Pada episode kali ini saya akan berbicara mengenai komunikasi idul fitri atau komunikasi lebaran. Yang saya maksud dengan komunikasi lebaran adalah komunikasi yang terjadi pada suasana Idul Fitri atau suasana lebaran.
Sehabis kita melaksanakan ibadah sholat sunnah Idul Fitri di masjid atau di lapangan, bahkan pada malam takbiran, bahkan H-1 atau H-2 lebaran, komunikasi lebaran sudah biasa kita lakukan.
Dengan berkirim pesan lewat WhatsApp, juga menyampaikan pesan selamat lebaran melalui media sosial, misalnya facebook, twitter (X), instagram, TikTok, bahkan youtube, sudah dilakukan.
Komunikasi lebaran biasa terjadi terutama pada H-3 dan H+3 lebaran. Komunikasi lebaran yang paling umum terjadi adalah saling berucap Selamat Idul Fitri dengan beragam cara, beragam gaya, beragam bahasa, beragam kata-kata yang indah, colorful words, kata-kata berona, berseliwaran di media sosial, di whatsapp, intinya mengucapkan selamat lebaran dan saling mohon maaf.
Pengertian Komunikasi Lebaran
Komunikasi lebaran dalam perspektif komunikasi menurut saya itu adalah komunikasi transcendental, komunikasi dengan Tuhan, seperti yang sudah saya ulas di postingan sebelumnya, sekaligus komunikasi dengan sesama komunikasi horizontal.
Jadi, bisa dikatakan komunikasi lebaran itu adalah komunikasi vertical sekaligus komunikasi horizontal. Komunikasi lebaran adalah komunikasi transcendental dengan Tuhan Allah SWT karena ada doa di sana, kemudian bisa disebut juga komunikasi vertical karena komunikasi atasan ke komunikasi bawahan ke atasan. Dalam hal ini kita sebagai hamba kepada Khalik, kepada pencipta, yaitu Allah SWT, atau upward communication, dan komunikasi horizontal komunikasi antarsesama manusia.
Sebenarnya komunikasi vertikal dan komunikasi horizontal plus komunikasi diagonal adalah istilah yang ada dalam komunikasi organisasi. Komunikasi vertikal, komunikasi atasan ke bawahan kemudian komunikasi bawahan ke atasan, ada komunikasi horizontal, komunikasi sesama karyawan, komunikasi sesama manajer, komunikasi sesama pimpinan itu komunikasi horizontal yang setara statusnya, yang jabatannya setara.
Ada juga komunikasi diagonal yang saling silang begitu atasan ke bawahan, bawahan ke atasan, atasan ke manajer, manajer sampe ke manajer lagi dan sebagainya.
Nah, tidak ada salahnya kita menyebut komunikasi lebaran sebagai komunikasi vertikal dan komunikasi horizontal karena ketika kita mengucapkan beragam ucapan Idul Fitri selamat lebaran di sana ada komunikasi vertical dengan Allah SWT, yaitu ucapan doa.
Ada juga komunikasi dengan sesama horizontal, yaitu ucapan kita, pesan kita kepada sesama utamanya minta maaf.
Tidak ada sunahnya memang menurut ustadz saya ketika lebaran harus bermaafan tapi tidak apa-apa, tidak masalah. Karena menurut ustadz saya, pada saat lebaran itu pada saat Idul Fitri yang dicontohkan para sahabat rasul adalah saling mendoakan.
Ucapannya yang populer adalah taqabbalallahu minna waminkum yang artinya semoga Allah menerima ibadah kami dan ibadah kalian. Ringkasnya, semoga Allah menerima ibadah kita semua.
Ketika kita mendengar ucapan atau membaca ucapan taqabbalallahu minna waminkum maka jawaban kita adalah amin ya rabbal alamin atau taqabbal ya karim karena ucapan itu adalah doa. Jadi, bukan “sama-sama”, tapi bisa juga sih sama-sama, artinya saling mendoakan.
Komunikasi lebaran itu yang populer adalah selamat lebaran atau selamat Idul Fitri dengan beragam kata, beragam disi yang digunakan. Yang kedua ucapan taqabbalallahu minna waminkum itu adalah doa. Artinya semoga Allah menerima ibadah kita dan kita jawab dengan takobbal ya karim atau kita jawab dengan amin ya rabbal alamin.
Ada juga ucapan minal aidin wal faizin. Menurut ustadz saya, ucapan minnal aidin wal faizin itu adalah doa juga. Lengkapnya Allahummaj ‘alna minnal aidin wal faizin yang artinya “Ya Allah jadikanlah kami termasuk orang-orang yang kembali dan termasuk orang-orang yang menang.”
Doa ini menurut sebuah riwayat diucapkan oleh para sahabat Nabi Saw oleh umat Islam yang tidak ikut dalam perang badar. Ketika pasukan Islam kembali dari perang badar dan mereka menang dalam peperangan.
Maka orang-orang yang tidak ikut perang ini miri dalam tanda petik iri betapa bahagianya orang-orang yang berperang kembali dan menang. Maka mereka pun berdoa “Ya Allah jadikanlah kami termasuk orang-orang yang bagian dari yang terjun ke medan pertempuran itu yang kembali dan menang.”
Jadi, minal aidin wal faizin artinya semoga kita termasuk orang-orang yang kembali dari medan perang dan mendapat kemenangan faiz artinya menang. Faizin artinya orang-orang yang menang. Nah itulah ucapan doa. Jadi, taqabbal wallahum minna wa minkum sama minal aidin wal faizin adalah doa, komunikasi dengan Allah. Komunikasi transcendental atau komunikasi vertikal kita dengan Allah.
Kita berdoa setelah Ramadan setelah puasa sebulan penuh. Kita berdoa supaya ibadah kita diterima dan supaya kita kembali inidul fitri kembali sarapan. Dalam kondisi menjadi pemenang setelah bertempur dengan hawa nafsu selama sebulan penuh di bulan Ramadan. Bagaimana dengan ucapan “mohon maaf lahir batin”? Itu adalah ungkapan khas bangsa kita, bangsa Indonesia, karena kalau kita perhatikan di luar itu ucapannya id mubarak yang artinya “lebaran yang diberkahi” atau lebaran yang penuh berkah.
Jadi, selama bulan puasa kita beribadah wajib puas,.zakat fitrah, ditambah ibadah sunah. Ketika lebaran Idul Fitri, kita kembali sarapan. Karena selama bulan puasa kita gak sarapan karena kita puasa. Maka kita berdoa semoga Allah menerima ibadah kita. Lalu berdoa juga semoga kita termasuk orang-orang yang kembali dan menang.
Lalu mohon maaf lahir batin itu adalah silaturahmi. Ketika dosa kita sudah diampuni oleh Allah maka kita pun berharap dosa kita terhadap sesama dimaafkan sehingga betul-betul “idul fitrah” atau kembali ke fitrah.
Kita kembali ke fitrah. Idul fitri sendiri artinya kembali sarapan. Karena kata fitri dengan fitrah itu berbeda arti. Fitri artinya futhur, sarapan, makan pagi. Fitrah itu asal kejadian, suci, bersih, bagaikan bayi yang baru lahir.
Tidak masalah kalau kita mengartikan idul fitri sebagai kembali kepada fitrah. Karena kita berharap, sebagaimana disebutkan dalam hadis “Barang siapa yang berpuasa bulan Ramadan dengan penuh kehatian, dengan penuh keikhlasan dan keimanan. maka akan diampuni semua dosa-dosanya yang telah lalu.”
Nah, kalau dosa kita diampuni yang telah lalu, apalagi namanya kalau bukan kembali ke kesucian? Keadaan fitrah tanpa noda dan dosa. Itu dengan Allah. Diampuni oleh Allah semua dosa kita.
Bagaimana dengan dosa sesama manusia? Kita pun berharap dosa terhadap sesama manusia pun dimaafkan. (Oleh yang kita zolimi, yang kita aniaya, yang kita tidak sengaja atau tidak sengaja menyakitinya.
Kita berharap pun dimaafkan oleh mereka sehingga dosa kepada Allah, dosa kepada sesama manusia terhapus. Betul-betul kita kembali ke fitrah, kembali sarapan. Idul fitri sekaligus idul fitrah.
Kembali kepada fitrah. Tidak ada istilah idul fitrah. Anggap sajalah ada karena itu doa juga. Demikian komunikasi lebaran. Intinya kita berkomunikasi dengan Allah. Berdoa. Kemudian komunikasi terhadap sesama manusia. Minta maaf dan saling mendoakan.
Demikian bahasan mengenai komunikasi lebaran. Ada komunikasi transendental. Ada komunikasi vertikal. Ada komunikasi horizontal.
Tips Komunikasi Lebaran
Ada sejumlah cara agar silaturahmi dengan kerabat lebih bermakna. Dilansir Humas Indonesia dari Yoursay.id, berikut caranya:
1. Berbicara Sopan dan Hormat
Saat bertemu kerabat, pastikan kalimat yang disampaikan santun dan penuh rasa hormat. Pembaca disarankan untuk tidak menggunakan bahasa kasar atau membahas topik yang menyinggung perasaan orang lain.
Selain itu, kita juga diminta untuk menghindari pendapat yang tidak perlu. Sebaliknya, menunjukkan rasa hormat dan menghargai semua kerabat yang datang.
2. Mendengarkan dengan Saksama
Mendengarkan lawan bicara dengan fokus adalah kunci komunikasi yang baik. Caranya, dengan memberikan perhatian dan mencermati setiap kata yang disampaikan oleh kerabat. Bahkan, sebaiknya jangan sampai terganggu oleh suara atau aktivitas lain di sekitar Anda.
Pembicara yang baik adalah pendengar yang baik merupakan petuah tepat untuk mendeskripsikan poin ini. Jangan memotong pembicaraan lawan bicara dan merendahkan diri Anda.
3. Hindari Topik Sensitif
Pembaca disarankan untuk menghindari topik pembicaraan yang sensitif dan kontroversial saat bersilaturahmi dengan keluarga. Di antaranya, politik, agama, urusan personal, pertanyaan kapan menikah, atau berat badan.
4. Membicarakan Kehidupan dan Kesenangan Bersama
Agar pembahasan tidak masuk ke dalam ranah pergunjingan, pembaca disarankan untuk membahas topik yang dapat mempererat hubungan keluarga dan membawa kebahagiaan. Contohnya, hobi, kegiatan sehari-hari, hingga berbagai momen lucu yang tak lekang oleh waktu.
5. Menunjukkan Perhatian dan Kasih Sayang
Poin terakhir sekaligus penutup dari artikel ini. Yakni, menunjukkan sikap positif saat bertemu kerabat dan memberikan perhatian serta kasih sayang dengan tulus.
Salam dan senyum yang hangat akan menunjukkan bahwa pembaca antusias bertemu dengan mereka. Hal-hal seperti ini akan menunjukkan bahwa Anda ingin merajut hubungan yang lebih baik di masa yang akan datang.
Video Komunikasi Lebaran
Discover more from Romeltea Online
Subscribe to get the latest posts sent to your email.





