Seni Mendengarkan: Menciptakan Hubungan Baik

seni mendengarkanMendengarkan (listening) merupakan bagian dari komunikasi sekaligus keterampilan penting dalam berkomunikasi. Bahkan, karena kita punya dua telinga, sedangkan mulut hanya satu, orang bilang mendengarkan lebih penting ketimbang berbicara.

Menurut para ahli, kita harus lebih sering dan lebih banyak mendengar ketimbang berbicara. Setidaknya, kita harus mampu menahan diri untuk tidak berbicara sebelum selesai mendengarkan.

Dengan mendengarkan, kita menyerap informasi dari luar untuk menambah pengetahuan, wawasan, informasi, dan memahami maksud serta persoalan yang sebenarnya.

Mendengarkan bisa menciptakan hubungan baik dengan sesama. Saat seseorang yang sedang berbicara didengarkan, ia akan merasa dihargai. Pada disaat yang sama, perasaan dihargai itu akan menumbuhkan “kesan emosional” yang kuat dari pembicara kepada pendengar. Sebaliknya, jika kita tidak mendengarkannya, maka akan muncul “sakit hati” atau tersinggung.

MASALAH MENDENGARKAN

Terkang, bahkan sering, mendengarkan dipengaruhi prasangka. Jika si pendengar telah berasumsi buruk atau jelek terhadap seorang pembicara, maka asumsi itu akan mempengaruhi aktivitas mendengarkan karena apa pun yang dibicarakan akan selalu salah atau disalahkan.

Kredibilitas pembicara rendah juga dapat menimbulkan asumsi yang merugikan. Hal ini bisa disebabkan oleh posisi pembicara dalam situasi tertentu.

Harapan –harapan kita saat kita mendengarkan akan membuat kita terlalu sensitif.

Salah satu alasan utama mengapa orang tidak mendengarkan adalah reaksi emosional.  Sikap emosional membuat kita defensif sehingga sulit bagi pembicara untuk mengutarakan maksudnya.

Sikap emosional pulalah yang membuat percakapan menjadi perdebatan, tanggapan emosional terhadap apa yang dikatakan orang lain tidak jarang berubah menjadi pertengkaran.

Apabila kita menyampaikan pesan yang mengandung kritik hal ini pada umumnya tidak bisa diterima baik oleh banyak orang, walaupun ada beberapa yang biasa menerima kritik membangun. Orang yang tidak mau dikritik  akan sulit untuk mendengarkan dan cenderung merasa benar.

Pesan yang disampaikan sambil marah – marah, juga tidak akan efektif. Sikap terlalu sensitif dalam menanggapi permasalahan juga buruk karena membuat seseorang ia merasa tidak dihargai.

Pembicara yang  emosional membuat pendengar akan menjadi emosi juga.

Pendengar yang punya rasa bermusuhan juga seringkali menyalahkan pembicara dan ingin merendahkan pembicara dengan berbagai pertanyaan yang menyudutkan.

Mendengarkan memiliki satu tujuan, yaitu memahami yang ingin diungkapkan oleh pembicara.

PENDENGAR YANG BAIK

Menjadi pendengar yang baik dimulai dengan usaha yang sungguh-sungguh dalam memberi perhatian terhadap pribadi lawan bicara kita. Perhatian yang tulus pada apa yang diungkapkan oleh lawan bicara dapat membuat orang membuka diri.

Pendengar yang hanya berpura-pura memberi perhatian tidak dapat mengelabui dengan lama. Karena pendengar yang baik tidak berlagak seakan-akan membutuhkan sesuatu. Mereka juga tidak menghibur, memuji, menyinggung, atau pun menyela.

Kebanyakan orang tidak sungguh-sungguh mendengarkan atau memperhatikan sudut pandang kita sebelum mereka yakin kita sendiri mendengarkan dan menghargai sudut pandang mereka.

Jika kita mulai merasa tidak sabar atau defensif selama orang lain berbicara, penting sekali kita menahan dorongan untuk memberi tanggapan sampai dia selesai berbicara. Menutup mulut dan berpura-pura mendengarkan lebih baik daripada menyela, tetapi itu tidak sama dengan mendengarkan dengan sungguh-sungguh.

Untuk mendengarkan dengan sungguh-sungguh, kita harus berusaha menghargai perasaan pembicara. Orang yang suka mengalah tampaknya seperti pendengar yang baik, tetapi mereka tidak benar-benar mendengarkan jika mereka hanyalah wadah yang pasif.

Mendengarkan dengan peka sering kali tanpa kata, tetapi tidak pernah pasif. Selain itu, memahami tidak dibantu dengan mengetahui tetapi dengan bertanya, meminta penjelasan, mencari tahu kekhasan pengalaman pembicara. Pendengar yang baik bukan penerima yang pasif, akan tetapi penerima yang aktif, terbuka, peka, dan mencari tahu.

Mengulangi apa yang dikatakan pihak lain dengan kata-kata kita sendiri merupakan cara yang paling efektif untuk menyatakan bahwa kita memahami apa yang dikatakannya.

Membiarkan orang lain menjelaskan pendapatnya sampai tuntas amat penting dan sulit jika orang tersebut mengkritik kita. Jalan terbaik jika seseorang mulai mengkritik kita adalah mendengarkannya samapai selesai dan mengakui pendapatnya sebelum membela diri.

Mendengar kritik memang salah satu tantangan yang paling berat yang harus kita hadapi. Namun, membalas dengan marah, walaupun masuk akal, hanya memperburuk segala sesuatunya. Untuk menghindari ini latihlah diri untuk mendengarkan dengan peka, memberi perhatian dan menghargai apa yang dikatakan orang yang mengkritik.

Mendengarkan merupakan keterampilan yang dapat dipelajari, dilatih, dan ditingkatkan. Saat seseorang mampu mendengarkan dengan baik, kemampuan ini dapat memperbaiki hubungan-hubungan mereka secara pribadi, profesional, dan hubungan lainnya yang lebih luas.

Kunci mendengarkan yang baik adalah bersifat peka dan menahan diri, mencoba untuk memahami dan tidak berupaya untuk menjawab.

Keharusan untuk mendengarkan seringkali dirasakan sebagai beban oleh banyak orang, namun mungkin dapat dipertimbangkan bahwa orang lain dalam hidup kita benar-benar layak untuk didengarkan karena mereka berharga.

Aktivitas mendengarkan tidak saja merupakan kebutuhan, tapi juga merupakan hadiah yang kita berikan kepada orang lain. Wasalam. (www.romeltea.com).*

Referensi:

 

Related Post

Komunikasi Verbal: Cara Bicara Anda Itu Lho…! Keterampilan komunikasi verbal atau lisan merupakan hal terpenting dalam membangun citra pribadi (personal brand). Demikian menurut penelitian. The...
E-Book Komunikasi Dakwah: Pendekatan Praktis Buku elektronik (ebook) tentang komunikasi dakwah: pendekatan praktis. Berisi tentang pengertian, prinsip, dan teknik komunikasi dakwah di berbagai fo...
Komunikasi Dakwah: Komunikasi Persuasif Dakwah sudah pasti sebuah komunikasi, tepatnya komunikasi persuasif, karena hakikat dakwah adalah mengajak (da’a, yad’u, da’watan). Namun, komunikasi ...
Pengertian Bahasa Tubuh dan Contohnya dalam Komuni... Bahasa tubuh (body languge) adalah komunikasi pesan nonverbal (tanpa kata-kata). Bahkan, 70% dari semua komunikasi adalah bahasa tubuh. Bahasa t...

COMMENTS (2)

  • comment-avatar

    Assalamu alaikum. Ikut belajar Kang Romel… terima kasih