Demonstrasi Jadi Andalan

Demonstrasi Jadi Andalan

123
0
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

PEJABAT KEHILANGAN CINTA
AKSI DEMO JADI ANDALAN

Kalau cinta sudah dibuang
Jangan harap keadilan akan datang
…..
Di jalanan kami sandarkan cita-cita
Sebab di rumah tak ada lagi yang bisa dipercaya
(“Bongkar”, Iwan Fals)

PENGUSAHA angkutan darat yang tergabung dalam Organisasi Gabungan Angkutan Darat (Organda) sepakat melakukan mogok secara serentak di seluruh Indonesia, namun waktunya belum ditentukan. Seperti diberitakan Media Indonesia Online (30/6), tindakan itu dilakukan Organda sebagai bentuk keprihatinan terhadap dunia transportasi, terutama akibat pungutan liar (pungli) dan maraknya angkutan umum pelat hitam (ilegal) yang dibiarkan bebas beroperasi.

Aksi mogok itu, jika benar-benar dilakukan, pasti sangat merugikan masyarakat pengguna jasa angkutan darat, seperti bis dan angkutan kota. Dari sini ini, kita sangat menyayangkan dan mungkin menilai pihak Organda tidak memedulikan kepentingan masyarakat. Namun di sisi lain, keinginan mogok Organda sangat bisa dipahami, mengingat itulah puncak kekesalan mereka atas ketidakpedulian pihak berwenang atas tuntutan dan nasib mereka selama ini.

Menurut Ketua Umum Organda UT Murphy Hutagalung, pungutan liar yang dialami pengusaha angkutan darat mencapai sekitar Rp18 triliun per tahun. Akibat pungli itu, biaya operasional banyak tersedot dan bisa berakibat fatal karena akan menyangkut pada perawatan armada yang bersentuhan dengan keselamatan penumpang.

Selain soal pungutan liar, keprihatinan anggota Organda juga terkait dengan angkutan umum pelat hitam yang dibiarkan beroperasi. “Angkutan ‘bodong’ itu sudah merajalela di mana-mana sehingga angkutan resmi berpelat kuning makin terpuruk. Akibat angkutan bodong tersebut, load factor (tingkat isian penumpang) angkutan umum resmi kini rata-rata hanya 40%. Seharusnya, load factor yang sehat adalah 70%.

Apa yang (akan) dilakukan Organda hanyalah satu dari sekian contoh kasus yang menjadikan aksi demonstrasi (unjukrasa) sebagai andalah. Hanya saja, Organda melakukannya dengan cara mogok. Persis seperti syari lagu Iwan Fals berjudul “Bongkar”: “Di jalanan kami sandarkan cita-cita/ Sebab di rumah tak ada lagi yang dapat dipercaya”.

AKSI unjukrasa merupakan andalah banyak pihak akhir-akhir ini, saat aspirasi mereka tidak didengarkan dan diakomodasi oleh pihak berwenang, karena “di rumah tak ada lagi yang bisa dipercaya”, yakni rumah rakyat (DPR/DPRD) dan/atau pemerintah yang berkewajiban mengurusi masalah rakyat dan mengabdi kepada rakyat sebagai pemilik kedaulatan di negeri ini.

Jika para pemimpin atau pihak berwenang “punya hati” dan “punya cinta”, dengan mengakomodasi aspirasi yang berkembang, maka aksi-aksi unjuk rasa yang “membuang waktu produktif”, bahkan seringkali memakan korban itu, tidak perlu terjadi. Apalagi, toh akhirnya masalah yang ada diselesaikan secara diplomasi, perundingan, atau negosiasi. Jadi, mengapa harus menunggu aksi demo dulu baru berindak?

“Buat apa ada pemerintah jika hidup susah”. Demikian penggalan salah satu syair lagu Iwan Fals dalam lagunya yang lain. Pemerintah adalah pengurus masalah rakyat. Jadi benar, buat apa ada pemerintah jika hidup masyarakatnya susah? Apakah pemerintah kita mengurusi masalah rakyat?

Anehnya lagi, belakangan muncul fenomena, banyak (kalau tidak semua) pejabat atau wakil rakyat di negeri ini tampak takut menghadapi rakyat. Komunikasi politik mereka sangat buruk! Sering terjadi, massa demonstan datang ke sebuah instansi atau kantor parleman, sekadar minta bertemu dengan pejabat atau wakil rakyat. Tapi seringkali, sang pejabat atau wakil rakyat tidak mau menerima mereka. Dalihnya, sedang dinas luar atau sedang tidak berada di tempat. Mengherankan, bukankah mereka berkewajiban melayani rakyat dan mengakomodasi kepentingan rakyat? Mengapa tidak mau? Takut? Kenapa?

Gedung DPRD Tasikmalaya nyaris saja dibakar oleh massa demonstran karena kecewa tidak bisa bertemu dengan wakil rakyat. Pertanyaannya, jika menemui rakyat saja tidak mau, lalu benarkah mereka wakil rakyat? Kasus Tasik ini hanya salah satu contoh. Banyak contoh lain massa pengunjukrasa “terpaksa” melakukan pengrusakan, pagar misalnya, karena kesal tidak bisa menemui pejabat berwenang untuk menyampaikan aspirasi. Pertanyaanya, mengapa sang pejabat taku menemui rakyat? Bukankah ia makan dari uang negara yang nota bene milik rakyat? Buat siapa ia bekerja? Bukankah bekerjanya pemerintah itu buat rakyat? Lalu mengapa sekadar menemui massa demonstran saja takut? Jangan salahkan rakyat jika mereka berpikir bahwa sang pejabat takut karena … “berani karena benar takut karena salah”!

AKSI demonstrasi, bahkan anarkisme dan pengrusakan, tidak mesti terjadi, jika saja pejabat dan wakil rakyat di negeri ini memiliki komunikasi politik yang baik dengan rakyatnya; jika saja di otak mereka adalah melayani rakyat, bukan mengejar kekayaan dan keuntungan pribadi dan kelompok dengan “aji mumpungisme” sebagai pejabat yang sangat mudah mendapatkan duit dengan berbagai dalih –tunjangan, insentif, komisi proyek, bahkan korupsi!

Mengurusi masalah rakyat itu susah. Jadi (aparat) pemerintah itu beban dan tanggungjawabnya sangat berat, dunia akhirat. Di dunia kepada rakyat, di akhirat kepada Allah Swt. Anehnya, di negeri ini, orang berlomba-lomba untuk menjadi bagian dari penyelenggara negara –anggota parlemen, kepala dinas, pejabat ini-itu, presiden, bupati, gubernur, dan seterusnya. Apa yang mereka cari?

Sebagai cermin bagi kita, “perlombaan” mengejar pangkat dan jabatan tidak terjadi di kalangan para sahabat Rasulullah Saw (umat Islam generasi pertama) yang keimanan dan ketakwaannya tidak diragukan baiknya. Bahkan setelah masa Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali), masih banyak Muslim teladan. Salah satunya Umar bin Abdul Aziz. Ia menolak diangkat menjadi Khalifah, namun “dipaksa” oleh keadaan sehingga ia pun mau mengemban jabatan itu sebagai amanah. Suatu sore, air mata Khalifah Umar bin Abdul Aziz jatuh bercucuran di pipinya. Ia menangis. Sang istri, Fatimah, bertanya: “Wahai Amirul mukminin, ada apa gerangan?’

Umar menjawab: “Engkau tahu, aku telah diserahi urusan seluruh umat ini, yang berkulit putih maupun hitam, lalu aku ingat akan orang yang terasing, peminta-minta yang merendah, orang kehilangan, orang-orang fakir yang sangat membutuhkan, tawanan yang tertekan jiwanya dan lain sebagainya di berbagai tempat di bumi ini. Dan aku tahu persis, Allah SWT pasti akan menanyaiku tentang mereka, dan Muhammad Saw akan membantahku dalam masalah mereka (jika aku mangkir); karena itulah aku takut akan diriku sendiri”. Wallahu a’lam.

Copyrights (c) 2007 ASM. Romli. www.romeltea.com

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

LEAVE A REPLY