Dasar-Dasar Jurnalistik Televisi

1716 views

Jurnalistik Televisi (TV Journalism) merupakan salah satu jenis jurnalisme, selain jurnalistik cetak, jurnalistik radio, dan jurnalistik online. Dasar-dasar jurnalitik TV meliputi pengertian, karakteristik, jenis berita, format berita, proses pemberitaan, dan penulisan naskah berita TV.

Jurnalistik TV

Jurnalistik TV –bersama jurnalistik radio– disebut juga jurnalisme penyiaran (broadcast journalism) karena sama-sama menggunakan metode siaran (broadcasting) dalam menyajikan berita.

Jurnalisme televisi melibatkan lebih dari sekadar melaporkan berita di televisi. TV Journalism juga melibatkan penelitian dan penulisan cerita, mengumpulkan fakta, mengikuti tips, dan banyak lagi.

Pengertian Jurnalistik TV

Jurnalistik Televisi adalah proses  pencarian,  pengumpulan, penyuntingan, dan penyebarluasan  berita melalui  media televisi.

Jurnalisme TV muncul sejak televisi yang identik dengan hiburan juga menyiarkan program berita (news program).

Berita TV dianggap sebagai media yang paling berpengaruh bagi jurnalisme. Efek pada setiap penonton dianggap lebih persuasif dibandingan media lain.

Televisi menawarkan liputan yang lebih cepat daripada radio dan memungkinkan pemirsa untuk merasa lebih seolah-olah mereka mengalami peristiwa tersebut karena TV dapat memvisualisasikan apa yang sedang terjadi.

Menurut catatan sejarah jurnalistik (history of journalism), Jurnalistik TV pertama kali muncul tahun 1947, ketika stasiun NBC menyiarkan acara “Meet The Press” yang diadopsi dari program siaran radio.

Acara ini menampilkan tokoh politik, ekonomi, dan masalah internasional dengan jurnalis Martha Roundtree sebagai moderator.

Karakteristik Jurnalistik TV

Jurnalisme TV memiliki karakteristik sebagai berikut:

1. Audio Visual

TV menyajikan gambar dan suara.  Jurnalistik televisi merupakan paduan media komunikasi gambar (visual) dan suara (audio).

2. Mengutamakan gambar

Jurnalisme TV atau berita TV mengutamakan rekamangambar hidup (video). Dalam pengumpulan data (news gathering) , wartawan media televisi harus selalu ada di lokasi kejadian, on the spot, untuk mendapatkan gambar.

Ada ungkapan no pictures, no news. Bahkan, dalam peristiwa tertentu, kata-kata harus minim dan lebih banyak menampilkan gambar. Words must less than pictures.

Tidak ada yang lebih buruk bagi seorang reporter televisi jika ia datang ke kantor tanpa membawa gambar yang bisa menunjang berita yang akan ditulisnya. Terlebih bila stasiun televisi lain justru memiliki gambar tersebut.

Gambar video sebuah berita bisa menjadi penentu kredibilitas stasiun TV, oleh karena itu seorang reporter berita dituntut untuk mendapatkan gambar dari berita yang dilaporkannya sebaik mungkin.

Jika ia gagal memperoleh gambar tersebut, dan ternyata stasiun TV lain mendapatkannya, maka kredibilitas stasiun TV bisa hancur dalam sekejap.

3. Melibatkan Banyak Orang

Proses pemberitaan di TV melibatkan banyak orang, mulai dari produser, wartawan (reporter, jurnalis TV,  juru kamera (camera person), editor gambar, dan penyiar berita (news announcer ), pembaca berita (news reader), atau penyaji berita (news presenter).

Tim inti di lapangan –dalam meliput berita—terdiri dari reporter dan juru kamera. Mereka adalah kunci utama dari program berita TV.

Stasiun TV juga menerima berita dari reporter dan juru kamera free lance atau reporter amatir yang kebetulan memiliki rekaman berita yang dibutuhkan atau bernilai berita.

Dalam kasus bencana alam, misalnya gempa, stasiun TV kerap menampilkan video amatir yang dibuat warga yang kebentulah merekam peristiwa.

4. Penyaji Berita

Penyaji berita (news presenter) menjadi ujung tombak di studio dalam program berita. Penampilan penyaji  berita  dan  reporter  di  layar  kaca  dapat  mempengaruhi  persepsi  dan  penerimaan  pemirsa televisi.

5. Gaya Bahasa TV

Jurnalistik TV, seperti halnya jurnalistik radio, menggunakan bahasa tutur atau bahasa percakapan (lisan).

Penulis naskah berita TV menulis berdasarkan gambar (write to pictures), menulis untuk gambar (writing for visual), atau bertutur tentang gambar.

6. Proses Produksi Rumit

Jurnalistik TV melalui proses produksi yang rumit sebelum berita disampaikan kepada publik.

Proses pemberitaan (news processing) jurnalistik televisi meliputi tiga aktivitas pokok:

  1. News Gathering – peliputan oleh reporter dan juru kamera.
  2. News Production – penulisan naskah dan pengeditan gambar dengan durasi tertentu. Naskah berita TV harus sinkron dengan gambar.
  3. News Presenting – penyajian berita oleh news presenter dalam program berita.

Karakteristik Jurnalistik TV lainnya sama dengan karakteristik media TV itu sendiri, seperti:

  • Dapat dilihat dan didengar hanya saat siaran berlangsung.
  • Dapat dilihat dan didengar kembali hanya bila diputar kembali rekamannya.

7. Sekilas

Karakteristik ini sekaligus kelemahan jurnalisme televisi. Berita yang ditayangkan di layar televisi umumnya hanya muncul satu kali.

Jika pemirsa tidak bisa menangkap isi berita pada tayangan pertama, ia tak punya peluang untuk minta diulang.

Jenis-Jenis Berita TV

Dalam jurnalistik dikenal banyak jenis berita. Jenis-jenis berita di jurnalistik TV meliputi:

1. Hard News

Hard News adalah berita  teraktual, lugas, singkat, langsung ke pokok persoalan, yang segera dipublikasikan atau harus secepatnya harus diketahui khalayak, dengan topik politik, ekonomi, keamanan, kriminalitas, dan kasus serius lainnya.

Alur berita Hard News mengikuti struktur piramida terbalik (inverted pyramid) dengan bagian yang terpenting pada pembukaan berita.

2. Soft News / Feature

Soft News atau berita ringan –seringkali juga disebut dengan feature– yaitu berita yang tidak terkait dengan aktualitas, namun memiliki daya tarik bagi khalayak pemirsa.

Dengan kata lain, Berita lunak atau soft news adalah segala informasi yang penting dan menarik yang disampaikan secara mendalam namun tidak bersifat harus segera ditayangkan. Topik softnews antara lain olahraga, hiburan, fashion, gaya hidup, budaya.

4. Investigative Reports

Investigative Reports atau disebut juga laporan penyelidikan (investigasi) adalah jenis berita eksklusif yang dibuat secara mendalam dan komprehensif.

Datanya tidak dapat diperoleh di permukaan, tetapi harus dilakukan berdasarkan penyeledikan. Penyajian berita seperti ini membutuhkan waktu lama dan biasanya disajikan dalam program khusus.

Format Berita TV

Berita di media televisi dapat disampaikan dalam berbagai format (TV News Format). Format yang akan dipilih tergantung pada data, gambar, dan momentum.

Secara umum, format berita TV berisi suara dan gambar, sebagaimana karakteristik TV sebagai media audio-visual.

Berikut ini jenis-jenis format berita dalam jurnalisme TV:

1. Reader (RDR)

Reader adalah format berita TV yang paling sederhana, yaitu hanya berupa lead in yang dibaca presenter, tidak memiliki gambar ataupun grafik. Reader biasanya sangat singkat. Durasi maksimal 30 detik.

Reader biasanya dipilih karena naskah berita dibuat dekat dengan saat deadline dan tidak sempat dipadukan dengan gambar.

Bisa juga karena perkembangan peristiwa baru sampai ke tangan redaksi, ketika siaran berita sedang berlangsung. Maka perkembangan terbaru ini pun disisipkan di tengah program siaran.

Isi berita dapat berhubungan atau tidak berhubungan dengan berita yang sedang ditayangkan.

2. Voice Over (VO)

Voice Over (VO) adalah format berita TV yang lead in dan tubuh beritanya dibacakan oleh presenter seluruhnya. Drasi satu format berita VO antara 20-30 detik.

Ketika presenter membaca tubuh berita, gambar pun disisipkan sesuai dengan konteks isi narasi. Ini jenis berita paling banyak digunakan dalam jurnalistik TV.

3. Voice Over Grafik (VOG)

VO Grafik adalah format berita TV yang lead in dan tubuh beritanya dibacakan oleh presenter seluruhnya.

Namun, ketika presenter membaca tubuh berita, tidak ada gambar yang menyertainya kecuali hanya grafik atau tulisan.

Hal ini mungkin terpaksa dilakukan karena peristiwa yang diliput sedang berlangsung dan redaksi belum menerima kiriman gambar peliputan yang bisa ditayangkan.

4. Sound on Tape (SOT)

Sound on Tape (SOT) adalah format berita TV yang hanya berisi lead in dan soundbite dari narasumber. Presenter hanya membacakan lead in berita, kemudian disusul oleh pernyataan narasumber (soundbite).

Format berita ini dipilih jika pernyataan narasumber dianggap lebih penting ditonjolkan daripada disusun dalam bentuk narasi.

Format SOT ini bisa bersifat sebagai pelengkap dari berita yang baru saja ditayangkan sebelumnya, atau bisa juga berdiri sendiri. Durasi SOT disesuaikan dengan kebutuhan, tapi biasanya maksimal satu menit.

5. Voice Over – Sound on Tape (VO-SOT)

VO-SOT adalah format berita TV yang memadukan voice over (VO) dan sound on tape (SOT). Durasi VO-SOT tak lebih dari 60 detik: 40 detik untuk VO dan 20 detik untuk soundbite.

Lead-in dan isi tubuh berita dibacakan presenter. Lalu di akhir berita dimunculkan soundbite atau clip dari narasumber sebagai pelengkap dari berita yang telah dibacakan sebelumnya.

6. Package (PKG)

Package adalah format berita TV yang hanya lead in-nya yang dibacakan oleh presenter, tetapi isi berita merupakan paket terpisah, yang ditayangkan begitu presenter selesai membaca lead in.

Paket berita sudah dikemas jadi satu kesatuan yang utuh dan serasi antara gambar, narasi, soundbite, dan bahkan grafis. Lazimnya tubuh berita ditutup dengan narasi.

Kalau dirasa penting, reporter dapat muncul dalam paket berita tersebut (stand up) pada awal atau akhir berita. Durasi maksimal total sekitar 2 menit 30 detik.

7. Live on Cam

Live on Cam adalah format berita TV yang disiarkan langsung dari lapangan atau lokasi peliputan.

Sebelum reporter di lapangan menyampaikan laporan, presenter lebih dulu membacakan lead in dan kemudian ia memanggil reporter, di lapangan untuk menyampaikan hasil liputannya secara lengkap. Laporan ini juga bisa disisipi gambar yang relevan.

Karena siaran langsung memerlukan biaya telekomunikasi yang mahal, tidak semua berita perlu disiarkan secara langsung. Format ini dipilih jika nilai beritanya amat penting, luar biasa, dan peristiwanya masih berlangsung.

8. Live on Tape (LOT)

Live on Tape adalah format berita TV yang direkam secara langsung di tempat kejadian, namun siarannya ditunda (delay).

Jadi, reporter merekam dan menyusun laporannya di tempat peliputan, dan penyiarannya baru dilakukan kemudian.

Format berita ini dipilih untuk menunjukkan bahwa reporter hadir di tempat peristiwa. Namun, siaran tak bisa dilakukan secara langsung karena pertimbangan teknis dan biaya.

9. Live by Phone

Live by Phone adalah format berita TV yang disiarkan secara langsung dari tempat peristiwa dengan menggunakan telepon ke studio.

Lead in berita dibacakan presenter, dan kemudian ia memanggil reporter yang ada di lapangan untuk menyampaikan laporannya.

Wajah reporter dan peta lokasi peristiwa biasanya dimunculkan dalam bentuk grafis. Jika tersedia, bisa juga disisipkan gambar peristiwa sebelumnya.

10. Phone Record

Phone Record adalah format berita TV yang direkam secara langsung dari lokasi reporter meliput, tetapi penyiarannya dilakukan secara tunda (delay).

Format ini sebetulnya hampir sama dengan Live by Phone, hanya teknis penyiarannya secara tunda. Format ini jarang digunakan, dan biasanya hanya digunakan jika diperkirakan akan ada gangguan teknis saat berita dilaporkan secara langsung.

11. Visual News

Visual News adalah format berita TV yang hanya menayangkan (rolling) gambar-gambar atau video yang menarik dan dramatis.

Presenter cukup membacakan lead in, dan kemudian visual ditayangkan tanpa tambahan narasi apa pun, seperti apa adanya.

12. Vox Pop

Secara bahasa Vox Pop (Latin: Vox Populi) artinya “suara rakyat”. Vox pop bukan format berita, namun biasa digunakan untuk melengkapi format berita yang ada.

Isinya biasanya adalah komentar atau opini dari masyarakat tentang suatu isu. Jumlah narasumber yang diwawancarai sekitar 4-5 orang.

Vox Pop disebut juga Audience Opinion karena berisi pendapat atau komentar warga masyarakat.

Penulisan Naskah Berita TV

Menulis naskah berita TV pada dasarnya sama dengan menulis berita radio, namun script berita TV disusun berdasarkan gambar (video) yang tersedia.

Prinsip penulisan berita TV antara lain mengacu pada ungkapan Confucius: “Easy writing hard listening. Hard writing easy listening”.

Penulisan naskah berita televisi secara garis besar mengacu pada gaya bahasa berita TV dan rumus 5C.

1. Gaya Bahasa Berita TV

Gaya bahasa berita TV sebagai berikut:

  1. Menggunakan bahasa sehari-hari atau gaya percakapan
  2. Menggunakan kalimat-kalimat pendek dan lugas
  3. Satu kalimat satu ide
  4. Membatasi narasi atau berita hanya pada satu tema utama

2. Rumus 5C

Penulisan berita di Media TV mengacu pada rumus 5C, yaitu:

  1. Conversational
  2. Clear
  3. Concise
  4. Compelling
  5. Cliché free.

Conversational – percakapan, bahasa tutur, menulis untuk didengar, tulislah naskah berita seperti gaya orang berbicara, kalimat pendek.

Clear – jelas, lugas, denotatif, satu makna, hindari jargon atau slang yang hanya dikenal kalangan tertentu, menghindari susunan kalimat yang rumit.

Concise – ringkas, kalimat pendek, hemat kata.

Compelling  — menggunakan kalimat aktif. Kalimat aktif juga lebih pendek daripada kalimat pasif.

Cliché free  — bebas kata klise ataa kata jenuh, yaitu kata-kata yang terlalu sering digunakan.

Kata kilse sering dipakai dalam transisi (peralihan) berita atau di awal laporan/tulisan:

  • sementara itu
  • dapat ditambahkan
  • perlu diketahui
  • dalam rangka
  • bahwasanya
  • sehubungan dengan hal itu
  • selanjutnya
  • adapun
  • dapat kami informasikan
  • dapat kami laporkan

Baca Juga: Kata Mubazir dan Kata Jenuh dalam Bahasa Jurnalistik

Teknis Penulisan Berita TV

Teknis penulisan kata dalam berita TV pada dasarkan sama dengan cara menulis berita radio, yaitu menggunakan bahasa tutur dengan prinsip “Write the Way You Talk” (tuliskan cara pengucapannya).

1. Angka

Angka 1-11 ditulis pengucapannya:  satu, dua, dst.. sampai sebelas. Angka 12 ke atas ditulis angkanya: 12, 13, 14, dan seterusnya.

2. Singkatan dan akronim

Tuliskan kepanjangannya lebih dulu sebelum singkatan. Contoh: Dewan Perwakilan Rakyat atau D-P-R; bukti pelanggaran atau tilang. Singkatan yang diucapkan per huruf dipisah dengan tanda hubung. Contoh: M-U-I, S-H-U.

3. Punctuation (Tanda Baca)

Jangan gunakan tanda baca (punctuation) dalam penulisan berita TV dan radio, seperti titik, koma, dan tanda petik.

Gunakan slash atau aris miring satu (/) untuk jeda atau koma. Garis miring dua (//) untuk titik. Garis miring tiga (///) untuk akhir naskah. Tuliskan “dalam tanda petik” jika terpaksa ada kata-kata yang bermakna konotatif.

4. Atribusi + Nama

Sebutkan identitas, gelar, atau jabatan sebelum nama. Contoh: Seorang mahasiswi UIN Bandung –Siti Nurhalisah— mengatakan/ dirinya dibuat pusing oleh dosen; Direktur Lembaga Survei Indonesia –Ahmad Fulan—mengatakan/ hasil survei …

Alur Naskah Berita TV

1. Reporter

Reporter membuat keputusan besar dengan menentukan angle, kutipan yang digunakan, informasi yang harus ditinggalkan, pertanyaan apa yang harus ditanyakan, dll.

2. Sub-Editor / Associate Editor

Sub-editor adalah orang  senior pertama yang melihat skrip, biasanya untuk menghilangkan kesalahan, mengubah sudut (angle), verifikasi fakta, dan umumnya menawarkan panduan kepada reporter.

3. Editor Berita

Sub-Editor kemudian meneruskan skrip ke Editor, yang membuat keputusan besar terkait konten. Apa informasi harus ditambahkan, apa yang harus dihapus, kepatuhan terhadap masalah etika dan hukum.

4. Editor Revisi

Editor revisi biasanya digunakan dalam meningkatkan gaya skrip, menambahkan warna, dan membuatnya mudah dibaca.

Demikian ulasan ringkas tentang dasar-dasar jurnalistik televisi. Wasalam. (www.romeltea.com).

Referensi:

  • Muda, Dedy Iskandar. 2005. Jurnalistik Televisi: Menjadi Reporter Profesional. PT Remaja Rosdakarya. Bandung
  • Baksin, Askurifai. 2006. Jurnalistik Televisi: Teori dan Praktik. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
  • Harahap, Arifin S. 2006. Jurnalistik Televisi: Teknik Memburu dan Menulis Berita. Jakarta: PT Indeks
  • JB Wahyudi, Dasar-Dasar Jurnalistik Radio dan Televisi, Pustaka Utama Grafiti. Jakarta, 1996.
  • Asep Syamsul M. Romli, Broadcast Journalism: Panduan Menjadi Penyiar, Reporter, dan Scriptwriter. Nuansa, Bandung, 2004.
  • History of Broadcast Journalism
  • History of Journalism

 

Berita Televisi Jurnalistik Jurnalistik Televisi Jurnalistik TV

Related Post

Leave a reply