Komunikasi Efektif: Proses, Hambatan, Tips

Komunikasi itu keterampilan (skill). Lancar berkomunikasi dan komunikasi efektif bisa dilatih. Berikut panduan lengkap tips komunikasi efektif yang  merupakan “kompilasi” teknik komunikasi efektif yang dikemukakan para ahli.

Tips Komunikasi Efektif

Read More

Agar komprehensif, ulasan tentang komunikasi efektif ini diawali dengan proses komunikasi serta tujuan dan hambatannya.

Proses komunikasi adalah panduan sempurna untuk mencapai komunikasi yang efektif. Jika diikuti dengan benar, proses tersebut biasanya dapat memastikan bahwa pesan pengirim akan dipahami oleh penerima.

Proses Komunikasi

Komunikasi adalah sebuah proses yang melibatkan tahapan atau alur tertentu. Proses komunikasi sudah tergambar dalam postingan tentang unsur komunikasi.

Secara ringkas, Proses Komunikasi dapat dipahami dalam bagan berikut ini. Komunikasi dimulai dari sender yang melakukan encoding, memilih saluran, lalui tahap decoding oleh receiver, dan feedback kepada sender.

 

Proses Komunikasi
Bagan Proses Komunikasi (Kompas)

Dari gambar di atas, proses komunikasi dimulai seorang sender (pengirim pesan atau komunikator) yang memiliki pesan (message) yang harus disampaikan.

1. Pesan (Message)

Secara bahasa, pesan artinya perintah, nasihat, permintaan, amanat yang disampaikan lewat orang lain; perkataan (nasihat, wasiat) yang terakhir (dari orang yang akan meninggal dunia). (KBBI)

Dalam studi retoris dan komunikasi, pesan diartikan sebagai informasi yang disampaikan dengan kata-kata (dalam ucapan atau tulisan), dan/atau tanda dan simbol lainnya.

2. Pengirim (Sender/Communicator)

Sender adalah pengirim pesan atau komunikator. Komunikator bisa perorangan, kelompok, atau lembaga/perusahaan. Media massa juga komunikator dan wartawannya berkomunikasi (menyampaikan berita) atas nama lembaga.

Pengalaman, sikap, pengetahuan, keterampilan, persepsi, dan budaya pengirim memengaruhi pesan.

3. Encoding

Encoding atau pengkodean/penyandian adalah proses penciptaan bentuk pesan melalui kode-kode. Dalam tahap ini sender mengubah pikiran atau ide menjadi suatu format pesan yang dapat diterima oleh penerima.

Menurut Mukarom dalam Teori-Teori Komunikasi (2020), encoding adalah proses pembuatan ide atau gagasan yang disusun menggunakan simbol atau kode untuk disebarkan kepada khalayak melalui saluran media tertentu.

Simbol dapat mengambil berbagai bentuk seperti, bahasa, kata, atau gerak tubuh. Simbol-simbol ini digunakan untuk menyandikan ide menjadi pesan yang dapat dipahami orang lain.

Proses encoding disebut juga aktivitas menyandi yang bisa dilakukan sekali atau berulang-ulang. Dapat diartikan pula, encoding adalah aktivitas komunikator dalam menginterpretasikan apa yang ada di pikirannya ke dalam sebuah bentuk yang dapat ditafsirkan oleh indera.

4. Mediator (Channel/Saluran)

Mediator adalah saluran untuk mengirim pesan yang sudah disandikan, seperti panggilan telepon, email, pesan teks, pertemuan tatap muka, atau melalui alat komunikasi lainnya.

Saluran adalah sarana yang digunakan untuk menyampaikan pesan. Sebagian besar saluran berupa lisan atau tulisan, tetapi saat ini saluran visual menjadi lebih umum seiring berkembangnya teknologi.

5. Decoding (Penafsiran)

Setelah pesan diterima, penerima pesan mengartikan, menjabarkan, atau menafsirkan pesan dengan berbagai cara. Decoding terdiri dari aktivitas mengartikan dan menfsirkan pesan-pesan secara fisik sehingga menjadi arti tertentu yang dapat diterima oleh komunikan. Komunikasi efektif terjadi ketika penerima menafsirkan pesan pengirim dengan benar.

6. Penerima (Komunikan/Receiver)

Penerima atau komunikan adalah orang yang menerima pesan.

7. Feedbak (Umpan Balik)

Feedback (umpan balik) dalam komunikasi adalah bentuk tanggapan, respons, atau jawaban komunikan terhadap pesan komunikator.

Setelah menerima pesan, penerima menanggapi dengan cara tertentu dan memberi sinyal tanggapan itu kepada pengirim. Sinyal tersebut dapat berupa komentar lisan, desahan panjang, pesan tertulis, senyuman, atau tindakan lainnya.

8. Noise (Gangguan)

Noise adalah hambatan, gangguan, atau kebisingan dalam proses komunikasi yang membuat pesan tidak sampai, tidak bisa diterima dengan utuh. Selengkapnya di subjudul Hambatan Komunikasi.

Tujuan Komunikasi

Menjalani proses komunikasi efektif didasar tujuan komunikasi. Sedikitnya, ada lima sasaran pokok dalam proses komunikasi. Jika kelima hal ini tercapai, sebuah komunikasi dapat dikatakan efektif:

1. Didengar

Membuat komunikan mendengarkan apa yang kita katakan (atau melihat apa yang kita tunjukkan kepada mereka).

2. Dipahami

Membuat komunikan  atau audiens memahami apa yang mereka dengar atau lihat.

3. Disetujui

Membuat komunikan menyetujui apa yang telah mereka dengar (atau tidak menyetujui apa yang kita katakan, tetapi dengan pemahaman yang benar).

4. Diikuti

Membuat komunikan mengambil tindakan yang sesuai dengan maksud kita dan maksud kita bisa mereka terima.

5. Direspons

Memperoleh umpan balik dari komunikan.

Hambatan Komunikasi 

Hambatan komunikasi disebut noise atau kebisingan. Hambatan atau gangguan komunikasi ini dapat berupa gangguan seperti suara, persepsi yang tidak sama, atau misinterpretasi yang dapat mengubah arti dari pesan yang disampaikan, juga gangguan teknis pada media yang digunakan.

Beberapa noise dalam komunikasi termasuk:

  • Penggunaan media (saluran) yang tidak tepat
  • Tata bahasa yang salah
  • Kata-kata yang bertentangan dengan bahasa tubuh
  • Jargon  atau kata-kata teknis yang digunakan secara terbatas dalam bidang ilmu, profesi, atau kelompok tertentu.

Hambatan komunikasi adalah segala bentuk gangguan yang terjadi di dalam proses penyampaian dan penerimaan suatu pesan yang disebabkan oleh faktor lingkungan ataupun faktor fisik dan psikis.

Secara garis besar, ada tiga jenis hambatan dalam komunikasi efektif, yakni hambatan fisik, semantik, serta psikologis.

1. Hambatan fisik

Menurut Musa Hubeis, dkk dalam buku Komunikasi Profesional (2018), hambatan fisik dapat mengganggu komunikasi efektif.

Biasanya disebabkan oleh kondisi fisik lingkungan, atau komunikator dan komunikan. Contoh, gangguan sinyal karena cuaca, gangguan kesehatan, gangguan alat komunikasi, dan sebagainya.

2. Hambatan semantik

Terkadang dalam berkomunikasi, ada penggunaan kata yang punya arti ganda, tidak jelas, atau berbelit-belit. Situasi seperti ini bisa menjadi hambatan besar dalam komunikasi efektif.

Karena sebuah proses komunikasi akan dikatakan efektif, jika komunikator dan komunikannya mencapai kesamaan makna. Ketika hambatan semantik terjadi, besar kemungkinan komunikan akan memiliki persepsi, pandangan, dan pemikiran yang berbeda dengan apa yang diharapkan komunikator.

3. Hambatan psikologis

Dalam komunikasi efektif, bentuk hambatan psikologis dan sosial sangat mungkin terjadi. Contohnya, perbedaan nilai, harapan, keyakinan, pendapat, pandangan, dan sebagainya.

Perbedaan inilah yang menyebabkan komunikasi efektif jarang tercapai. Karena antara komunikator dan komunikan punya cara berbeda dalam memandang suatu hal.

Hanya menyimak sebagian isi pesan juga merupana noise. Misalnya, penerima pesan hanya melihat isi pesan dengan mengabaikan faktor lainnya, seperti raut wajah, situasi, ekspresi wajah, nada bicara, serta emoticon.

Tips Komunikasi Efektif

Kini saatnya kita bahas tentang pengertian komunikasi efektif dan bagaimana melakukannya.

Pengertian Komunikasi Efektif

Komunikasi efektif lebih dari sekadar menyampaikan atau bertukar pesan. Komunikasi efektif adalah pertukaran informasi, ide, perasaan yang menghasilkan perubahan sikap.

Komunikasi efektif adalah proses transmisi ide, pemikiran, atau informasi dari pengirim pesan (komunikator) kepada penerima pesan (komunikan) yang menghasilkan hubungan atau timbal balik positif bagi kedua belah pihak. Komunikasi efektif ditandai dengan tercapainya tujuan. (Gramedia).

Karakteristik Komunikasi Efektif menurut Stewart L. Tubbs dan Sylvia Moss (2005) mencakup lima hal berikut ini:

1. Pemahaman

Penerimaan secara cermat atas rangsangan yang diberikan oleh komunikator. Komunikasi dikatakan efektif ketika komunikan mampu memahami seluruh isi pesan yang disampaikan oleh komunikator.

2. Kesenangan

Komunikasi tidak hanya ditujukan untuk menyampaikan informasi dan memberikan pemahaman, akan tetapi juga untuk menimbulkan kesenangan. Tingkat kesenangan dalam berkomunikasi berkaitan dengan perasaan komunikan

3. Memengaruhi Sikap

Manusia melakukan komunikasi memiliki berbagai macam tujuan, salah satunya untuk mempengaruhi orang lain, yaitu dengan menggunakan komunikasi persuasi.

Komunikasi media –seperti berita dan iklan– merupakan komunikasi efektif yang terbukti memengaruhi pemahaman dan perilaku audiens.

4. Hubungan Sosial yang Baik, Saling Percaya

Komunikasi ditujukan untuk menumbuhkan hubungan sosisal yang baik. Adanya hubungan saling percaya antara komunikator dan komunikan, akan mempengaruhi keefektifan komunikasi.

5. Tindakan

Efektivitas komunikasi diukur dari tindakan nyata yang dilakukan oleh komunikan pasca menerima pesan. Hal tersebut merupakan indikator efektivitas yang paling penting, karena untuk menimbulkan tindakan, komunikator terlebih dahulu harus berhasil menanamkan pengertian, memberikan pemahaman, mempengaruhi emosi atau perasaan dan menumbuhkan sikap yang baik.

Faktor Penentu Komunikasi Efektif

Sejumlah faktor menentukan komunikasi efektif, antara lain:

  1. Kepercayaan komunikan terhadap komunikator.
  2. Kejelasan pesan yang disampaikan.
  3. Keterampilan komunikasi komunikator .
  4. Daya tarik pesan.
  5. Kesesuaian isi pesan dengan kebutuhan komunikan.
  6. Kemampuan komunikan dalam menafsirkan pesan (decoding).
  7. Setting komunikasi kondusif atau nyaman dan menyenangkan.

Hambatan Komunikasi Efektif

Stres dan emosi yang tidak terkendali merupakan sebagian hambatan komunikasi yang efektif.

1. Stres dan emosi

Ketika Anda stres atau kewalahan secara emosional, Anda cenderung salah membaca orang lain, mengirimkan sinyal nonverbal yang membingungkan atau tidak tepat, dan terjerumus ke dalam pola perilaku spontan yang tidak sehat.

Untuk menghindari konflik dan kesalahpahaman, Anda dapat mempelajari cara menenangkan diri dengan cepat sebelum melanjutkan percakapan.

2. Kurang fokus.

Anda tidak dapat berkomunikasi secara efektif saat melakukan banyak tugas. Jika Anda memeriksa telepon Anda, merencanakan apa yang akan Anda katakan selanjutnya, atau melamun, Anda hampir pasti kehilangan isyarat nonverbal dalam percakapan. Untuk berkomunikasi secara efektif, Anda perlu menghindari gangguan dan tetap fokus.

3. Bahasa tubuh yang tidak konsisten.

Komunikasi nonverbal harus memperkuat apa yang dikatakan, bukan bertentangan. Jika Anda mengatakan satu hal, tetapi bahasa tubuh Anda mengatakan hal lain, pendengar Anda mungkin akan merasa bahwa Anda tidak jujur. Misalnya, Anda tidak bisa mengatakan “ya” sambil menggelengkan kepala tidak.

4. Bahasa tubuh negatif.

Jika Anda tidak setuju atau tidak menyukai apa yang dikatakan, Anda mungkin menggunakan bahasa tubuh negatif untuk menolak pesan orang lain, seperti menyilangkan tangan, menghindari kontak mata, atau mengetuk kaki.

Anda tidak harus setuju dengan, atau bahkan menyukai apa yang dikatakan, tetapi untuk berkomunikasi secara efektif dan tidak membuat orang lain bersikap defensif, penting untuk menghindari pengiriman sinyal negatif.

Keterampilan Komunikasi Efektif

Keterampilan 1: Pendengar aktif

Saat berkomunikasi dengan orang lain, kita sering fokus pada apa yang harus kita katakan. Namun, komunikasi yang kurang efektif tentang berbicara dan lebih banyak tentang mendengarkan.

Mendengarkan dengan baik berarti tidak hanya memahami kata-kata atau informasi yang disampaikan, tetapi juga memahami emosi yang ingin disampaikan oleh pembicara.

Ada perbedaan besar antara mendengarkan secara aktif dan hanya mendengar.

  • Ketika Anda benar-benar mendengarkan—ketika Anda terlibat dengan apa yang dikatakan—Anda akan mendengar intonasi halus dalam suara seseorang yang memberi tahu Anda bagaimana perasaan orang itu dan emosi yang ingin mereka komunikasikan.
  • Saat Anda menjadi pendengar aktif yang terlibat, Anda tidak hanya akan memahami orang lain dengan lebih baik, Anda juga akan membuat orang tersebut merasa didengarkan dan dipahami, yang dapat membantu membangun hubungan yang lebih kuat dan lebih dalam di antara Anda.

Dengan berkomunikasi dengan cara ini, Anda juga akan mengalami proses yang menurunkan stres dan mendukung kesejahteraan fisik dan emosional.

Jika orang yang Anda ajak bicara tenang, misalnya, mendengarkan dengan penuh perhatian akan membantu menenangkan Anda juga.

Demikian pula, jika orang tersebut gelisah, Anda dapat membantu menenangkannya dengan mendengarkan dengan penuh perhatian dan membuat orang tersebut merasa dimengerti.

Jika tujuan Anda adalah untuk sepenuhnya memahami dan terhubung dengan orang lain, mendengarkan dengan cara terlibat sering kali muncul secara alami.

Jika tidak, coba tips berikut. Semakin banyak Anda mempraktikkannya, interaksi Anda dengan orang lain akan semakin memuaskan dan bermanfaat.

Kiat untuk menjadi pendengar yang terlibat

1. Fokus sepenuhnya pada pembicara.

Anda tidak dapat mendengarkan dengan cara yang terlibat jika Anda terus-menerus memeriksa ponsel atau memikirkan hal lain. Anda harus tetap fokus pada pengalaman dari momen ke momen untuk menangkap nuansa halus dan isyarat nonverbal penting dalam percakapan.

Jika Anda merasa sulit berkonsentrasi pada beberapa pembicara, coba ulangi kata-kata mereka di kepala Anda—itu akan memperkuat pesan mereka dan membantu Anda tetap fokus.

2. Pilih telinga kanan Anda.

Aneh kedengarannya, sisi kiri otak berisi pusat pemrosesan utama untuk pemahaman ucapan dan emosi. Karena sisi kiri otak terhubung ke sisi kanan tubuh, memilih telinga kanan dapat membantu Anda mendeteksi nuansa emosional dari perkataan seseorang dengan lebih baik.

3. Hindari menyela atau mencoba mengalihkan pembicaraan ke masalah Anda.

Dengan mengatakan sesuatu seperti, “Jika menurut Anda itu buruk, izinkan saya memberi tahu Anda apa yang terjadi pada saya.”

Mendengarkan tidak sama dengan menunggu giliran berbicara. Anda tidak dapat berkonsentrasi pada apa yang dikatakan seseorang jika Anda menyusun apa yang akan Anda katakan selanjutnya. Seringkali, pembicara dapat membaca ekspresi wajah Anda dan mengetahui bahwa pikiran Anda ada di tempat lain.

4. Tunjukkan minat Anda pada apa yang dikatakan.

Mengangguklah sesekali, tersenyumlah pada komunikator, dan pastikan postur tubuh Anda terbuka dan mengundang. Dorong pembicara untuk melanjutkan dengan komentar verbal kecil seperti “ya” atau “oh.”

5. Cobalah untuk mengesampingkan penilaian.

Untuk berkomunikasi secara efektif dengan seseorang, Anda tidak harus menyukai atau menyetujui gagasan, nilai, atau pendapatnya. Namun, Anda perlu mengesampingkan penilaian Anda dan menahan kesalahan dan kritik untuk memahaminya sepenuhnya.

Komunikasi yang paling sulit, ketika berhasil dijalankan, seringkali dapat mengarah pada hubungan yang tidak mungkin dengan seseorang.

6. Berikan umpan balik.

Jika tampaknya ada keterputusan, renungkan apa yang telah dikatakan dengan parafrase. “Apa yang saya dengar adalah,” atau “Sepertinya Anda mengatakan,” adalah cara yang bagus untuk merefleksikan kembali.

Namun, jangan sekadar mengulangi apa yang dikatakan pembicara secara verbatim—Anda akan terdengar tidak tulus atau tidak cerdas. Alih-alih, ungkapkan apa arti kata-kata pembicara bagi Anda. Ajukan pertanyaan untuk mengklarifikasi poin-poin tertentu: “Apa maksud Anda ketika Anda mengatakan …” atau “Apakah ini yang Anda maksud?”

7. Dengarkan emosi di balik kata-kata.

Frekuensi ucapan manusia yang lebih tinggilah yang menanamkan emosi. Anda dapat menjadi lebih terbiasa dengan frekuensi ini—dan dengan demikian lebih mampu memahami apa yang sebenarnya dikatakan orang lain—dengan melatih otot-otot kecil telinga tengah Anda (yang terkecil di dalam tubuh).

Anda dapat melakukan ini dengan bernyanyi, memainkan alat musik tiup, atau mendengarkan jenis musik frekuensi tinggi tertentu (simfoni Mozart atau konser biola, misalnya, daripada rock, pop, atau hip-hop frekuensi rendah).

Keterampilan 2: Perhatikan sinyal nonverbal

Cara Anda melihat, mendengarkan, bergerak, dan bereaksi terhadap orang lain memberi tahu mereka lebih banyak tentang perasaan Anda daripada kata-kata saja. Komunikasi nonverbal, atau bahasa tubuh, termasuk ekspresi wajah, gerakan dan gerak tubuh, kontak mata, postur tubuh, nada suara Anda, dan bahkan ketegangan otot dan pernapasan Anda.

Mengembangkan kemampuan untuk memahami dan menggunakan komunikasi nonverbal dapat membantu Anda terhubung dengan orang lain, mengungkapkan apa yang sebenarnya Anda maksudkan, menavigasi situasi yang menantang, dan membangun hubungan yang lebih baik di rumah dan di tempat kerja.

Anda dapat meningkatkan komunikasi yang efektif dengan menggunakan bahasa tubuh yang terbuka—lengan tidak disilangkan, berdiri dengan sikap terbuka atau duduk di tepi kursi Anda, dan menjaga kontak mata dengan orang yang Anda ajak bicara.

Anda juga dapat menggunakan bahasa tubuh untuk menekankan atau meningkatkan sampaikan pesan verbal Anda—tepuk punggung teman sambil memuji keberhasilannya, misalnya, atau memukul kepalan tangan untuk menggarisbawahi pesan Anda.

Tingkatkan cara Anda membaca komunikasi nonverbal

1. Waspadai perbedaan individu.

Orang-orang dari berbagai negara dan budaya cenderung menggunakan gerakan komunikasi nonverbal yang berbeda, jadi penting untuk mempertimbangkan usia, budaya, agama, jenis kelamin, dan keadaan emosi saat membaca sinyal bahasa tubuh.

Seorang remaja Amerika, seorang janda yang berduka, dan seorang pengusaha Asia, misalnya, cenderung menggunakan sinyal nonverbal secara berbeda.

2. Lihatlah sinyal komunikasi nonverbal sebagai sebuah kelompok.

Jangan membaca terlalu banyak isyarat tunggal atau isyarat nonverbal. Pertimbangkan semua sinyal nonverbal yang Anda terima, mulai dari kontak mata hingga nada suara hingga bahasa tubuh.

Siapa pun dapat sesekali terpeleset dan melepaskan kontak mata, misalnya, atau menyilangkan tangan sebentar tanpa sengaja. Pertimbangkan sinyal secara keseluruhan untuk “membaca” seseorang dengan lebih baik.

3. Tingkatkan cara Anda menyampaikan komunikasi nonverbal

Gunakan sinyal nonverbal yang cocok dengan kata-kata Anda daripada bertentangan dengannya. Jika Anda mengatakan satu hal, tetapi bahasa tubuh Anda mengatakan hal lain, pendengar Anda akan merasa bingung atau curiga bahwa Anda tidak jujur.

Misalnya, duduk dengan tangan bersilang dan menggelengkan kepala tidak cocok dengan kata-kata yang memberi tahu orang lain bahwa Anda setuju dengan apa yang mereka katakan.

4. Sesuaikan sinyal nonverbal Anda sesuai dengan konteksnya.

Nada suara Anda, misalnya, harus berbeda saat Anda berbicara kepada seorang anak daripada saat Anda berbicara kepada sekelompok orang dewasa.

Demikian pula, pertimbangkan keadaan emosi dan latar belakang budaya orang yang berinteraksi dengan Anda.

5. Hindari bahasa tubuh yang negatif.

Alih-alih, gunakan bahasa tubuh untuk menyampaikan perasaan positif, bahkan saat Anda tidak benar-benar mengalaminya. Jika Anda gugup menghadapi suatu situasi—wawancara kerja, presentasi penting, atau kencan pertama, misalnya—Anda dapat menggunakan bahasa tubuh yang positif untuk menunjukkan kepercayaan diri, meskipun Anda tidak merasakannya.

Alih-alih memasuki ruangan dengan kepala tertunduk, mata teralihkan, dan meluncur ke kursi, cobalah berdiri tegak dengan bahu ke belakang, tersenyum dan pertahankan kontak mata, dan berikan jabat tangan yang kuat. Ini akan membuat Anda merasa lebih percaya diri dan membantu menenangkan orang lain.

Keterampilan 3: Kendalikan stres

Berapa kali Anda merasa stres saat berselisih dengan pasangan, anak, bos, teman, atau rekan kerja, lalu mengatakan atau melakukan sesuatu yang kemudian Anda sesali?

Jika Anda dapat dengan cepat menghilangkan stres dan kembali ke keadaan tenang, Anda tidak hanya akan menghindari penyesalan seperti itu, tetapi dalam banyak kasus Anda juga akan membantu menenangkan orang lain.

Hanya ketika Anda berada dalam keadaan tenang dan rileks, Anda akan dapat mengetahui apakah situasinya memerlukan respons, atau apakah sinyal orang lain menunjukkan bahwa lebih baik tetap diam.

Dalam situasi seperti wawancara kerja, presentasi bisnis, pertemuan dengan tekanan tinggi, atau perkenalan dengan keluarga orang tersayang, misalnya, penting untuk mengelola emosi, berpikir mandiri, dan berkomunikasi secara efektif di bawah tekanan.

Tips Berkomunikasi secara efektif dengan tetap tenang di bawah tekanan

1. Taktik Ulur Waktu

Gunakan taktik mengulur-ulur waktu untuk memberi diri Anda waktu berpikir.  Mintalah pertanyaan untuk diulangi atau untuk klarifikasi pernyataan sebelum Anda menjawab.

2. Jeda!

Berhenti sejenak untuk mengumpulkan pikiran Anda. Diam tidak selalu merupakan hal yang buruk—jeda dapat membuat Anda tampak lebih memegang kendali daripada terburu-buru menanggapi.

3. Satu poin, contoh, dan pendukung

Buat satu poin dan berikan contoh atau informasi pendukung.  Jika tanggapan Anda terlalu panjang atau Anda mengoceh tentang sejumlah poin, Anda berisiko kehilangan minat pendengar.

Ikuti satu poin dengan sebuah contoh dan kemudian ukur reaksi pendengar untuk mengetahui apakah Anda harus membuat poin kedua.

4. Sampaikan kata-kata Anda dengan jelas.

Dalam banyak kasus, cara Anda mengatakan sesuatu sama pentingnya dengan apa yang Anda katakan. Bicaralah dengan artikulasi yang jelas, pertahankan nada datar, dan lakukan kontak mata. Jaga agar bahasa tubuh Anda rileks dan terbuka.

Akhiri dengan ringkasan dan kemudian berhenti. Rangkum tanggapan Anda dan kemudian berhenti berbicara, bahkan jika itu meninggalkan keheningan di dalam ruangan. Anda tidak harus mengisi keheningan dengan terus berbicara.

Pereda stres cepat untuk komunikasi yang efektif

Saat percakapan mulai memanas, Anda membutuhkan sesuatu yang cepat dan segera untuk menurunkan intensitas emosi. Dengan belajar mengurangi stres dengan cepat pada saat itu, Anda dapat dengan aman mencatat setiap emosi kuat yang Anda alami, mengatur perasaan Anda, dan berperilaku dengan tepat.

1. Kenali saat Anda menjadi stres.

Tubuh Anda akan memberi tahu Anda jika Anda stres saat berkomunikasi. Apakah otot atau perut Anda kencang? Apakah tangan Anda terkepal? Apakah napas Anda dangkal? Apakah Anda “lupa” untuk bernapas?

Luangkan waktu sejenak untuk menenangkan diri sebelum memutuskan untuk melanjutkan percakapan atau menundanya.

2. Bawa indra Anda untuk menyelamatkan.

Cara terbaik untuk meredakan stres dengan cepat dan andal adalah melalui indera—penglihatan, suara, sentuhan, rasa, penciuman—atau gerakan.

Untuk ujian misalnya, Anda bisa memasukkan peppermint ke dalam mulut, menarik napas dalam-dalam, mengepalkan dan mengendurkan otot, atau sekadar mengingat gambar yang menenangkan dan kaya sensorik.

Setiap orang merespons masukan sensorik secara berbeda, jadi Anda perlu menemukan mekanisme koping yang menenangkan Anda.

3. Carilah humor dalam situasi tersebut.

Ketika digunakan dengan tepat, humor adalah cara yang bagus untuk menghilangkan stres saat berkomunikasi. Ketika Anda atau orang-orang di sekitar Anda mulai terlalu serius, carilah cara untuk mencairkan suasana dengan berbagi lelucon atau cerita lucu.

4. Bersedia untuk berkompromi.

Terkadang, jika Anda berdua bisa sedikit membungkuk, Anda akan bisa menemukan jalan tengah yang menyenangkan yang mengurangi tingkat stres bagi semua orang yang bersangkutan.

Jika Anda menyadari bahwa orang lain lebih peduli tentang suatu masalah daripada Anda, kompromi mungkin lebih mudah bagi Anda dan merupakan investasi yang baik untuk masa depan hubungan.

Setuju untuk tidak setuju, jika perlu, dan luangkan waktu dari situasi tersebut agar semua orang bisa tenang. Berjalan-jalanlah di luar jika memungkinkan, atau luangkan beberapa menit untuk bermeditasi. Gerakan fisik atau mencari tempat yang tenang untuk mendapatkan kembali keseimbangan Anda dapat dengan cepat mengurangi stres.

Keterampilan 4: Komunikasi Asetif

Ekspresi langsung dan tegas menghasilkan komunikasi yang jelas dan dapat membantu meningkatkan harga diri dan keterampilan pengambilan keputusan Anda.

Gunakan strategi komunikasi asertif. Komunikasi asertif adalah komunikasi dengan penyampaian secara terbuka, lugas, tegas, namun menjaga rasa hormat kepada orang lain. Dalam artian lain, cara penyampaian secara asertif merupakan komunikasi yang kuat dan tegas namun tetap tenang.

Bersikap asertif berarti mengungkapkan pikiran, perasaan, dan kebutuhan Anda secara terbuka dan jujur, sambil membela diri sendiri dan menghormati orang lain. Itu TIDAK berarti bersikap bermusuhan, agresif, atau menuntut.

Komunikasi yang efektif selalu tentang memahami orang lain, bukan tentang memenangkan argumen atau memaksakan pendapat Anda pada orang lain.

Untuk meningkatkan ketegasan Anda:

  1. Hargai diri Anda dan pilihan Anda. Mereka sama pentingnya dengan orang lain.
  2. Ketahui kebutuhan dan keinginan Anda. Belajarlah untuk mengekspresikannya tanpa melanggar hak orang lain.
  3. Ekspresikan pikiran negatif dengan cara yang positif. Boleh marah, tapi harus tetap hormat juga.
  4. Menerima umpan balik secara positif. Terima pujian dengan anggun, belajarlah dari kesalahan Anda, mintalah bantuan saat dibutuhkan.
  5. Belajarlah untuk mengatakan “tidak”. Ketahui batasan Anda dan jangan biarkan orang lain memanfaatkan Anda. Cari alternatif sehingga semua orang merasa nyaman dengan hasilnya.

Kembangkan teknik komunikasi asertif

  1. Penegasan empati menunjukkan kepekaan terhadap orang lain. Pertama, kenali situasi atau perasaan orang lain, lalu nyatakan kebutuhan atau pendapat Anda. “Aku tahu kamu sangat sibuk di tempat kerja, tapi aku ingin kamu meluangkan waktu untuk kami juga.”
  2. Penegasan yang meningkat dapat digunakan saat upaya pertama Anda tidak berhasil. Anda menjadi semakin teguh seiring berjalannya waktu, yang mungkin mencakup konsekuensi yang diuraikan jika kebutuhan Anda tidak terpenuhi. Misalnya, “Jika Anda tidak mematuhi kontrak, saya akan dipaksa untuk mengambil tindakan hukum.”
  3. Latih ketegasan dalam situasi berisiko rendah untuk membantu membangun kepercayaan diri Anda. Atau tanyakan kepada teman atau keluarga apakah Anda bisa melatih teknik ketegasan pada mereka terlebih dahulu.

Halaman Berikutnya: Kompilasi Tips Komunikasi Efektif

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *