SAYA dipercaya menjadi pembedah buku tentang Anne Rufaidah, seorang perancang busana Muslimah kondang asal Bandung, berjudul “sangat” panjang-lebar: Berani Mencoba, Berani Berbeda! Dokumentasi 28 Tahun di Pentas Dakwah Busana Muslimah Anne Rufaidah The Hidden Forest, karya Tatty Elmir. Tampaknya penulis, editor, atau penerbitnya bingung menyingkat judul itu biar pas dengan isi buku.
Di halaman cover depan, judul panjang itu “dipenggal” jadi tiga dengan tampilan (jenis huruf) bervariasi, namun nyaris sama “kurang” eye catching: Anne Rufaidah The Hidden Forest, Berani Mencoba Berani Berbeda!, dan Dokumentasi 28 Tahun di Pentas Dakwah Busana Muslimah. Nah, kan, ‘gak fokus jadinya, mau nonjolin yang mana tuh…?
Eh iya, acara bedah buku bertajuk “Bedah Buku Anne Rufaidah” itu jadwalnya Sabtu, 4 April 2009, Pkl. 16.00 WIB di Gramedia BSM (Bandung Supermal) Jln. Gatot Subroto Bandung.
Anda, khususnya pengguna busana Muslimah, tentu tidak asing dengan sosok Anne Rufaidah. Saya sendiri “mengenalnya” awal tahun 90-an, saat menjadi redaktur Mingguan Hikmah Bandung (1993-2000) karena rancangan busananya sering tampil di rubrik “Busana Muslimah” tabloid anak penerbitan “PR” tersebut.
Menurut sang penulis, Tatty Elmir, dalam “Sekapursirih” bukunya, Anne adalah sosok “pembawa peradaban baru” di negeri ini. “Ketika busana Muslimah menjadi simbol busana ‘orang pinggiran’, Anne dengan populeritasnya sebagai Putri Remaja Indonesia 1980 … berani memelopori era baru,” kata Tatty. “Dia menjadikan busana Muslimah sebagai tren wanita modern dan beradab…”.
Tahun 1980 busana muslimah belum sesemarak sekarang. Anne, dengan keteguhan, kegigihan, plus kesederhanaan dan kerendahan hatinya, menebar dakwah melalui karya nyata, bukan kata-kata, yakni melalui “kampanye” busana muslimah.
Buku ini secara garis besar berisi biografi Anne Rufaidah, komentar sahabat dan kolega, plus ragam desain busana muslim, kerudung, dan selendang karya Anne Rufaidah untuk berbagai suasana.
INI bukan yang pertama –juga bukan terakhir mungkin—yang dipercaya membedah buku, salah satu alasanya mungkin karena saya juga penulis buku? Biasanya, saat membedah buku, saya meninjaunya dari dua hal. Dari dua hal ini pula kualitas sebuah buku, menurut saya, ditentukan.
Pertama, tampilan atau desain, meliputi format atau fisik buku, cover, dan layout atau setting isi termasuk ilustrasi (jika ada). Dalam hal ini saya mengutarakan “rasa seni” saya dalam menikmati tampilan sebuah buku.
Kedua, isi buku, meliputi tema dan “nilai berita”-nya, sistematika pembahasan, substansinya, gaya penulisan, dan tata bahasa termasuk bahasa jurnalistik (bahasa media) – karena buku secara umum termasuk kategori media massa (cetak).
Dari segi tampilan, buku ini saya komentari secara spontan –ketika panitia menyerahkan buku sekaligus undangan: “Kayak buku klasik ya…!”. Ya, sekilas, tampilan cover buku ini terkesan “klasik”: warna biru tua. Mungkin, warna itu representasi ”masa lalu” karena buku ini memang berisi biografi atau sejarah.
Tiga judul –atau judul panjang yang dibagi tiga—terasa kurang “eye catching”. Format buku lebih kebar dari ukuran “normal” buku, mungkin untuk memberi ruang bagi tampilan sejumlah cover dan kliping majalah yang menampilkan Anne “masa jaya” sebagai Putri Indonesia, juga mendukung setting model busana.
Dari setting naskah, pemilihan jenis, point, dan panjang baris agak “melelahkan mata”. Barisnya kayaknya lebih oke kalau dibuat dua kolom tuh! Eh, tapi buku rata-rata memang satu kolom gitu ya, jarang yang dua kolom.
Dari segi isi, sebagaimana layaknya buku biografi, buku ini berisi perjalanan Anne sejak kecil hingga sukses-populer sebagai perancang busana muslimah. Sayang, penulisan biografinya agak “loncat-loncat”, kurang sistematis, terasa sebagai tulisan-tulisan lepas, sehingga menyulitkan pembaca untuk “segera”, quickly, menemukan sosok Anne kecil, remaja, da dewasa, juga perjalanan kariernya.
Terus, gimana dong? Eh, namanya juga komentator, biasa merasa lebih pandai dari pemain! Tapi jujur, buku ini great, bagus banget, sebagai inspirator bagi munculnya Anne-Anne yang lain dan menguatkan fondasi serta dakwah bil hal melalui busana muslimah. Bukankah busana muslimah lebih dari sekadar busana? Not just jilbab! Ia bisa bermuatan politis kalo dipolitisir, juga muatan lain. Buktinya? Masih banyak orang atau negara yang alergi dan takut banget ama jilbab!
Komentar lebih jauh, nanti aja saat acara berlangsung. Lagian, saya baru sekilas saja kok membaca buku ini, belum tuntas dan mendalam. See you… Wasalam. (www.romeltea.com).*
No related posts.
Tags: Anne Rufaidah, Buku
Print This Post
Asep Syamsul M. Romli a.k.a Romel tea --akrab disapa Kang Romel-- adalah komunikator profesional -wartawan, penulis buku-buku komunikasi praktis, editor, penyiar radio, konsultan media, public speaker, dan trainer-motivator yang siap berbagi dalam pelatihan jurnalistik, menulis, siaran radio, public speaking, MC, public relation (humas), media sosial, dll. Dosen luar biasa mata kuliah ilmu komunikasi. Sering menjadi pemateri di berbagai diklat internal instansi pemerintah/swasta. Kontak saja: romeltea@yahoo.com
Tetap update berita/artikel di mana pun dari Romeltea Magazine dengan mengetikkan www.romeltea.com di browser ponsel Anda!