Disrupsi Media Massa: Humas Tidak Lagi Butuh Wartawan, Benarkah?

  • Whatsapp

Tupoksi Humas Modern

BENARKAH humas tidak lagi butuh wartawan? Mari kita bahas mengapa hubungan masyarakat (humas) atau public relations (PR) disebut tak lagi perlu jurnalis atau awak media. Ini terkait hubungan media (media relations) dam tugas humas.

Pendapat “humas saat ini tidak lagi membutuhkan wartawan” dikemukakan Jason Falls, pendiri Social Media Explorer, dalam sebuah artikel dengan judul cukup provokatif: “Sorry Journalists, We Don’t Need You Anymore”.

“Maaf Wartawan, Kami Tidak Membutuhkan Anda Lagi!” kata Falls.

Saya sependapat dengan Falls, dengan catatan:

  • Praktisi humas sudah memiliki keterampilan jurnalistik seperti para wartawan
  • Media internal lembaganya –khususnya website dan media sosial– mampu bersaing dengan media pers (situs berita/media online) yang dikelola wartawan.

Dulu, humas sangat butuh wartawan untuk publikasi kegiatan, sosialisasi, dan/atau promosi program lembaganya. Kini, semua lembaga, baik instansi pemerintah maupun swasta/lembaga bisnis, punya website dan media sosial.

Baca Juga

Dengan punya media sendiri (website dan media sosial), sebuah lembaga leluasa melakukan publikasi, sosialisasi, dan promosi.

Trennya, bahkan, justru wartawan yang kini rajin membuka website lembaga atau follow akun medsos instansi, tokoh, pejabat, artis, dll. untuk mendapatkan rilis atau berita terbaru dari sebuah lembaga, jika mereka tidak menerima langsung rilis dari bagian humas atau marketing.

Jadi, humas tidak lagi butuh wartawan bisa jadi benar, dengan catatan tadi –kalangan humasnya memiliki kemampuan jurnalistik yang setara dengan wartawan profesional dan media humasnya dikelola secara profesional pula.

Media Kehilangan Pembaca

Pandangan “humas tidak lagi butuh wartawan” yang dikemukakan Falls didasarkan pada fakta menurunkan popularitas media, khususnya media cetak.

Fakta-faktanya, menurut Falls, adalah ini:

  • Langganan surat kabar berbayar terus menurun dengan tingkat 2-3 persen setiap enam bulan sejak 2005 (Editor & Penerbit)
  • Beberapa surat kabar harian utama telah mengalami penurunan langganan yang lebih tajam pada tahun 2007. (Editor & Penerbit)
  • Audiens untuk berita malam telah menurun satu juta pembaca per tahun selama 25 tahun berturut-turut (Nielsen Media Research)
  • 2007 menampilkan minggu yang paling sedikit ditonton dalam catatan sejarah untuk empat jaringan televisi besar (Associated Press)
  • Sekarang seolah-olah jurnalisme membutuhkan lebih banyak dorongan untuk tinggal di rumah, muncullah sebuah pos terdepan untuk jurnalisme warga online (citizen journalism).

Falls juga mengemukakan data blogosphere mulai mengumpulkan pengikut. Ada banyak blog mirip situs berita yang menyediakan beragam informasi aktual dan pendapat.

Karena humas punya media sendiri dan bisa memanfaatkan blogger untuk menyebarkan publikasi (content placement), maka humas bisa mengatakan “Kami tidak lagi membutuhkan Anda, jurnalis!”.

Contoh kasus, Forum Wartawan Otomotif merasa tersinggung ketika Daihatsu lebih dahulu memberikan kesempatan kepada sejumlah Key Opinion Leader (KOL) alias influncer, untuk mengetes All New Daihatsu Terios.

wartawan vs influencer media sosial

Wartawan vs Influencer

Saat ini pemberitaan media atau wartawan bersaing dengan influencer, termasuk buzzer dan buzzerp. Humas bisa memanfaatkan influencer dan buzzer sebagai “pengganti” wartawan.

Mengutip Mix,  dulu masyarakat hanya dipengaruhi oleh berita-berita yang disebarkan wartawan lewat media mereka, namun saat ini, dengan adanya digital, publik memiliki pilihan untuk memilih informasi yang ingin mereka peroleh atau percayai, baik dari jurnalis (media) atau influencer–seperti blogger, selebgram, selebtwit, dan youtubers.

Bahkan, ada juga jurnalis yang berprofesi ganda sebagai influencer atau meninggalkan profesi jurnalisnya untuk kemudian menjadi seorang influencer. Meskipun, kebanyakan media bukanlah influencer, serta tidak semua jurnalis adalah juga influencer.

“Most influencers aren’t journalists, and not all journalists are influencers. But sometimes, their powers are combined in a super-influential hybrid who drives conversations,” demikian pendapat Devon Wijesinghe, CEO of Insightpool, seperti dirilis di PRweek.com.

Namun, ditegaskan Devon, jurnalis atau wartawan masih memiliki kekuatan sekaligus paling kaliber untuk trust atau kebenaran informasi.

Alasannya, mereka bekerja untuk institusi yang menjaga dan mengawal betul standard tersebut. Bahkan, sebagian besar organisasi tersebut melarang wartawan mereka untuk menerima pembayaran dalam bentuk apa pun.

Disrupsi Media Massa

“Fenomena disrupsi media massa saat ini sudah terjadi yang ditandai banyaknya penggunaan influencer dalam pemberian informasi dibandingkan wartawan.” Demikian diberitakan AyoBekasi.

Dulu, kalau agen tunggal pemegang merek mempunyai produk mobil baru, wartawan suka diajak ke luar negeri. Sekarang, mereka banyak mengundang influencer.

“Ini menjadi tantangan bagi media dan wartawan di era disrupsi media ini,” kata Direktur Bisnis Pikiran Rakyat Januar P Ruswita pada seminar “Peran Pers di Era Disrupsi Media di Bandung, 12 Maret 2020.

Dikemukakan, teknologi internet telah mengubah dunia media massa dan jurnalisme, termasuk perilaku konsumsi dan produk komersial.

Proses produksi konten pun menjadi berubah, terutama dalam seleksi, konfirmasi, cek and ricek, editing, dan kode etik.

Di sisi sumber berita, ada kecenderungan wartawan menggunakan sosial media sebagai sumber berita. Di Indonesia, sebanyak 9 dari 10 wartawan menggunakan sosial media sebagai sumber informasi. Ada kecenderungan berita dibuat saja dulu, untuk mengejar kecepatan dan jumlah pembaca yang banyak.

Nah, bagaimana, apakah humas benar-benar sudah tidak butuh wartawan lagi? IMHO, humas masih membutuhkan wartawan, terutama jurnalis media mainstream yang menjadi “referensi kebenaran” sebuah berita dan jumlah pembaca banyak pisan. Wasalam.*

 

Related Posts

Leave a Reply