PHK Landa Media Akibat Corona, Profesi Wartawan Tak Aman

Industri Pers atau Media Terpukul karena Corona. Banyak Wartawan Terancam Nganggur karena PHK.

PHK Media NBC Universal Covid-19

DI postingan sebelumnya, Dampak Corona terhadap Media, saya sudah berbagi info tentang penurunan penghasilan media massa akibat pandemi Covid-19.

Kali ini saya berbagi info tentang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang melanda karyawan dan wartawan media, termasuk media-media besar seperti BBC, The Guardian, dan terbaru NBC Universal.

Diberitakan detik.com, Rabu (5/8/2020), perusahaan media Amerika Serikat, NBC Universal, akan memangkas 10% dari 35 ribu karyawannya. Kebijakan ini dilakukan karena perusahaan terpukul pandemi virus Corona.

Baca Juga

PHK skala besar NBCU ini diumumkan The Wall Street Journal pada Selasa. Karyawan yang akan terdampak PHK di antaranya dari divisi siaran, studio film, dan taman hiburan.

Sebelumnya, NBC mem-PHK sejumlah stafnya di situs siaran olahraganya, seperti Hardball Talk dan College Football Talk, Senin (5/8/2020).

Perusahaan juga telah melakukan upaya pemotongan biaya, dari biaya anggaran iklan, produksi film, dan menghentikan perilisan film.

NBC Universal Media adalah konglomerat media massa dan hiburan Amerika yang dimiliki oleh Comcast dan berkantor pusat di 30 Rockefeller Plaza di Midtown Manhattan, New York City. NBCUniversal terutama terlibat dalam industri media dan hiburan.

PHK di BBC dan The Guardian

Sebelumnya, dua raksasa media di Inggris, BBC dan The Guardian, juga melakukan PHK atas ratusan karyawan/wartawannya.

Diberitakan CNN Indonesia, BBC dan The Guardian mengumumkan akan melakukan PHK sebagian karyawan karena kondisi keuangan yang tertekan pandemi virus corona.

The Guardian akan memangkas 180 orang, termasuk 70 orang dalam Departemen Editorial (redaksi/wartawan). Media ini mengalami penurunan pendapatan sebesar 25 juta pounds atau setara dengan US$31,6 juta.

Menurut mereka, pandemi corona memang meningkatkan audiensi dan pembaca. Namun, pengaruh terhadap periklanan dan penjualan surat kabar telah membuat keuangan perusahaan memburuk.

CEO BBC, Annete Thomas, mengumumkan akan memangkas lagi 70 orang karena tekanan corona. Thomas mengungkap pandemi telah menyebabkan keterlambatan dalam mengumpulkan biaya lisensi televisi yang mendanai penyiar.

BBC telah memPHK sekitar 450 orang pada Januari. Selain pemotongan itu, BBC mengumumkan tambahan 450 orang yang di-PHK di ruang berita regional pada Juni lalu.

PHK di Media Massa Indonesia

Bagaimana dengan nasib media di Indonesia?

Diberitaka Kompas, pandemi Covid-19 juga berdampak pada sektor tenaga kerja media di tanah air. Menurunnya aktivitas perekonomian menyebabkan gelombang PHK di industri media massa bermunculan.

Menurut Ketua Divisi Serikat Pekerja Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta, Taufiqurrohman, berdasarkan laporan yang masuk ke Posko Pengaduan LBH Pers dan AJI Jakarta, hingga 20 April 2020, ada 23 orang jurnalis dan pekerja media massa yang mengalami persoalan ketenagakerjaan di beberapa perusahaan media di Jakarta.

Dilihat dari pola persoalan ketenagakerjaan yang diterima, mayoritas merupakan PHK sepihak oleh perusahaan secara mendadak.

Perusahaan memberitahukan pekerja pada bulan berjalan. Padahal, gaji bulan sebelumnya belum dibayar dan perusahaan mengaku kesulitan. Pada hari itu juga pekerja dirumahkan.

Dewan Pers juga menyatakan, industri media massa mengalami tekanan ekonomi akibat pandemi Covid-19.

“Jadi banyak (perusahaan media) yang sudah mem-PHK karyawannya, melakukan pemotongan gaji, merumahkan karyawan gitu, kalau media cetak. Radio juga begitu, sudah banyak yang berhenti beroperasi, atau beroperasi dengan terbatas, merumahkan karyawan dan lain-lain,” kata Ketua Komisi Hubungan Antar-Lembaga dan Luar Negeri Dewan Pers, Agus Sudibyo, kepada KBR, Selasa (19/5/2020).

“Nah, media online dan media televisi ini menarik. Media online itu dari reader, dari traffic naik lumayan tajam. Tapi, dari sisi performa ekonomi juga menurun, pendapatannya menurun, iklannya menurun,” terang Agus.

“Meskipun tidak separah media cetak, tapi media online juga mengalami kontraksi. Banyak yang sudah mulai memotong gaji karyawan, siap-siap mem-PHK, sudah menghitung kira-kira kemampuan bertahan hidupnya tinggal berapa bulan lagi. Jadi penonton televisi naik, tapi pendapatan iklan yang menurun. Karena iklannya mungkin banyak, tapi gagal bayar, jadi pembayarannya tidak lancar,” lanjut Agus.

Dewan Pers mendesak negara agar memberikan insentif ekonomi untuk industri media massa.

“Pemerintah harus menyelamatkan perusahaan-perusahaan media yang kesulitan bertahan di masa pandemi Covid-19. Sebab media massa sangat berperan terhadap edukasi politik, kesehatan dan sosial,” kata Agus.

Menurut Agus, negara mestinya bisa menyiapkan anggaran khusus untuk media massa.

“Negara hadir untuk memberikan alokasi anggaran, untuk sosialisasi kebijakan-kebijakan kepada pers profesional. Anggaran untuk iklan, untuk media, atau kerja sama dengan pariwara media. Itu seyogyanya tidak dihilangkan atau dikurangi dari keadaan normal sebelum Covid-19. Tetapi secara resiprokal, perusahaan pers profesional, jangan mem-PHK karyawannya, atau jangan melakukan pemotongan gaji dan lain-lainnya itu,” kata Agus.

Dewan Pers juga menjamin bantuan atau insentif pemerintah tidak akan mempengaruhi independensi pemberitaan.

“Ada permintaan yang begitu sering, agar radio dan televisi itu menyiarkan iklan layanan masyarakat tentang cegah pandemi atau lawan pandemi. Dan itu yang minta negara kan, pemerintah. Dan itu free lho setahu saya. Dengan independensinya itu bahkan radio, televisi, media itu membantu pemerintah membantu negara menangani pandemi ini,” pungkasnya.

Salah satu media yang melakukan PHK adalah KumparanKumparan sendiri pernah memberitakan “Industri Pers Terpukul karena Corona: Banyak Wartawan Terancam Nganggur”.

Mengutip pernyataan Direktur Eksekutif Serikat Perusahaan Pers (SPS), Asmono Wikan, dampak corona dirasakan pula oleh para pekerja media.

Ancaman dari mulai PHK hingga pemotongan gaji, mulai nyata dirasakan para pekerja media tak hanya pusat namun juga di daerah.

“Krisis COVID-19 ini memang luar biasa dahsyat, pertama ancaman PHK itu nyata bukan fantasi. Laporan yang kami terima ada mayoritas anggota kami yang terkena dampak PHK, 70 persen di antaranya sudah tak bisa melihat titik terang dari masalah krisis ini,” ujar Asmono.

Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Abdul Manan menyatakan, dampak krisis tersebut turut menghampiri insan pers atau media yang bekerja di Ibu Kota.

Menurutnya para pekerja media di Jakarta pun tak luput dari dampak akibat pandemi tersebut.

“Kami juga sudah mulai mendengar laporan dampaknya mulai terasa. Di Jakarta kami dengan efisiensi ini mulai terasa dengan pemotongan gaji, hal itu berdampak juga pada teman-teman kontributor, padahal krisis baru berjalan dua bulan sementara kita tak tahu berapa lama krisis ini akan berjalan,” ungkap Abdul.

Demikianlah Covid-19 yang berdampak buruk pada semua sektor, termasuk industri media atau profesi wartawan. Geura leungit atu sateh, Corona! Wasalam. (www.romeltea.com).*

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *