6 Miskonsepsi atau Salah Paham tentang Podcast

  • Whatsapp

Salah Paham tentang Podcast

Podcast sedang meningkat, terutama di Amerika Serikat. Sebuah survei menunjukkan, 75% dari warga Amerika akrab dengan istilah “podcasting.” Pada Oktober 2020, ada lebih dari 1,5 juta podcast, menurut data podcasthosting.org.

Di Indonesia, podcast juga mulai populer dengan meningkatnya jumlah pengguna atau pendengar Spotify. Namun, mayoritas pengguna Spotify mendengarkan musik (lagu).

Terlepas dari banyaknya jumlah podcast dan basis pendengar yang sangat besar, masih ada kesalahpahaman umum yang menghentikan calon podcaster untuk mencapai rekor dan mengirim pesan mereka kepada dunia.

6 Kesalahahpahaman tentang Podcast

Berikut ini miskonsepsi umum tentang podcast.

1. Podcast adalah video

Miskonsepsi pertama memahami atau mengira, podcast adalah video. Yang benar, podcast adalah audio dengan format file MP3.

Baca Juga

Jika Anda menonton video berisi podcast di Youtube, maka itu adalah video podcast (vodcast) atau video berisi podcasting alias podcast yang divideokan.

Baca: Perbedaan Podcast dan Vodcast.

Mari kita selami lagi pengertian podcast.

Menurut kamus Google, podcast adalah file audio digital yang tersedia di internet untuk diunduh ke komputer atau perangkat seluler, biasanya tersedia sebagai seri, angsuran baru yang dapat diterima oleh pelanggan secara otomatis.

Dalam Cambridge Dictionary, pengertian podcast secara bahasa dikemukakan adalah sebagai berikut:

  • Program radio yang disimpan dalam bentuk digital yang dapat Anda unduh dari internet dan diputar di komputer atau pemutar MP3.
  • Program rekaman yang dapat diunduh dari internet dan didengarkan di pemutar MP3
  • Siaran yang ditempatkan di Internet untuk siapa saja yang ingin mendengarkan atau menontonnya.

Kamus Merriam-Webster mendefisikan podcast sebagai “sebuah program (seperti musik atau bicara [talks]) yang tersedia dalam format digital untuk diunduh otomatis melalui Internet”

Mudahnya, podcast adalah hasil rekaman audio berisi siaran kata layaknya siaran radio yang dapat didengarkan oleh publik.

Podcast tersedia di platform podcast seperti Spotify, iTune, dan Google Podcast.

Pengertian podcast lainnya adalah “bentuk penyiaran audio di web. Dapat didengarkan saat dalam perjalanan, saat bepergian ke kantor atau bahkan saat bekerja. Ini adalah media konten yang tidak membutuhkan semua perhatian audiens target Anda seperti video atau postingan blog.”

Jelas, podcast itu audio, bukan video. Jika podcast Anda berupa video, maka itu namanya video podcast (vodcast), bukan podcast murni.

Secara etimologis, istilah podcast berasal dari singkatan iPod dan Broadcast.

iPod adalah merek (brand) serangkaian perangkat pemutar media digital yang dirancang dan dijual oleh Apple (Hewlett-Packard juga sempat menjual produk tersebut dengan nama Apple iPod + HP).

Tujuan utama iPod adalah dapat mendengarkan musik kapan saja, di mana saja. IPod tersedia dengan berbagai kapasitas penyimpanan untuk musik dan video.

Broadcast adalah siaran. Saya menyebut podcasting itu mirip siaran radio gaya PT Style.

Dalam bahasa Indonesia, podcast disebut siniar. Dari kata dasar “siar”. Menurut KBBI, siniar adalah siaran (berita, musik, dan sebagainya) yang dibuat dalam format digital (baik audio maupun video) yang diunduh melalui internet.

Dengan demikian, podcast adalah siaran layaknya siaran radio yang direkam. Format siarannya berupa monolog, wawancara, atau obrolan tentang topik tertentu.

Hasil rekamannya disimpan dalam format file audio (mp3) dan disimpan di platform podcast seperti Spotify dan Google Podcast.

Intinya, podcast adalah audio (suara).

Demikian miskonsepsi atau kesalahpahaman pertama tentang podcast. Kesalah pahaman ini terjadi karena banyaknya podcaster yang mengunggah podcastnya dalam format video di Youtube.

Akibat kesalahpahaman no. 1 ini, dikiranya podcasting butuh kamera dan proses syuting. Padahal, podcasting juga bisa dilakukan melalui SmartPhone.

Caranya? Unduh saja aplikasi Anchor. Anda sudah bisa membuat podcast sekarang juga!

Miskonsepsi berikutnya tentang podcast, nomor 2-6 di bawah ini, saya sadur dari 5 Common Misconceptions About Podcasting.

2. Podcast adalah bisnis

Banyak podcaster membuat kesalahan ini ketika memulai podcastnya. Dipikirnya blog dan podcast akan cepat membawa hasil (uang) layaknya sebuah bisnis.

Podcaster dan blogger harus segera mengetahui bahwa keduanya harus menjadi bagian dari rencana pemasaran konten (content marketing) yang lebih luas khususnya untuk bisnis.

Podcast tidak hanya terbatas pada pemasaran konten, dan dengan luasnya podcast di platform distribusi, ada podcast untuk semua orang dan setiap niche.

Podcast bisa untuk bersenang-senang. Anda bisa memiliki dua akun podcast jika Ada suka podcasting dan ingin bersenang-senang meneliti dan merekam.

Podcast juga bisa karena beberapa alasan lain: jaringan, membangun keahlian Anda di ceruk tertentu, atau berbagi konten (pemikiran, pengalaman, pengetahuan) dengan dunia.

Belum punya bisnis, tapi ingin memulainya? Pikirkan tentang layanan dan ceruk potensial Anda, lalu gunakan podcast Anda untuk menjadikan diri Anda seorang ahli untuk menumbuhkan audiens dan basis pelanggan Anda.

Apakah Anda memulai podcast hanya untuk bersenang-senang atau karena alasan lain? Anda tidak memerlukan bisnis di belakangnya dan dapat menjadi host podcast karena Anda menikmati berbagi pesan Anda.

3. Membutuhkan studio profesional

Podcasting tidak memerlukan studio. Namun, untuk kualitas audio tanpa gangguan suara lain, untuk fokus dalam membuat podcast, sebuah studio memang diperlukan.

Membutuhkan studio profesional adalah kesalahpahaman umum tentang podcast. Membuat podcast tidak harus di sebuah studio mewah yang besar.

Selama kebisingan atau suasana ruangan tidak mengurangi isi dan pesan, maka Anda tidak perlu menyelipkan diri di studio mahal.

Tips: Mulailah saja, di mana pun Anda berada, atau peralatan apa yang Anda miliki. Audiens Anda akan ingin mendengar pesan Anda, dan tidak akan terganggu oleh episode yang terdengar tidak profesional.

4. Podcasting itu mahal

Kesalahpahaman umum lainnya adalah jika Anda tidak pergi ke studio untuk merekam, Anda harus membeli peralatan tingkat studio, termasuk mikrofon, headphone, dan perangkat lunak pengeditan profesional.

Peringatan spoiler: Anda dapat memiliki podcast yang terdengar bagus dengan biaya yang lebih murah

Saya mulai podcast hanya dengan mikrofon USB. Saya membelinya seharga sekitar Rp650.000. Saya menggunakan headphone yang harganya Rp120 ribu.

Saya mengedit podcast dengan software Adobe Audition. Biasanya hanya mengedit hard limit, normalize, dan memasukkan backsound. Saya menggunakan hosting gratis Anchor.fm (subdivisi Spotify).

Jadi, memulai podcast tidak mahal dan bisa gratis, terutama jika Anda menggunakan alat yang tepat.

Tip: Mulailah dengan apa yang sudah Anda miliki di komputer atau ponsel Anda. Saat Anda siap untuk mulai membangun studio kecil, cari penawaran terbaik.

5. Tidak menemukan pendengar

Saya yakin Anda melihat statistik itu sebelumnya dan berpikir, “Tapi ada 1,5 juta podcast di luar sana! Bagaimana saya bisa menemukan pemirsa?!”

Ya, ada banyak podcast di luar sana, tapi inilah kabar baiknya: setiap podcast berbeda. Tiap host (podcaster) memiliki metode penyampaian yang beragam, fokus pada “ceruk” (niche) yang berbeda, dan memiliki audiens yang beragam.

Metode atau konten mendongeng Anda akan menarik bagi audiens yang mungkin tidak menyukai metode penyampaian podcast serupa.

Meskipun konten atau niche Anda mungkin mirip dengan podcaster lain, itu adalah topik Anda dan bagaimana Anda mengungkapkannya yang akan menarik audiens Anda.

Jika banyaknya podcast di platform distribusi adalah apa yang menahan Anda untuk meluncurkan podcast Anda, ketahuilah ini: ada ruang untuk Anda, pesan Anda, dan podcast Anda.

Tip: Teliti niche Anda dan audiens target Anda. Setelah Anda memahami siapa yang ingin Anda capai pesan Anda, Anda akan mempelajari apa yang mereka cari di podcast, dan Anda akan dapat membuat konten yang akan menarik mereka setiap minggu.

6. Semuanya harus sempurna

Episode podcast pertama saya dibuat dengan bantuan teman yang memahami editing audio. Bahkan, sebenarnya saya sudah podcasting ketika membuka akun di Soundcloud dan menjadikannya media pembelajaran saat mengajar mata kuliah tentang siaran radio. Saya wajibkan mahasiswa membuat akun di Soundcloud dan mengisinya untuk latihan siaran berita.

Podcast Anda tidak harus sempurna sejak awal. Tidak harus sempurna dalam dua, lima, atau sepuluh tahun. Anda akan selalu melihat sesuatu yang salah dengan itu, sejujurnya, tidak ada orang lain yang akan menyadarinya. Jadi, jika perfeksionisme adalah yang menahan Anda, lepaskan saja.

Kiat: Mendengarkan podcast lain akan membantu, dari DIY hingga profesional. Begitu Anda menyadari kesalahan orang lain, Anda akan melihat bahwa tidak ada orang yang sempurna. Dan, sejujurnya, jika seseorang tidak menyukai beberapa kesalahan yang Anda buat, maka mereka bukanlah audiens Anda. Seperti yang dikatakan Jen Sincero, “Apa yang orang lain pikirkan tentang Anda tidak ada hubungannya dengan Anda dan semuanya berkaitan dengan mereka.”

Penutup

Kesalahpahaman atau miskonsepsi sering menghalangi kita untuk mencapai hal-hal besar, dari membagikan pesan kita dan memengaruhi kehidupan orang lain.

Misalkan, Anda membiarkan fakta bahwa Anda tidak memiliki studio profesional atau peralatan mahal menghalangi Anda untuk memulai podcast.

Anda tidak pernah tahu siapa yang akan terpengaruh oleh konten dan pesan Anda. Jadi, jangan biarkan salah satu dari kesalahpahaman ini atau kesalahpahaman lainnya tentang podcasting menghalangi Anda untuk menyampaikan pesan Anda ke seluruh dunia.*

 

Artikel Terkait

Leave a Reply