Media Sosial sebagai Sumber Berita

Media Berita vs Media Sosial (Foto: Shutterstock)
Media Berita vs Media Sosial (Foto: Shutterstock)

Media sosial sebagai sumber berita memiliki dua pengertian. Pertama, media sosial menjadi salah satu sumber pemberitaan bagi wartawan atau media berita. Kedua, media sosial menjadi andalan untuk mendapatkan atau mencari berita bagi pengguna atau pembaca.

Bagi saya, Twitter (sekarang X) adalah sumber berita. Di X saya bisa menemukan berita-berita terbaru, terkini, terhangat yang dari akun-akun resmi media berita (situs berita) seperti Antara, Detik, Kompas, Republika, dll. Jadi, saya tidak membuka langsung sebuah situs berita, melainkan buka dulu X.

“Twitter is my morning newspaper,” kata seseorang dalam cuitannya. Saya setuju. Gue banget! Twitter, bagi saya, masih merupakan media sosial berbagi informasi aktual, “What’s happening”, berbeda dengan, misalnya, Facebook yang kontennya dominan postingan “narsis” atau “pamer” pencapaian pribadi.

Berbagai sumber hasil Googling tentang “social media and news” menyebutkan, media sosial kini menjadi platform berita yang sangat penting, baik untuk penyajian maupun konsumsi berita oleh pengguna media sosial.

Oleh karena itu, berita dibagikan oleh media berita di platform seperti Facebook, Instagram, dan Twitter dengan harapan dapat menjangkau sebanyak mungkin konsumen berita.

Dalam lanskap media yang sangat kompetitif ini, media berita bertujuan untuk menarik perhatian konsumen terhadap berita-berita tersebut dengan memasukkan logika media sosial ke dalam pemberitaan mereka.

Read More

Media Sosial Ambil Alih Dunia

social media
wisegeek.org

Media sosial sebagai sumber berita adalah penggunaan platform media sosial online dan bukan platform media tradisional untuk memperoleh berita. Sama seperti televisi yang mengubah masyarakat yang mendengarkan konten media menjadi pengamat konten media pada tahun 1950-an hingga 1980-an, kemunculan media sosial telah menciptakan negara pembuat konten media. Hampir separuh orang Amerika menggunakan media sosial sebagai sumber berita, menurut Pew Research Center.

Sebagai platform partisipatif yang memungkinkan konten buatan pengguna dan berbagi konten dalam jaringan virtual milik sendiri, menggunakan media sosial sebagai sumber berita memungkinkan pengguna untuk terlibat dengan berita dalam berbagai cara, termasuk:

  • Mengonsumsi berita
  • Menemukan berita
  • Membagikan atau posting ulang berita
  • Memposting foto, video, atau laporan berita mereka sendiri (misalnya, terlibat dalam jurnalisme warga atau partisipatif)
  • Mengomentari berita

Menggunakan media sosial sebagai sumber berita telah menjadi cara yang semakin populer bagi orang tua maupun muda untuk memperoleh informasi.

Meskipun sekarang ini mudah bagi siapa pun untuk membuat akun, mereka tetap mencari pengikut, meskipun mereka ahli dalam menghasilkan berita berkualitas tinggi dan menyebarkan informasi penting. Jika iya, Anda bisa mengunjungi website terpercaya seperti untuk mendapatkan follower dari iDigic.

Ada beberapa cara media sosial memberikan dampak positif terhadap dunia berita dan jurnalisme, namun media sosial juga memberikan dampak negatif seperti penyebaran berita palsu (hoax), berita bias, dan konten yang meresahkan.

Jurnalisme Warganet

Tidak seperti platform berita tradisional seperti surat kabar dan acara berita, platform media sosial, seperti Facebook, Twitter, Instagram, Snapchat, dan WhatsApp, memungkinkan orang-orang tanpa latar belakang jurnalistik profesional untuk membuat berita dan meliput peristiwa yang mungkin tidak diliput oleh kantor berita.

Pengguna media sosial mungkin membaca serangkaian berita yang sedikit berbeda dari apa yang diprioritaskan oleh editor surat kabar di media cetak.

Sebuah studi tahun 2019 menemukan bahwa pengguna Facebook dan Twitter lebih cenderung berbagi berita politik, urusan masyarakat, dan media visual. Pengguna media sosial mungkin lebih banyak menyebarkan berita negatif.

Untuk bersaing dalam lingkungan teknologi yang berubah dengan cepat ini, telah terjadi pergolakan sumber berita tradisional ke ruang online. Produksi dan sirkulasi cetakan surat kabar terus menurun secara global, seiring dengan meningkatnya kehadiran outlet berita di media sosial.

Platform terkemuka seperti Twitter dan Facebook telah menjadi kunci dalam menarik pengguna melalui integrasi berita jurnalistik ke dalam umpan berita mereka.

Sebagian besar orang yang mengonsumsi berita di media sosial melaporkan bahwa mengakses berita bukanlah motivasi utama mereka untuk menggunakan media sosial, melainkan mereka melihat dan mengonsumsi berita secara kebetulan.

Meskipun demikian, wawancara informasional mengungkapkan bahwa konsumen ini mengandalkan informasi melalui media sosial.

Beberapa konsumen berita menyatakan bahwa partisipasi merek berita di media sosial tidak meningkatkan kepercayaan mereka terhadap merek tersebut dan bahwa pelaporan yang lebih mendalam dan transparansi mengenai bias justru akan meningkatkan kepercayaan.

Menjangkau Khalayak Luas

Media berita menggunakan media sosial karena untuk menciptakan hubungan dengan pembacanya, menjalin kontak baru, dan bahkan menjangkau khalayak yang lebih luas.

Para jurnalis mungkin mempunyai akun profesional yang menyatakan dengan jelas di mana mereka bekerja. Jika membawa nama media di profil, postingan mereka harus mencerminkan postingan perusahaan dan tidak boleh berbagi opini partisan.

Wartawan diperbolehkan memiliki akun pribadi pribadi, namun mereka tetap harus berhati-hati dengan apa yang mereka posting, sukai, atau komentari.

Media sosial memudahkan jurnalis untuk berkolaborasi dalam berita dengan jurnalis, fotografer, dan videografer lain. Kolaborasi dapat membantu jurnalis menjangkau khalayak yang lebih luas, menceritakan kisah yang lebih kompleks, dan memberikan perspektif yang lebih komprehensif mengenai suatu peristiwa. (Sumber)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *