Di postingan sebelumnya saya menulis tentang Redefinisi Media Massa karena perkembangan tekonologi media massa dan komunikasi massa dengan dominasi media sosial. Kali ini saya mencoba melakukan redefinisi jurnalistik dengan alasan yang sama.
Dalam redefinisi jurnalistik atau definisi baru jurnalisme hanya ada satu tambahan, yakni media sosial. Pasalnya, semua media massa atau media resmi juga memiliki akun media sosial untuk menyebarkan informasi atau berita selain di media utamanya.
Dulu, hasil kerja wartawan atau produk jurnalistik –khususnya berita (news)– dipublikasikan di media cetak (koran/tabloid/majalah), media elektronik atau media penyiaran (radio/televisi), lalu ditambah media online (situs web berita) saat memasuki era internet, namun kini para jurnalis juga menyebarkan berita melaui media sosial, seperti X (Twitter), Instagram, Facebook, YouTube, dan TikTok.
Tersebarkannya berita atau informasi aktual sebuah peristiwa di media sosial kian mengukuhkan medsos sebagai sumber utama berita bagi para warga internet (warganet) atau internet citizen (netizen).
Saya sendiri bisa dibilang jarang banget buka ditus berita seperti detik.com, kompas.com, atau antaranews.com secara langsung. Untuk mengakses berita sehari-hari, saya lebih sering buka X dan TikTok. Saya follow akun-akun medsos media resmi seperti Detik, Pikiran Rakyat, Kompas, dan CNN Indonesia.
Redefinisi Jurnalistik
Dari riset online, saya menemukan artikel tentang redefinisi jurnalistik di artikel ini. Ulasannya menunjukkan ada perubahan dalam proses jurnalisme masa kini dan penekanan pada etika jurnalistik, terutama disiplin verifikasi, dan pengaruh AI.
Disebutkan, jurnalisme sedang mengalami redefinisi yang diperlukan dari penyebaran berita tradisional satu arah menjadi proses multiaspek dan interaktif yang berfokus pada verifikasi, keterlibatan komunitas, dan kepercayaan di era digital.
Didorong oleh AI dan jurnalisme warga, bidang ini sekarang menekankan konten khusus dan bernilai tinggi, kolaborasi audiens, dan standar etika daripada sekadar penyampaian informasi.
Jurnalisme modern sedang didefinisikan ulang bukan oleh siapa yang memproduksinya, tetapi oleh nilai-nilai, etika, dan proses—seperti verifikasi—yang digunakan untuk mengumpulkan dan menyajikan informasi.
Dunia jurnalistik sekarang juga ditandai kemunculan kurator atau moderator. Jurnalis beralih dari sekadar penjaga gerbang informasi menjadi kurator dan moderator informasi, memverifikasi konten.
Jurnalisme Modern
Jurnalistik hari ini (journalism today) disebut juga jurnalisme modern (modern journalism) yang ditandai oleh transformasi digital yang cepat, bergeser dari penulisan tradisional ke sajian multimedia, integrasi media sosial, dan penyampaian berita secara konstan, instan, dan real-time.
Era media sosial dengan video pendek (short video) sebagai konten terpopuler membuat jurnalistik hari ini harus beradaptasi. Berita (news) sebagai produk utama jurnalisme dipublikasikan di platform media instan, media daring (online), dan media sosial, yang sering kali memprioritaskan video dan konten berdurasi pendek daripada tulisan tradisional.
Fokus jurnalisme modern adalah penyiaran daring, jurnalisme multimedia, dan teknik pelaporan interaktif. Yang mengkhawatirkan adalah tren memprioritaskan sensasi dan emosi daripada pelaporan analitis yang mendalam. Trend ini didorong oleh popularitas platform video pendek seperti TikTok, Instagram, dan Youtube Short.
Ringkasnya, jurnalisme modern atau jurnalistik masa kini adalah praktik pengolahan dan distribusi informasi ke platform digital. Tidak lagi hanya mengandalkan media cetak dan penyiaran seperti masa lalu, jurnalisme saat ini sangat bergantung pada kecepatan, interaktivitas, dan penggunaan teknologi terbaru untuk menjangkau audiens secara luas dan cepat.
Karakteristik Utama Jurnalisme Modern
- Digital & Multimedia: Konten tidak lagi sekadar teks, melainkan kombinasi video, audio (seperti podcast), dan elemen visual interaktif yang didistribusikan melalui situs web, aplikasi, dan media sosial.
- Kecepatan vs Akurasi: Terdapat tekanan besar untuk menjadi yang pertama menyiarkan berita (real-time), namun hal ini sering kali berbenturan dengan tantangan verifikasi dan akurasi informasi.
- Mobile Journalism (Mojo): Jurnalis kini dapat melakukan peliputan, pengeditan, hingga publikasi berita hanya dengan menggunakan perangkat seluler (smartphone), yang merevolusi cara kerja di lapangan.
- Interaktivitas: Audiens tidak lagi sekadar konsumen pasif, melainkan bisa memberikan umpan balik langsung melalui kolom komentar atau partisipasi di media sosial.
Jurnalisme Data: Penggunaan set data besar untuk mengungkap tren atau fakta mendalam yang kemudian divisualisasikan agar mudah dipahami publik.
Jurnalisme HP, Mobile Journalism
Jurnalis masa kini tidak hanya membawa alat perekam atau kamera, tapi juga handphone atau smartphone. Jurnalisme masa kini adalah jurnalisme mobile dengan ttknik reportase menggunakan smartphone —atau yang dikenal dengan istilah Mobile Journalism (MoJo).
Mojo memungkinkan seorang jurnalis menjalankan seluruh siklus produksi berita (mulai dari pengumpulan data, pengeditan, hingga publikasi) hanya melalui satu perangkat HP.
Dalam melakukan peliputan atau reportase menggunakan smartphone, seorang jurnalis dituntut melakukan hal-hal berikut:
1. Persiapan Perangkat & Pengaturan Kamera
- Optimalisasi Pengaturan: Gunakan resolusi video tinggi (minimal 1080p atau 4K jika memungkinkan) dengan frame rate yang konsisten (misalnya 25 atau 30 fps).
- Mode Pesawat (Airplane Mode): Selalu aktifkan fitur ini saat merekam untuk mencegah gangguan panggilan masuk atau notifikasi yang dapat memutus rekaman audio dan video.
- Kunci Fokus & Eksposur (AE/AF Lock): Tekan dan tahan layar pada objek utama agar pencahayaan dan fokus tidak berubah-ubah saat Anda bergerak atau saat terjadi perubahan cahaya di sekitar.
2. Teknik Pengambilan Gambar (Visual)
- Gunakan Tripod atau Gimbal: Kestabilan adalah kunci. Hindari rekaman yang goyang (shaky) agar terlihat profesional.
- Teknik ‘Sequence’: Rekam objek dari berbagai sudut—wide shot (lingkungan), medium shot (subjek), dan close-up (detail)—untuk memudahkan proses pengeditan cerita yang dinamis.
- Landscape vs Vertical: Gunakan format horizontal (landscape) untuk berita televisi atau website konvensional, namun gunakan format vertikal jika berita ditujukan khusus untuk platform seperti Instagram Stories atau TikTok.
3. Teknik Perekaman Audio
- Gunakan Mikrofon Eksternal: Mikrofon bawaan ponsel sering kali menangkap terlalu banyak suara bising (noise). Gunakan mikrofon lavalier atau directional mic untuk suara narasumber yang jernih.
- Monitor Suara: Gunakan headset kabel (bukan bluetooth untuk menghindari delay) guna memastikan audio terekam dengan baik selama proses wawancara.
Bukan sekadar merekam atau membuat teks berita, jurnalis Mojo juga dituntut memiliki skill editing video dan terbantu dengan berbagai aplikasi editing video untuk memotong video, menambah teks, dan memasukkan narasi langsung di lokasi kejadian.
Untuk pengiriman atau publikasi cepat, jurnalis Mojo busa memanfaatkan penyimpanan awan (cloud storage) atau platform transfer data untuk mengirimkan konten mentah atau hasil edit ke ruang redaksi secara real-time.
Demikian redefinisi jurnalistik. Penambahan utama pada proses, media publikasi, dan perangkat produksi. Jurnalisme modern adalah proses pengumpulan dan penyajian berita yang cepat dan mengutamakan digital, yang sangat dipengaruhi oleh media sosial, Kecerdasan Buatan (AI), dan siklus berita 24/7.
Fokusnya adalah pada penceritaan multimedia, keterlibatan audiens, dan mengatasi tantangan seperti disinformasi. Media sosial telah merevolusi distribusi berita, mematahkan monopoli media tradisional dalam penyebaran informasi.*
Discover more from Romeltea Online
Subscribe to get the latest posts sent to your email.





