Transliterasi Arab-Indonesia, Bikin Pusing Aja!

Posted on 31 October 2012 by romeltea

bahasa jurnalistik

Transliterasi artinya “alih aksara”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), transliterasi artinya ”penyalinan dengan penggantian huruf dari abjad yang satu ke abjad yang lain, misalnya dari tulisan atau huruf Arab ke dalam tulisan Latin.

MANA penulisan kata/istilah yang benar: ustadz, ustad, atau ustaz? Tanpa melihat dulu Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), menurut saya penulisan yang benar adalah ustadz.

Pasalnya, “dz” merupakan transliterasi paling pas buat huruf “dzal” (ذ ) dalam bahasa Arab. Huruf ”d” untuk “dal” (د ) dan “z” untuk “zay” (ز).

Memang, sudah ada pedoman transliterasi (alih aksara) Arab-Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Bersama Meneri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tanggal 22 Januari 1988, antara lain sebagai berikut:


Arab

Latin

Arab

Latin

Arab

Latin

ا

`

ز

z

ق

q

ب

b

س

s

ك

k

ت

t

ش

sy

ل

l

ث

ts

ص

sh

م

m

ج

j

ض

d

ن

n

ح

h

ط

t

و

w

خ

kh

ظ

z

ه

h

د

d

ع

ء

ذ

ż

غ

g

ي

y

ر

r

ف

f

-

Namun, tidak semua orang mengacu kepada pedoman itu, mungkin karena tidak mengetahuinya atau mengetahuinya tapi merasa “tidak sreg” sehingga mengabaikannya. Apalagi, masing-masing media memiliki “buku gaya” (style book), yakni pedoman penulisan, sendiri-sendiri. Simak saja, misalnya, koran Pikiran Rakyat menulis Ka’bah dengan “Kabah”, Ustadz dengan “ustaz”, istiqomah dengan “istikamah”.

Transilterasi Arab-Indonesia yang sering berbeda adalah untuk penulisan huruf/kata antara lain sebagai berikut:

  • Tsa (ث) : hadits – hadis
  • Kho (خ ) : khilaf – hilaf,
  • Dzal (ذ ) : ustadz – ustad, ustaz
  • Ain mati (ع ) : ka’bah – kabah, ma’ruf – maruf,
  • Gha (غ) : maghrib – magrib, istighfar – istigfar, ghafur-gafur
  • Shad (ص ) : shalat-salat, solat, sholat

Sebagian istilah atau kata bahasa Arab sudah diserap menjadi bahasa Indonesia, seperti sedekah (shodaqoh), gaib (ghaib, ghoib), magrib (maghrib), azan (adzan), kalbu (qolbu), batin (bathin), wasalam (wassalam), dan sebagainya.

Namun, lagi-lagi, penulisan kata-kata tersebut sering tidak seragam. Jadi, sekali lagi, meskipun sudah ada pedoman Transliterasi Arab-Latin SKB Menag dan Mendibud, tidak jarang buku-buku pelajaran agama ataupun buku agama yang lain masih belum seragam mengeja kosakata Arab tersebut.

Ada kecenderungan untuk menuliskan konsonan bahasa Arab itu dalam bentuk huruf ganda, seperti dl, dh, dz, sh, gh, th, ts. Padahal, menurut pakar bahasa, huruf ganda seperti itu tidak ada dalam sistem ejaan Indoesia. Oleh sebab itu, seharusnya tidak digunakan dalam menuliskan unsur serapan bahasa.

Anda dan saya mungkin merasa bingung mencermati cara penulisan kata-kata di bawah ini: mana yang benar?

  • Ramadhan – Ramadlan – Ramadan
  • syariat – syariat
  • Ashar – Asar
  • jamaah – jamaah
  • Jumat – Jumat
  • Iraq – Irak
  • dhu’afa – dhuafa, duafa
  • Al-Quran – Al-Quran, Quran, Alquran
  • zhalim – zalim, dholim, lalim
  • Dhuhr – duhur, zuhur
  • maruf – makruf, maruf
  • mujizat – mukjizat
  • da’wah – dakwah
  • ma’shiat – maksiat
  • fiqih, fiqh – fikih

Yang lebih memusingkan adalah penulisan huruf vokal yang dibacanya panjang (mad). Dalam SKB Menag dan Menteri P&K No. 158 tahun 1987  No. 0543 b/u/1987 disebutkan, vokal yang dibaca panjang ditulis dengan tanda garis di atasnya: ā ī ū

Ain mati diganti tanda petik satu (‘), misalnya ma’ruf, mi’raj, da’wah. Belakangan lebih banyak diganti huruf “k”, jadi makruf, mikraj, dakwah. Hamzah mati tidak dilambangkan atau disamakan dengan ‘ain mati (‘). Kumaha yeuh….? Lieur!

Akhirulkalam, menjadi tugas lembaga-lembaga bahasa untuk gencar menyosialisasikan pedoman transliterasi Arab-Indonesia. Jika perlu, pedoman itu direvisi untuk mengakomodasi ragam pendapat yang ada. Wasalam. (www.romeltea.com).*

Dapatkan Tips Komunikasi Praktis Lainnya via Email

About romeltea
Asep Syamsul M. Romli aka Romeltea --akrab disapa Kang Romel-- adalah praktisi, trainer, dan konsultan media. Profil lengkap di menu "My Profile". Karya tulis (buku) di menu "My Books". Kontak email: romeltea@yahoo.com. Follow @romeltea

Kategori | Bahasa Jurnalistik



3 Responses to “Transliterasi Arab-Indonesia, Bikin Pusing Aja!”

  1. Ternyata tidak cuma di negeri kita, di Eropa sana juga berkembang sistem transliterasi yang dipergunakan:
    http://transliteration.eki.ee/pdf/Arabic_2.2.pdf

  2. Setahu saya harusnya:
    Hamzah ’(U+2019)
    ‘Ain ‘(U+2018)
    Cuma karena banyak yang susah mengetik ‘ jadinya disamakan dengan ‘ yang ada tombolnya dikeyboard yang bisa berubah tergantung posisinya di sebuah kata, di awal kata jadi ‘, di tengah kata jadi ’.
    Keengganan menggunakan transliterasi model SKB kemungkinan karena:
    - terbiasa dan lebih familiar dengan transliterasi lama
    - sulitnya mengetik beberapa karakter yang diperlukan + font yang menyediakannya dulu sedikit. C
    Contoh huruf ح = ḥ (h dengan titik bawah, perhatikan kalau titik bawah tidak tepat di bawah huruf ha berarti font dalam situs ini tidak mendukung, coba pakai font Cambria atau Calibri).
    huruf ذ = ż (z dengan titik di atas), kebanyakan lebih familiar menggunakan kombinasi d dan z.
    dan sebagainya

  3. heheheheheh……………
    ini yang sering ku jumpai di media manapun….
    mumet kang memang banyak yang semrawut,dan anehnya kalau di luruskan jawabnya tergantung niat hhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh………………..CEPEK DEGH ^_^

    hatur nuwun



Tulis Komentar


Simpan File di Ziddu, Share, dan Dapatkan Duit!