Hindari Judul Berita Berupa Kalimat Tanya

Hindari Judul Berita Berupa Kalimat Tanya

144
3
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Komunikasi BigWartawan sebaiknya tidak membuat judul berita berupa kalimat tanya. Pasalnya, fungsi berita itu ‘kan menginformasikan atau memberitahu pembaca, lha… ini malah nanya sama pembaca! Bijimane urusannye….?

Iya sih, judul berita berupa kalimat tanya bisa bikin penasaran, tapi itu menjadikan (judul) berita yang disajikan tidak efektif karena masih memerlukan proses –pembaca “dipaksa” membaca berita. Itu pun kalo beritanya menarik dan pembaca mau dipaksa.

Contoh terbaru judul berita berupa kalimat tanya a.l.

  1. Is New CIA Chief a Muslim? (onislam.net)
  2. Calon Direktur CIA John Brennan Muslim? (hidyatullah.com)
  3. Presiden PKS Dipecat? (CyberSabili)

Ketiga judul itu tidak mengandung informasi, justru malah “lucu”, karena tidak memberikan informasi kepada pembaca, tapi malah tanya. Nah, nanti pembaca bisa menjawab begini: yaaaa…. Gak tau gue, ente kan wartawan, yang bikin berita, kok malah tanya sama gw, gue buka situs ente itu mau tau informasi, lah…. Ini malah ditanya!

Jadi, dalam konteks “reader behaviour” atau “user habit” (perilaku atau kebiasaan pembaca) yang “ingin segera tahu” dan “dalam keadaan tergesa-gesa”, sebaiknya judul berita tidak berupa kalimat tanya.

Ketiga judul berita di atas akan lebih informatif dan efisien, juga memenuhi kaidah jurnalistik yang baik, jika diubah menjadi:

  1. New CIA Chief Is a Muslim, Says Analyst
  2. Calon Direktur CIA John Brennan Dikabarkan Seorang Muslim
  3. Presiden PKS Diisukan Dipecat

Jadi, untuk informasi yang masih belum jelas alias masih diragukan kebenarannya, wartawan lebih baik menggunakan kata-kata “diisukan” atau “dikabarkan” ketimbang memilih judul berupa tanda tanya yang justru jadi “lucu” (iya lucu, karena kesannya si wartawan malah tanya sama pembaca).

Lain halnya jika tulisan itu berupa artikel opini atau feature. Sah menggunakan judul berupa kalimat tanya, meski risikonya sama: pembaca yang tidak punya waktu luas akan mengabaikan dulu artikel itu, pembaca tidak langsung mendapat informasi. Berikut ini contoh judul artikel  opini berupa kalimat tanya:

  1. Sudah SEO Friendly-kah Blog Anda?
  2. Bagaimana mencari uang dengan ngeblog?
  3. Apakah Partai Demokrat Bisa Bertahan di 2014?

Ah, tetap kurang efektif euy in my opinion mah, meski bisa menarik perhatian pembaca dan bikin penasaran. Coba kita ganti dengan yang ini:

  1. Tips Menjadikan Blog Anda SEO Friendly
  2. Cara mencari uang dengan ngeblog
  3. Partai Demokrat Sulit Bertahan di 2014

Kayaknya lebih efektif dan menarik yang kedua ya? That’s just my idea. Wasalam. (www.romeltea.com).*

Bagaimana menulis judul berita yang baik? Bisa dilihat di sini: How to write a news headline.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

3 COMMENTS

  1. Benar pak. Menurut saya ini juga sama ketika di tayangan
    infotainment, yang tidak mau dibilang tayangan gosip,
    seperti misalnya “Silet” sering kali sok memberi informasi,
    padahal mereka tidak tahu.

    Contohnya,

    Benarkah Eyang Subur beristri banyak untuk ilmu hitam? Entahlah.
    Benarkah…bla…bla….? Entahlah.
    Bla…bla….? Entahlah.

    Pokoknya jawabannya di akhir selalu “Entahlah”, padahal
    sok ingin “mengungkap” informasi di awal acara.

    Itu menurut saya.lol..

  2. Ada media yg memilih kalimat tanya karena masih ragu dengan isi beritanya. Ada pula yg mencoba “berkelit” dari tanggung jawab. Kalau berita itu salah, dia akan berargumen bahwa itu bukan pernyataan dia.

    Lanjut Kang….:)

    • Lha…. ‘kan setiap berita ada sumbernya. Misal, menurut Rana, A itu begini begitu. Namun, pendapat Rana dibantah oleh Asep. Menurut Asep, itu hanya rumor. Nah…. tugas wartawan ‘kan “menyampaikan informasi”, bukan “membuat informasi”, betul tidak….? ^_^

LEAVE A REPLY