Pengertian Komunikasi Politik

701 views

Istilah komunikasi politik (political communication) terdiri dari dua kata, “komunikasi” dan “politik”. Komunikasi artinya proses penyampaian pesan. Politik adalah hal-hal yang berkaitan dengan kekuasaan, pengaruh, atau kewenangan. Hakikat politik adalah kekuasaan (power). Apa pengertian komunikasi politik?

komunikasi politik

Secara praktis, komunikasi adalah proses penyampaian pesan (informasi, ide, gagasan). Politik adalah masalah ketatanegaraan, kenegaraan, pemerintahan, kekuasaan.

Hakikat politik adalah kekuasaan. The essense of politic is power. Politik didefinisikan sebagai ilmu atau bisnis pemerintah. Ia juga didefinisikan sebagai gerakan dan manuver yang berkaitan dengan perolehan kekuasaan.

Pengertian Komunikasi Politik

Secara sederhana, pengertian komunikasi politik adalah komunikasi yang melibatkan pesan-pesan politik dan aktor-aktor politik, atau berkaitan dengan kekuasaan, pemerintahan, dan kebijakan pemerintah.

Dengan pengertian ini, sebagai sebuah ilmu terapan, komunikasi politik bukanlah hal yang baru. Komunikasi politik juga bisa dipahami sebagai komunikasi antara ”yang memerintah” dan ”yang diperintah”.

Mengomunikasikan politik tanpa aksi politik yang kongkret sebenarnya telah dilakukan oleh siapa saja: mahasiswa, dosen, tukang ojek, penjaga warung, dan seterusnya.

Tak heran jika ada yang menjuluki Komunikasi Politik sebagai neologisme, yakni ilmu yang sebenarnya tak lebih dari istilah belaka.

Dalam praktiknya, komuniaksi politik sangat kental dalam kehidupan sehari-hari. Dalam aktivitas sehari-hari, tidak satu pun manusia tidak berkomunikasi, dan kadang-kadang sudah terjebak dalam analisis dan kajian komunikasi politik.

Berbagai penilaian dan analisis orang awam berkomentar sosal kenaikan BBM, ini merupakan contoh kekentalan komunikasi politik. Sebab, sikap pemerintah untuk menaikkan BBM sudah melalui proses komunikasi politik dengan mendapat persetujuan DPR

Pengertian Komunikasi Politik Menurut Ahli & Akademisi

Berikut ini beberapa definisi atau pengertian komunikasi politik menurut ahli dan akademisi.

David VJ Bell: Komunikasi politik adalah pembicaraan politik. Bell menyebutkan tiga jenis pembicaraan politik, yaitu:

  1. Pembicaraan kekuasaan (mempengaruhi orang lain dengan ancaman atau janji, juga suap dan pemerasan),
  2. Pembicaraan pengaruh (nasihat, dorongan, permintaan, dan peringatan),
  3. Pembicaraan otoritas (pemberian perintah atau larangan).

Gabriel Almond (1960): Komunikasi politik adalah salah satu fungsi yang selalu ada dalam setiap sistem politik. Sosialisasi politik, perekrutan, artikulasi kepentingan, agregasi kepentingan, pembuatan dan penerapan aturan, diterapkan dengan komunikasi.

Maswadi Rauf: Komunikasi politik merupakan bagian objek dari kajian ilmu politik, karena pesan-pesan yang diungkapkan dalam proses komunikasi bercirikan politik yakni berkaitan dengan kekuasaan politik negara, pemerintahan dan juga aktivitas komunikator dalam kedudukan sebagai pelaku kegiatan politik.

Mueller (1973) : Komunikasi politik adalah hasil yang bersifat politik bila menekankan pada hasil. Jika menekankan pada fungsi komunikasi politik dalam sistem politik, komunikasi politik adalah komunikasi yang terjadi dalam suatu sistem politik dan antara sistem tersebut dengan lingkungannya.

Chaffee: Komunikasi politik adalah peran komunikasi di dalam proses politik (political communication is the role of communication in the political process). Semua aktivitas komunikasi, verbal dan non-verbal, yang berada dalam proses atau kegiatan politik merupakan komunikasi politik.

Denton dan Woodward: Komunikasi politik adalah komunikasi yang melibatkan pesan-pesan politik dan aktor-aktor politik, atau berkaitan dengan kekuasaan, pemerintahan dan kebijakan pemerintah.

Michael Rush & Phillip Althoff: Komunikasi politik adalah proses di mana informasi politik yang relevan diteruskan dari satu bagian sistem politik kepada bagian lainnya, dan di antara sistem-sistem sosial dengan sistem-sistem politik. Proses ini terjadi secara berkesinambungan dan mencakup pula pertukaran informasi di antara individu-individu dengan kelompok-kelompoknya pada semua tingkatan.

Richard M. Perloff (1998): Komunikasi politik merupakan proses dimana kepemimpinan nasional, media, dan masyarakat saling bertukar dan memberi makna terhadap pesan-pesan yang berhubungan dengan kebijakan publik.

Dan Nimmo (2005): Cakupan komunikasi politik terdiri dari komunikator politik, pesan politik, persuasi politik, media, khalayak komunikasi politik, dan akibat-akibat komunikasi politik.

Miriam Budiardjo: Komunikasi politik merupakan salah satu fungsi partai politik, yakni menyalurkan aneka ragam pendapat dan aspirasi masyarakat dan mengaturnya sedemikian rupa –“penggabungan kepentingan” (interest aggregation” dan “perumusan kepentingan” (interest articulation) untuk diperjuangkan menjadi public policy.

Jack Plano dkk. dalam Kamus Analisa Politik menyebutkan, komunikasi plitik adalah penyebaran aksi, makna, atau pesan yang bersangkutan dengan fungsi suatu sistem politik, melibatkan unsur-unsur komunikasi seperti komunikator, pesan, dan lainnya.

Lord Windleshan: pengertian komunikasi politik adalah penyampaian pesan politik dari pengerim ke penerima dengan penekanan pada membuat penerima menerima apa yang disampaikan oleh pengirim dan menolak yang berasal dari pihak lain.

Kebanyakan komunikasi politik merupakan lapangan wewenang lembaga-lembaga khusus, seperti media massa, badan informasi pemerintah, atau parpol. Namun demikian, komunikasi politik dapat ditemukan dalam setiap lingkungan sosial, mulai dari lingkup dua orang hingga ruang kantor parlemen.

Distorsi Komunikasi Politik

Menurut Mochtar Pabotinggi (1993), dalam praktik proses komunikasi politik sering mengalami empat distorsi.

1. Distorsi bahasa sebagai “topeng”.

Ada euphemism (penghalusan kata); bahasa yang menampilkan sesuatu lain dari yang dimaksudkan atau berbeda dengan situasi sebenarnya, bisa disebut seperti diungkakan Ben Anderson (1966), “bahasa topeng”.

2. Distorsi bahasa sebagai “proyek lupa”.

Lupa sebagai sesuatu yang dimanipulasikan; lupa dapat diciptakan dan direncanakan bukan hanya atas satu orang, melainkan atas puluhan bahkan ratusan juta orang.”

3. Distorsi bahasa sebagai “representasi”.

Terjadi bila kita melukiskan sesuatu tidak sebagaimana mestinya. Contoh: gambaran buruk kaum Muslimin dan orang Arab oleh media Barat.

4. Distorsi bahasa sebagai “ideologi”.

Ada dua perspektif yang cenderung menyebarkan distoris ideologi.

  • Pertama, perspektif yang mengidentikkan kegiatan politik sebagai hak istimewa sekelompok orang –monopoli politik kelompok tertentu.
  • Kedua, perspektif yang semata-mata menekankan tujuan tertinggi suatu sistem politik. Mereka yang menganut perspektif ini hanya menitikberatkan pada tujuan tertinggi sebuah sistem politik tanpa mempersoalkan apa yang sesungguhnya dikehendaki rakyat.

Aktor Komunkasi Politik

Aktor atau komunikator politik pada dasarnya adalah semua orang yang berkomunikasi tentang politik, mulai dari obrolan warung kopi hingga sidang parlemen untuk membahas konstitusi negara.

Namun, yang menjadi komunikator utama adalah para pemimpin politik atau pejabat pemerintah karena merekalah yang aktif menciptakan pesan politik untuk kepentingan politis mereka. Mereka adalah pols, yakni politisi yang hidupnya dari manipulasi komunikasi, dan vols, yakni warganegara yang aktif dalam politik secara part timer ataupun sukarela.

Komunikator politik utama memainkan peran sosial yang utama, teristimewa dalam proses opini publik. Karl Popper mengemukakan “teori pelopor mengenai opini publik”, yakni opini publik seluruhnya dibangun di sekitar komunikator politik.

Komunikator Politik

1. Politisi

Politisi adalah orang yang bercita-cita untuk dan atau memegang jabatan pemerintah, seperti aktivis parpol, anggota parlemen, menteri, dsb.

2. Profesional

Profesional adalah mereka yang menjadikan komunikasi sebagai nafkah pencahariannya, baik di dalam maupun di luar politik.

Kalangan profesional ini muncul akibat revolusi komunikasi: munculnya media massa lintas batas dan perkembangan sporadis media khusus (majalah internal, radio siaran, dsb.) yang menciptakan publik baru untuk menjadi konsumen informasi dan hiburan.

Komunikator profesional adalah makelar simbol, orang yang menerjemahkan sikap, pengetahuan, dan minat suatu komunitas bahasa ke dalam istilah-istilah komunitas bahasa yang lain yang berbeda tapi menarik dan dapat dimengerti” (James Carey).

Komunikator profesional menghubungkan golongan elit dalam organisasi atau komunitas mana pun dengan khalayak umum.

Mereka juga manipulator dan makelar simbol yang mengubungkan para pemimpin satu sama lain dengan para pengikut. Beroperasi di bawah desakan ataun tuntutan yang, di satu pihak, dibebankan oleh khalayak akhir dan, di pihak lain, oleh sumber asal.

Menjual keahliannya dalam memanipulasi, menjualkan, menghubungkan, dan menginterpretasikan kepada politikus dan yang lain.

Bisa berperan sebagai konsultan kampanye politik yang berpengaruh.

Komunikator profesional terdiri dari jurnalis dan promotor.

Jurnalis adalah orang yang berkaitan dengan media berita dalam pengumpulan, persiapan, penyajian, dan penyerahan laporan peristiwa –karyawan organisasi berita yang menghubungan sumber berita dengan khalayak. Ia bisa (a) mengatur pemimpin pemerintah untuk berbicara satu sama lain lewat media; (b) menghubungkan pemimpin denga publik; dan (c) menghubungkan publik dengan pemimpin.

Promotor adalah orang yang dibayar untuk mengajukan kepentingan langganan tertentu, seperti (a) agen publisitas tokoh masyarakat penting, (b) humas instansi swasta atau pemerintah, (c) pejabat informasi publik (menteri informasi atau dinas informasi), (d) sekretaris pers atau jurubicara kepresidenan, (e) staf periklanan perusahaan, (e) manajer dan jurukampanye, dsb.

3. Aktivis

Jurubicara (spokesman) bagi kepentingan terorganisasi, tidak memegang atau mencita-citakan jabatan pemerintahan, juga bukan profesional dalam komunikasi. Perannya mirip jurnalis.

Pemuka pendapat (opinion leader) –orang yang sering dimintai petunjuk dan informasi oleh masyarakat; meneruskan informasi politik dari media massa kepada masyarakat. Misalnya tokoh informal masyarakat kharismatis, atau siapa pun yang dipercaya publik. Teori “Arus Komunikasi Dua Tahap” (Two Step Communication Flow : informasi dari media mengalir kepada pemuka pendapat dan diteruskan kepada masyarakat yang tidak aktif (jaringan interpersonal).

Proses Komunikasi Politik

Proses komunikasi politik sama dengan proses komunikasi pada umumnya (komunikasi tatap muka dan komunikasi bermedia) dengan alur dan komponen:

1. Komunikator/Sender – Pengirim pesan
2. Encoding – Proses penyusunan ide menjadi simbol/pesan
3. Message – Pesan
4. Media – Saluran
5. Decoding – Proses pemecahan/ penerjemahan simbol-simbol
6. Komunikan/Receiver – Penerima pesan
7. Feed Back – Umpan balik, respons.

Media Komunikasi Politik

Media komunikasi politik adalah alat, channel, atau sarana yang digunakan untuk memudahkan penyampaian pesan politik.

Secara luas media komunikasi politik terdiri atas lambang-lambang (simbol-simbol) kata, gambar, dan tindakan yang kombinasinya (menghasilkan cerita dan foto), serta berbagai teknik serta media yang digunakan untuk berbicara dengan khayalak.

Simbol-simbol dan kombinasinya disampaikan dengan berbagai teknik dan media –perbincangan personal (lisan), melalui media cetakan e.q. koran dan majalah, dan dengan teknik elektronik e.g. radio atau TV.

Tipe Utama Saluran Komunikasi Politik

1. Komunikasi Massa – komunikasi ‘satu-kepada-banyak’

  • Komunikasi Tatap Muka –dalam rapat umum, konferensi pers, etc.
  • Komunikasi Berperantara –ada perantara antara komunikator dan khalayak seperti TV.

2. Komunikasi Interpersonal – komunikasi ‘satu-kepada-satu’.

  • Komunikasi Tatap Muka e.g. door to door visit, temui publik, etc.
  • Komunikasi Berperantara –e.g. pasang sambungan langsung ’hotline’ buat publik.

3. Komunikasi Organisasi – gabungan komunikasi ‘satu-kepada-satu’ dan ‘satu-kepada-banyak’:

  • Komunikasi Tatap Muka e.g. diskusi tatap muka dengan bawahan/staf, etc.
  • Komunikasi Berperantara e.g. pengedaran memorandum, sidang, konvensi, buletin, newsletter, lokakarya, etc.

Karakteristik Percakapan Politik

1. Koorientasi – saling bertukar pandangan.

2. Sebagai permainan –masing-masing mengejar tujuan tertentu: motif terbuka & tersembunyi; peroleh imbalan & kerugian.

Empat tipologi permainan: permainan wajah; permainan eksploitasi e.g. ancaman dan “jika… maka..”; permainan informasi/mengorek info seperti wawancara reporter; dan permainan hubungan/memperlebar-memperkecil jarak sosial (Lyman & Scott).

3. Negosiasi –nego identitas pribadi, hubungan sosial, dan makna kekuasaan politik.

Demikian pengertian catatan tentang pengertian komunikasi politik. Wasalam. (www.romeltea.com).*

Referensi: Dan Nimmo. Komunikasi Politik. Rosda, Bandung, 1982; Gabriel Almond The Politics of the Development Areas, 1960; Gabriel Almond and G Bingham Powell, Comparative Politics: A Developmental Approach. New Delhi, Oxford & IBH Publishing Company, 1976; Mochtar Pabottinggi, “Komunikasi Politik dan Transformasi Ilmu Politik” dalam Indonesia dan Komunikasi Politik, Maswadi Rauf dan Mappa Nasrun (eds). Jakarta, Gramedia, 1993; Jack Plano dkk., Kamus Analisa Politik, Rajawali Jakarta 1989.*

 

Komunikasi Komunikasi Politik pengertian komunikasi politik Politik

Related Post

Leave a reply