Penulisan Kata ‘dan’ di Awal Kalimat, Keliru!

Kata “dan” dalam bahasa Indonesia berfungsi sebagai kata penghubung. Kata “dan” menghubungkan antara dua kata, frasa, klausa, dan kalimat yang memiliki makna setara. Dengan demikian, penulisan kata ‘dan’ di awal kalimat itu keliru.

TANYA: “Assalamualaikum, maaf mengganggu… Saya bingung dengan penggunaan bahasa indonesia akhir2 ini. Banyak yg menggunakan kata sambung (penghubung) “dan” di awal kalimat setelah tanda titik. Semisal “Dan hal ini berlaku..” , padahal dahulu menurut yang sering saya baca hal itu tidak terjadi, kalau bagi mereka yang sering membaca buku bahasa arab, memang penggunaan kata “Dan” sering di awal kalimat tapi hal tersebut bukan sebagai kata penghubung, namun merupakan kata pembuka, memang agak berbeda dengan bahasa lain.

Mohon penjelasannya tentang hal ini dalam kalimat bahasa indonesia yang semestinya, terima kasih atas jawabannya smoga Allah membalas kebaikan bapak dengan balasan yang lebih baik amin.”

JAWAB: Wa’alaikum salam…

Terima kasih Bung Omar atas pertanyaan sekaligus masukan berharga bagi saya. Penulisan kata penghubung “dan” di awal kalimat jelas salah, sekali lagi: s a l a h ! Jangan ditiru!

Baca Juga

Logikanya ‘kan, kata penghubung itu digunakan untuk menghubungkan dua hal atau kalimat, bukan untuk mengawali kalimat.

Kesalahan penulisan itu terjadi, utamanya di kalangan wartawan/media, kemungkinan karena salah satu dari dua hal ini: kemalasan atau kebodohan.

Wartawan malas mengecek ejaan atau penulisan yang baik dan benar  sesuai dengan kaidah bahasa; atau memang ia bodoh, tidak well educated, sehingga menulis semaunya. Kalau malas, tidak bisa  dimaafkan. Jika bodoh, dapat dimaafkan, karena bisa diatasi dengan belajar atau diajari.

Sama halnya dengan wartawan/media yang masih saja menggunakan kata mubazir dan kata jenuh dalam penulisan berita, seperti penggunaan kata “sementara itu”, “dalam rangka”, “perlu diketahui”, “seperti kita ketahui”, “dapat ditambahkan”, “selanjutnya”, dan sebagainya. Hal itu karena dua hal tadi, malas atau bodoh.

Bukan hanya itu, kesalahan penulisan “dan” juga sering terjadi dalam penulisan “dan” ketika menghubungkan lebih dari dua hal/benda, misalnya: “di kamar itu ada kursi, meja dan tempat tidur” (tanpa koma). Mestinya, menurut EYD, harus pake koma: ““di kamar itu ada kursi, meja, dan tempat tidur”.

Ada juga penulisan “sehingga” di awal kalimat. Salah juga!

Contoh: “…melakukan aksi perlawanan. Sehingga, polisi menggunakan….”. Mestinya, “…melakukan perlawanan sehingga polisi menggunakan…”, atau “…melakukan perlawanan. Akibatnya, polisi menggunakan….”.

Pedoman penulisan bahasa Indonesia yang baik dan benar membahas juga soal kata-kata penghubung lain yang harus dihindari.

Untuk menghubungkan dua klausa tidak sederajat, bahasa Indonesia tidak mengenal bentuk “di mana” (padanan dalam bahasa Inggris adalah “who”, “whom”, “which”, atau “where”) atau variasinya (“dalam mana”, dengan mana”, “hal mana”, “dalam pada itu”, “yang mana” dan sebagainya). Kita bahas lain kali soal itu ya.

Satu lagi deh. Wartawan kita juga sering membuat judul dengan awal angka/bilangan. Misal, “12 Orang Tewas Tertimbun Longsor”. Mestinya, “Dua Belas Orang Tewas…” atau “Belasan Orang Tewas”.

Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis degan huruf! Itu aturan penulisan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Jika perlu, susunan kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata tidak terdapat lagi pada awal kalimat. Misal, “Longsor Tewaskan 12 Orang”, jadi lebih “hidup” ‘kan? Wasalam. (www.romeltea.com).*

NOTE! Kalo tulisan saya di blog ini gak taat EYD, harap maklum, blog = catatan pribadi untuk konsumsi publik, jadi… gaya bahasanya “personal”, gak mesti baku. Deal? Thanks ....!

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

7 comments

  1. kata “dan” difungsikan untuk menghubungkan antar kalimat sedangkan kalimat memiliki pengertian sebagai berikut, kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik.

    jika untuk menghubunkan kalimat, maka peletakan kata “dan” mestinya diantara dua kalimat sesuai definisi di atas, bukan di dalam kalimat untuk menghubungkan klausa. ingatlah bahwa klausa dan kalimat adalah dua hal yang berbeda.

  2. Saya tertarik dengan ulasan Anda. Namun ada beberapa hal yang menurut saya perlu didiskusikan ulang, tentunya mengenai penggunaan ‘dan’ pada awal kalimat.
    Menurut saya perkembangan bahasa Indonesia sudah melampaui apa yang biasa kita sebut dengan EYD, meski tata aturan seharusnya selalu sinergis dengan kaidah EYD. Bahkan sejak mula BI diserap dari bahasa Melayu, penggunaan bahasa Melayu, baik lisan dan tulisan, telah berkembang dengan sangat luas. Karena itu, ada banyak hal memang yang disadari tidak tertampung dalam EYD.
    Para penyair dan sastrawan sering menggunakan ‘dan’ pada awal kalimat, baik dalam puisi maupun karya sastra lain. Mengatakan ini salah!!! Ehm tunggu dulu. Apa yang EYD sematkan pada susunan fonem /d/a/n/ sebagai kata penghubung, perlu juga kita cermati. Karena penggunaan kata ‘dan’ ternyata tidak berfungsi hanya sebagai kata penghubung.
    Mari kita cermati:
    “Kesialan bertubi-tubi menimpa Danielle. Pernikahannya yang sudah di depan mata terpaksa gagal karena kekasih memutuskan tali pertunangan. Ia juga dipecat dari pekerjaannya sebagai guru BP. Dan terakhir, orangtuanya menjual rumah mereka, sehingga Danielle harus mencari tempat tinggal baru (Agnes Jessica, 2006).”
    Anda bisa cermati bahwa kata ‘dan’ disini tidak melulu berfungsi sebagai penghubung, dia juga berfungsi sebagai penegas, penguat suasana, dan penyimpul. Umumnya, kata ‘dan’ yang bersifat seperti ini berada pada awal kalimat terakhir. Pada puisi, lebih banyak lagi.

    So, be wise with your word!

    1. mudah saja, artinya cerpenis, novelis, penyair “tidak mau” ikut EYD, dan itu “tidak masalah”. Toh pelanggaran EYD bukan tindak pidana dan tidak mengusik keutuhan NKRI ^_^. Lagi pula EYD tidak berlaku bagi bahasa Arab dan Inggris, mungkin juga bahasa lain. Yang jelas, dalam EYD, Kata “dan” itu termasuk “kata penghubung Intrakalimat” –yaitu kata yang menghubungkan kata dengan kata “dalam” sebuah kalimat, seperti halnya “atau”, “agar”, “serta”, dan lainnya.

  3. SALAH??? BERARTI ENTE NYALAHIN ALQURAN DONG???

    ENTE GA PERNAH BACA ALQURAN YA?

    KASIAN BANGET, PINTER TP MISKIN PENGETAHUAN AGAMA.

    1. Loh kok menyalahkan Al-Qur’an? Saya kok tidak menemukan ungkapan yang menjurus ke arah itu.
      Coba lihat di pertanyaan “…kalau bagi mereka yang sering membaca buku bahasa arab, memang penggunaan kata “Dan” sering di awal kalimat tapi hal tersebut bukan sebagai kata penghubung, namun merupakan kata pembuka, memang agak berbeda dengan bahasa lain.”
      Dalam bahasa arab ada kata “wa” yang sering diterjemahkan menjadi “dan”. Namun fungsi kata “wa” dalam bahasa arab lebih luas dari kata “dan”. Contohnya “wa” yang bermakna isti’nafiyah (pembuka kalimat) ini tidak bisa disejajarkan dengan kata “dan”.
      Nah repotnya penterjemah (dan saya juga … , he he he) sering dalam proses penterjemahan sulit mencari kata lain dalam bahasa Indonesia yang dapat mewakili kata “wa” yang berfungsi isti’nafiyah (pembuka kalimat).
      Di tulisan di atas yang disalahkan adalah yang sembarangan menggunakan kata “dan” dengan fungsi yang sama dengan kata “wa” isti’nafiyah dalam bahasa arab. Intinya yang disalahkan adalah berbahasa Indonesia tapi menggunakan tata bahasa bercampur tata bahasa arab. Tulisan di atas bukan menyalahkan Al-Qur’an atau bahasanya Al-Qur’an. Masing-masing bahasa mempunyai karakter unik.

  4. Secuil tambahan untuk kata “dan”. EYD atau buku2 pelajaran bhs Indonesia memang melarang keras penggunaan kata “dan” di awal kalimat, seperti dijelaskan oleh mas Romel. Namun, pernah seorang guru besar bahasa (saya lupa namanya) mengatakan, “boleh saja ‘dan’ ditulis di awal kalimat, asal setelah kata itu diikuti koma”. Bahasa Indonesia baku pun sebenarnya bukanlah bahasa yang konsisten (termasuk KBBI). Contoh: mengapa orang selalu menulis “mempunyai” bukan “memunyai”, “mempengaruhi” bukan “memengaruhi”, “menyolok” bukan “mencolok”, “pimpinan” bukan “pemimpin”, dst. Ini tandanya bhs. Indonesia masih terus berkembang. Memang, tidak satu pun bahasa di dunia ini yang benar2 konsisten, namun bahasa2 yang besar memiliki azas yang diikuti dengan disiplin para penggunanya. Jadi, marilah sedikit demi sedikit dan sebisa mungkin mengikuti azas bahasa Indonesia yang benar. Mohon maaf ikut nimbrung. Bahasa yang saya gunakan “belepotan”, maklum nulis di blog. Salam hangat.

    1. thx, sgt berguna bagi saya

      menurut saya, kata dan boleh juga ditulis di awal, tapi untuk judul. Mau gimana lagi , yg bikin judulnya mau ada kata “dan” di awalnya.