat ini dengan baik.
    saya sebagai penggemar berat Koes Plus sejak saya sekolah dasar/SD, hingga saat ini masih menyukai lagu-lagunya…seandainya mas Tonny Koeswoyo masih hidup, mungkin lagu-lagunya masih terdengar membahana seantero Indonesia, Hebat benar dikau Tonny Koeswoyo dengan Koes Plusnya, aku merindukanmu Koes Plus……!

Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>