Retorika Dakwah: Sebuah Pengantar

Retorika Dakwah: Sebuah Pengantar

Oleh ASM. Romli

Retorika (rhetoric) secara harfiyah artinya berpidato atau kepandaian berbicara. Kini lebih dikenal dengan nama Public Speaking.

Dewasa ini retorika cenderung dipahami sebagai “omong kosong” atau “permainan kata-kata” (“words games”), juga bermakna propaganda (memengaruhi atau mengendalikan pemikiran-perilaku orang lain).

Teknik propaganda “Words Games” terdiri dari Name Calling (pemberian julukan buruk, labelling theory), Glittering Generalities (kebalikan dari name calling, yakni penjulukan dengan label asosiatif bercitra baik), dan Eufemism (penghalusan kata untuk menghindari kesan buruk atau menyembunyikan fakta sesungguhnya).

 Gaya Bahasa Retorika

  1.  Metafora (menerangkan sesuatu yang sebelumnya tidak dikenal dengan mengidentifikasikannya dengan sesuatu yang dapat disadari secara langsung, jelas dan dikenal, tamsil);
  2. Monopoli Semantik (penafsir tunggal yang memaksakan kehendak atas teks yang multi-interpretatif);
  3. Fantasy Themes (tema-tema yang dimunculkan oleh penggunaan kata/istilah bisa memukau khalayak);
  4. Labelling (penjulukan, audiens diarahkan untuk menyalahkan orang lain),
  5. Kreasi Citra (mencitrakan positif pada satu pihak, biasanya si subjek yang berbicara);
  6. Kata Topeng (kosakata untuk mengaburkan makna harfiahnya/realitas sesungguhnya);
  7. Kategorisasi (menyudutkan pihak lain atau skenario menghadapi musuh yang terlalu kuat, dengan memecah-belah kelompok lawan);
  8. Gobbledygook (menggunakan kata berbelit-belit,  abstrak dan tidak secara langsung menunjuk kepada tema, jawaban normatif);
  9. Apostrof (pengalihan amanat dengan menggunakan proses/kondisi/pihak lain yang tidak hadir sebagai kambing hitam yang bertanggung jawab kepada suatu masalah).

Retorika Dakwah

Retorika Dakwah dapat dimaknai sebagai pidato atau ceramah yang berisikan pesan dakwah, yakni ajakan ke jalan Tuhan (sabili rabbi) mengacu pada pengertian dakwah dalam QS. An-Nahl:125:

“Serulah oleh kalian (umat manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah, nasihat yang baik, dan berdebatlah dengan mereka secara baik-baik…” 

Ayat tersebut juga merupakan acuan bagi pelaksanaan retorika dakwah. Menurut Syaikh Muhammad Abduh, ayat tersebut menunjukkan, dalam garis besarnya, umat yang dihadapi seorang da’i (objek dakwah) dapat dibagi atas tiga golongan, yang masing-masingnya dihadapi dengan cara yang berbeda-beda sesuai hadits: “Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar (takaran kemampuan) akal mereka”.

 a. Ada golongan cerdik-cendekiawan yang cinta kebenaran, berpikir kritis, dan cepat tanggap. Mereka ini harus dihadapi dengan hikmah, yakni dengan alasan-alasan, dalil dan hujjah yang dapat diterima oleh kekuatan akan mereka.

b. Ada golongan awam, orang kebanyakan yang belum dapat berpikir kritis dan mendalam, belum dapat menangkap pengertian tinggi-tinggi. Mereka ini dipanggil dengan mau’idzatul hasanah, dengan ajaran dan didikan, yang baik-baik, dengan ajaran-ajaran yang mudah dipahami.

c. Ada golongan yang tingkat kecerdasannya diantara kedua golongan tersebut. Mereka ini dipanggil dengan mujadalah billati hiya ahsan, yakni dengan bertukar pikiran, guna mendorong supaya berpikir secara sehat.

Retorika (Dakwah) Islam

Retorika dakwah sendiri berarti berbicara soal ajaran Islam. Dalam hal ini, Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dalam bukunya, Retorika Islam (Khalifa, 2004), menyebutkan prinsip-prinsip retorika Islam sebagai berikut:

  1. Dakwah Islam adalah kewajiban setiap Muslim.
  2. Dakwah Rabbaniyah ke Jalan Allah.
  3. Mengajak manusia dengan cara hikmah dan pelajaran yang baik.
  4. Cara hikmah a.l. berbicara kepada seseorang sesuai dengan bahasanya, ramah, memperhatikan tingkatan pekerjaan dan kedudukan, serta gerakan bertahap.

Secara ideal, masih menurut Dr. Yusuf Al-Qaradhawi, karakteristik retorika Islam a.l.

  1. Menyeru kepada spiritual dan tidak meremehkan material.
  2. Memikat dengan Idealisme dan Mempedulikan Realita.
  3. Mengajak pada keseriusan dan konsistensi, dan tidak melupakan istirahat dan berhibur.
  4. Berorientasi futuristik dan tidak memungkiri masa lalu.
  5. Memudahkan dalam berfatwa dan menggembirakan dalam berdakwah.
  6. Menolak aksi teror yang terlarang dan mendukung jihad yang disyariatkan. (www.romeltea.com).*

Copyrights © ASM. Romli, www.romeltea.com. Referensi : dari berbagai sumber. Bahasan lengkap versi saya tentang Public Speaking tertuang dalam buku “Lincah Menulis Pandai Bicara”, terbitan Nuansa Bandung.*

Related Post

Bahasa Tubuh dalam Public Speaking Bahasa tubuh dalam Public Speaking wajib diperhatikan semua orang yang suka berbicara di depan umum. Bahasa tubuh berfungsi menambah efektivitas pembi...
Cara Menyusun Naskah Pidato * Cara Membuat Teks Pidato Menulis naskah pidato (Speech Script) hakikatnya sama dengan menulis artikel. Bedanya, naskah pidato tidak memakai judul...
Lima Cara Membuka Pidato (Public Speaking) Lima Cara Membuka Pidato atau Mengawali Public Speaking. Kata-kata pembuka pidato atau public speaking (opening speech) ibarat lead (teras) dalam s...
Berlatih PD Ketika Berbicara di Depan Umum Pertanyaan  Kang Romel tea, bagaimana cara melatih diri untuk merasa PD ketika berbicara di depan umum??? terima kasih. Firly Jawaban Par...

COMMENTS (6)

  • comment-avatar
    M.IBNU SHOLEH May 27, 2013

    sip

  • comment-avatar
    M.IBNU SHOLEH May 27, 2013

    sangat bagus tulisannya.

  • comment-avatar
    Abdullah Al-Bughisy August 23, 2012

    nyimak

  • comment-avatar
  • comment-avatar

    Sangat bgus tulisan nya,nambh wawasan bgt