SUDAH lama saya merasa “tersinggung” dengan stiker yang banyak nempel di sepedamotor jenis matic, otomatis, tanpa harus over gigi. Bunyinya, “Hari Gene Over Gigi?” atau “Over Gigi? Cape Deh!”.
Saya coba cari kata-kata untuk meng-“counter attack”, tapi belum jua menemukan kata-kata yang pas. Maklum, saya motoris juga, pengendara Supra-X, jadi kalo baca stiker “Hari Gene Over Gigi?” saya termasuk “tersinggung” juga. Sombongnya sih gini kali: gue juga mampu beli matic, cuma gw ‘gak mau aja!
Nah, di suatu perempatan, saat lampu merah menyala, tepat di depan saya ada stiker begini di sebuah motor non-matic: “Lelaki Sejati, Over Gigi!” Mantaaaaapppp…..! Gua pake tuh!
Motor matic emang dirancang untuk cewek. Seingat saya, pionirnya adalah Yamaha Mio, lalu bermunculan yang lainnya, matic juga, begitu Mio boooommmm! Dalam suatu talkshow di Radio Antassalam Bandung, saat itu saya masih jadi Program Director-nya, pihak Yamaha bilang, kira-kira gini: Mio dirancag khusus untuk wanita Indonesia! Intinya, motor matic mah buat cewek!
Ketika saya masuk kaskus.us, ditemukanlah “stiker perlawanan” buat stiker-stiker yang nempel di motor-motor matic itu, yakni:
1. Laki-Laki Pake Matic? ‘Gak Sekalian Aja Pake Lipstik?
2. Hari Gini Pake Matic, Cewe Banget
3. Pria Sejati Oper Gigi Pakai Tangan Kiri
4. Oper Gigi Doang Cape? Cewek Banget Deh!
5. Hari Gini Gak Ada Gigi? Ompong Kali!
“Perang Ejekan” dengan stiker tersebut tentu saja gak usah dianggap serius banget, toh cuma “seru-seraun aja”, have fun! Buat ngilangin suntuk bin mumet kala macet. Tul ‘gak?
Komunikasi Jalanan
Kalo mau diseriusin, boleh juga, yakni masuk dalam “bidang ilmu komunikasi”, dalam hal ini “komunikasi jalanan” (eh, btw, ada ‘gak tuh mata kuliah komunikasi jalanan? Anggap aja ada deh!)
Realitasnya ada kok. Yang bikin kita senyum-senyum di jalanan banyak, bagus juga buat ngilangin stress, olahraga saat macet! Utamanya, stiker di truk atau di angkot. Misalnya, “1000 Ligir” (Sunda: sare buligir = tidur telanjang), “Kunanti Jandamu”, “P8S = Pergi Pagi Pulang Petang Penghasilan Pas-Pasan, Paeh Sakalian!”.
Banyak juga yang “serius”, misalnya “Motor Ini Bukan Hasil Korupsi”, “Ya Allah, Lindungi Motor Ini”, “Anda Butuh Waktu, Kami Butuh Uang”, “Janga Lupa Shalat!”, dan sebagainya. Versi Anda? (www.romeltea.com).*
No related posts.
Tags: Komunikasi, Komunikasi Jalanan, matic, motor, non-matic, perang stiker, sepeda motor, stiker
Print This Post
Asep Syamsul M. Romli a.k.a Romel tea --akrab disapa Kang Romel-- adalah komunikator profesional -wartawan, penulis buku-buku komunikasi praktis, editor, penyiar radio, konsultan media, public speaker, dan trainer-motivator yang siap berbagi dalam pelatihan jurnalistik, menulis, siaran radio, public speaking, MC, public relation (humas), media sosial, dll. Dosen luar biasa mata kuliah ilmu komunikasi. Sering menjadi pemateri di berbagai diklat internal instansi pemerintah/swasta. Kontak saja: romeltea@yahoo.com
Tetap update berita/artikel di mana pun dari Romeltea Magazine dengan mengetikkan www.romeltea.com di browser ponsel Anda!
gokilll abes…4 jempol dch…
[...] http://romeltea.com/lelaki-sejati-over-gigi Share this:MoreLike this:SukaBe the first to like this post. 17 Desember 2011 abasosay Kategori: Biker, Refleksi Kaitkata: berkendara, Biker, kopling manual, matik, motor [...]
haaaaaaaaaa…haaaaaaaaaaaaa..jd inget plesetan kaos ala DAGADU..uuppssssss boleh sebut merk tidak??
Enjoy aja dehh..
UGD = Unit Gawat Dagadu……