Komunikasi Nonverbal: Bahasa Tubuh

Posted on 09 January 2013 by romeltea

komunikasi nonverbalHAL terpenting dalam komunikasi adalah aspek nonverbal, yaitu bahasa tubuh. Bahkan, komunikasi verbal (komunikasi lisan, berbicara) bisa jadi hanyalah “pelengkap” setiap kali kita melakukan komunikasi. Pasalnya, menurut catatan Kevin Hogan, Psy.D. dari lembaga “Success Dynamics Corporation” Denmark, antara 60% hingga 75% dari semua komunikasi yang kita lakukan sehari-hari adalah nonverbal. “Between 60% and 75% of all of your communication is nonverbal,” katanya.

Karenanya, aspek nonverbal atau bahasa tubuh (body language) sangat penting kita perhatikan demi kesuksesan komunikasi. Sukses dalam berkomunikasi, bisa jadi, merupakan kunci sukses dalam karier ataupun dalam menjalani kehidupan yang fana ini (ups..?)
Kevin Hogan dalam sebuah tulisannya, “Body Language: The Basic”, menempatkan penampilan fisik atau pakaian sebagai bahasa tubuh atau komunikasi nonverbal utama.

Dengan kata lain, penampilan fisik dan pakaian adalah bagian utama dari bahasa tubuh atau komunikasi nonverbal (nonverbal communicaton). Kita bisa membuat orang lain nyaman atau sebaliknya dengan penampilan kita. Cara berpakaian kita bisa membuat orang lain percaya dan menyukai kita. Pernah atau seringkah kita dipuji kawan kita karena cara berpakaian kita yang pas dan pantas banget? No comment? Yakin deh, mereka komentari cara berpakaian kita, dalam hati.

Apakah kita nyaman melihat seseorang berpakaian dekil, norak, ‘gak pas, tak matching dengan keadaan fisiknya dan situasi? Tentu tidak. Makanya, jangan berpakaian demikian atuh. Bahkan sebelum kita bicara atau berkomunikasi lisan, cara pakaian kita atau penampilan fisik kita sendiri sebenarnnya sudah merupakan bentuk komunikasi, ya… komunikasi nonverbal alias bahasa tubuh itu.

Tiap situasi membutuhkan pakaian yang bisa jadi berbeda. Bersyukurlah jika ada dan kita punya pakaian yang bisa masuk ke segala situasi dan acara. Santai bisa, resmi juga ok. Kalo kita pake sarung ke mesjid, semua orang maklum, nyaman ngeliatnya. Tapi kalo pake sarung ke acara pesta, resepsi pernikahan, wisuda, rapat di kantor?

Kita akan berpakaian sedemikian rupa agar orang-orang yang kita komunikasii (eh, gak enak bahasanya ya…), diulang, agar orang-orang yang berkomunikasi dengan Anda (kagak pas juga ya? Bahasa Inggrisnya mah begini nih: …the people you communicate with…) merasa nyaman.

Jilbab tentu merupakan bahasa tubuh juga, komunikasi nonverbal; ekspresi sebagai Muslimah, bahkan kata ustadz saya bagian dari dakwah bil hal kaum Muslimah tuh. Tapi bagaimana jika “jilbab gaul”, itu tuh, jilbab yang cuma nutupin rambut doang, tapi bajunya ketatk, celananya juga jeans, ketat pula? Emhh… ya bentuk bahsa tubuh juga, komunikasi nonverbal juga! Pesannya apa? Tanya aja….! (ketus).
Saya sendiri suka celana jeans. Rasanya nyaman dan nyantai, serasa “ngoboy” juga. Kotornya juga ‘gak ketahuan banget. Sering saya padu dengan baju koko, baju takwa kata orang, berlengan pendek. Anda?

Kawan kita dari kelompok tertentu suka pake baju gamis, ala orang Arab, dengan celana “ngatung”, di atas tumit. Itu komunikasi nonverbal juga. Pesannya? Emh… ciri khas aja kali ya, atau identitas kelompok?

Jenggot juga bagian dari bahasa tubuh lho, gaya rambut juga, kumis juga, ah… banyak jadinya ya. Udah dulu ya.  Wasalam. (www.romeltea.com).*

Dapatkan Tips Komunikasi Praktis Lainnya via Email

romeltea – has written 621 posts on this site.
Asep Syamsul M. Romli aka Romeltea --akrab disapa Kang Romel-- adalah praktisi, trainer, dan konsultan media. Profil lengkap di menu "My Profile". Karya tulis (buku) di menu "My Books". Kontak email: romeltea@yahoo.com. Follow @romeltea

Kategori | Komunikasi



One Response to “Komunikasi Nonverbal: Bahasa Tubuh”

  1. nurul agmar says:

    tahu tentang komunikasi nonverbal itu kayaknya penting banget deh. soalnya aku kadang suka bekonflik dengan teman hanya karena salah artikan komunikasi non verbalnya.hhheehe



Tulis Komentar