Pengertian Jurnalisme Kuning, Praktik Jurnalistik Clickbait Era Media Cetak

Jurnalisme Kuning

Saya sudah sering membahas jurnalisme umpan klik (clickbait journalism) yang fenomenal di era media online saat ini.

Di era media cetak, ada juga jenis jurnalisme yang praktik sensasionalnya mirip jurnalisme clickbait, yaitu jurnalisme kuning (yellow journalism) atau koran kuning (yellow newspaper).

Jurnalisme kuning menarik perhatian pembaca tetapi biasanya tidak memiliki banyak substansi. Demikian pula jurnalisme umpan klik yang marak saat ini.

Bisa dikatakan, jurnalisme kuning merupakan praktik jurnalisme umpan klik di era media cetak. Bentuknya berupa sajian “foto seksi” dan berita atau cerita seksualitas. Koran Pos Kota merupakan contoh terbaik koran kuning pasa masanya.

Pengertian Jurnalisme Kuning

Jurnalisme kuning adalah media massa dengan konten pemberitaan yang bombastis penuh sensasi, khususnya berita seks dan kriminalitas.

Baca Juga

Yellow journalism mengusung “ideologi” sensasionalisme dan kalimat yang berlebihan untuk menarik pembaca. Pemberitaan jurnalisme kuning cenderung dramatis dan mempermainkan emosi atau ketakutan pembaca.

Laman Wikipedia mencatat, jurnalisme kuning, atau koran kuning, adalah jenis jurnalisme dengan judul-judul berita yang bombastis, tetapi setelah dibaca isinya tidak substansial.

Jurnalisme kuning adalah jurnalisme pemburukan makna. Ini disebabkan karena orientasi pembuatannya lebih menekankan pada berita-berita sensasional daripada substansi isinya.

Warta Ekonomi mengartikan jurnalisme kuning sebagai gaya pelaporan surat kabar yang berlebihan, eksploitatif, dan sensasional.

Jurnalisme kuning merupakan salah satu jenis jurnalistik. Dalam buku Kamus Jurnalistik, saya mencantumkan dua jenis jurnalisme yang mirip dengan jurnalime kuning dalam hal sensasinya, yaitu jurnalisme got dan jurnalisme jaz, dan istilah koran kuning.

  • Jurnalisme got (gutter Journalism) adalah gaya jurnalistik yang lebih menonjolkan pemberitaan tentang dunia hitam atau dunia kotor, yakni seks dan kejahatan (sex and crime journalism).
  • Jurnalisme jazz  (jazz journalism) adalah jurnalistik yang mengacu pada pemberitaan hal-hal yang sensasional, menggemparkan atau menggegerkan, seperti meramu gosip atau rumor.
  • Koran Kuning  (yellow papers) adalah surat kabar yang mementingkan sensasionalisme dengan eksploitasi masalah seks dan kriminalitas. Ia menganut paham jurnalisme got dengan menonjolkan pemberitaan tentang dunia hitam atau dunia kotor, yakni seks dan kejahatan.

Jurnal Hukum Online menyebut praktik jurnalisme kuning sebagai “lampu kuning’ etika komunikasi massa”.

Sejarah Jurnalisme Kuning

Di jurnal yang sama disebutkan, jurnalisme kuning berawal di Amerika Serikat pada pertengahan abad 19. Kemunculannya sebagai ekses dari ketatnya persaingan bisnis surat kabar di negara itu.

Stanley J. Baran dan Dennis K. Davis (2010) mengemukakan, pada masa itu di Amerika Serikat terjadi perkembangan yang cepat dari pabrik-pabrik besar di wilayah perkotaan yang kemudian menarik semakin banyak orang dari wilayah pedesaan untuk pindah ke kota.

Pada saat yang sama, media cetak yang semakin kuat memungkinkan pembuatan surat kabar yang dapat dijual dengan harga lebih murah pada populasi pembaca yang bertumbuh dengan cepat.

Koran-koran yang menyasar kaum urban ini kemudian disebut sebagai Penny Pers atau One Cen Newspaper karena dijual hanya dengan harga satu penny dengan bahan baku kertas kualitas rendah, sehingga mengubah jurnalisme di Amerika.

Orang yang disebut-sebut sebagai pionir dalam melihat ceruk pasar kaum urban ini adalah Benjamin Day. Pada 1833, di saat usianya baru menginjak 22 tahun ia menerbitkan koran bernama New York Sun yang dijual dengan harga satu penny per eksemplar.

Padahal, kala itu koran-koran pada umumnya sangat mahal dengan biaya langganan tahunan setara gaji satu minggu.

Tingkat persaingan antar-koran sebagai efek dari munculnya koran penny rupanya berimbas pada persaingan lebih ketat dan cenderung tidak sehat, sehingga melahirkan jurnalisme bernama jurnalisme kuning atau yellow period (periode koran kuning) pada 1890-an.

Aktornya utamanya adalah Joseph Pulitzer dan William Randolph Hearst. Kesuksesan Pulitzer dengan cara pemberitaan sensaional dan bombastis menginspirasi Wililiam Randolph Hearst untuk menerbitkan San Fransisco Examiner dengan menggunakan gaya jurnalistik New York World.

Pada 1895, Hearst membeli New York Journal sehingga tercipta persaingan bisnis yang begitu sengit dengan Pulitzer. Bahkan Hearst bersumpah untuk mengalahkan sekaligus menyingkirkan Pulitzer dari peta persaingan bisnis surat kabar.

Pertarungan sengit Pulitzer-Hearst mencapai puncaknya manakala mereka samasama meliput ketegangan antara Spanyol dan Amerika Serikat. Lantaran dibumbui oleh berita-berita yang berlebihan, ketegangan kemudian berubah menjadi perang.

Alasan Ekonomi 

Sama seperti kemunculan jurnalisme kuning, jurnalisme umpan klik yang kini berkembang juga berlatar belakang ekonomi alias duit.

“Publishers increasingly use it for simple economics; the more clicks you get, the more people on your site, the more you can charge for advertising,” tulis BBC.

Penerbit (wartawan/media) semakin banyak menggunakan umpan klik untuk ekonomi sederhana; semakin banyak klik yang Anda dapatkan, semakin banyak orang di situs Anda, semakin banyak biaya yang dapat Anda kenakan untuk iklan.

Tampaknya, jurnalisme kuning era media online berupa jurnalisme umpan klik ini dipraktikkan oleh hampir  semua situs berita di Indonesia, terutama Tribunnews Network dan Pikiran Rakyat Network.*

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 comments