Empat Golongan Wartawan

Empat Golongan Wartawan

Di berbagai forum pelatihan jurnalistik atau kehumasan, atas pertanyaan peserta, saya sering menyampaikan ada tiga jenis atau tiga golongan wartawan. Satu wartawan “beneran”. Dua lainnya hanya “oknum” bahkan bisa disebut wartawan “bo-ongan” (baca: cara menghadapi wartawan). Ketika membuka website Dewan Pers, saya menemukan posting yang menyebutkan jumlah lebih banyak: “empat golongan wartawan”.

Keberadaan empat golongan wartawan itu dikemukakan mantan Wakil Ketua Dewan Pers, Leo Batubara, dalam sebuah acara di Serang, Banten, 30 Januari 2013.

Menurut Leo, saat ini ada empat golongan wartawan yang harus disikapi berbeda oleh masyarakat:

  1. Wartawan yang menolak “amplop”. Mereka beranggapan menerima amplop bertentangan dengan fungsi yang dijalankannya.
  2. Wartawan yang menerima amplop. Mereka beralasan perusahaan persnya tidak memberi gaji yang mencukupi.
  3. Wartawan yang memperalat pers untuk mendapat uang. Banyak dari golongan ini yang membuat penerbitan pers hanya untuk menjadi alat pemeras narasumber saja.
  4. “Wartawan” gadungan yang hanya mengejar amplop. Sebutan untuk golongan ini beragam, seperti CNN (Cuma Nanya-Nanya), WTS (Wartawan Tanpa Suratkabar), Muntaber (Muncul Tanpa Berita), atau Wartawan Bodrex. “Kalau wartawan bodrex bukan dibina, tapi diusir,” tegas Leo menjawab permintaan peserta agar Dewan Pers membina “wartawan bodrex”.

Dua Macam Berita

Selain penting untuk memahami empat golongan wartawan, Leo juga mengharapkan masyarakat bisa memperlakukan dua macam berita secara berbeda:

  1. Berita kategori karya jurnalistik. Berita ini didapat wartawan dengan menempuh cara-cara kerja jurnalistik dan bertujuan untuk kepentingan umum. Jika berita semacam ini dinilai melanggar UU No.40/1999 tentang Pers atau Kode Etik Jurnalistik, sanksi yang diberikan kepada pers bisa dalam bentuk Hak Jawab, Hak Koreksi, atau denda maksimal Rp 500 juta.
  2. Berita kategori bukan karya jurnalistik. Pers yang mempublikasikannya bisa dihukum menurut ketentuan perundangan yang berlaku, misalnya menurut KUHP, dan pelakunya bisa dipenjara. Berita seperti ini, contohnya, bertujuan memeras, rekayasa, berintensi malice untuk menjatuhkan seseorang, berkandungan pornografi yang semata-mata untuk membangkitkan nafsu birahi, atau untuk menghina agama. (www.romeltea.com).*

Sumber: dewanpers.org

Related Post

Jurnalistik Dakwah Aktivis Masjid Aktivis masjid dapat menjalankan jurnalistik dakwah atau syiar Islam melalui aktivitas jurnalistik --penerbitan buletin dan website masjid. JUR...
Terbit! Buku Panduan Praktis Bahasa Jurnalistik Alhamdulillah, buku terbaru saya, Bahasa Media: Panduan Praktis Bahasa Jurnalistik, sudah terbit (Cetakan I, Mei 2009). Penerbitnya, Baticpress Bandun...
Wartawan Itu Cerewet, Pengecam, dan Guru Bangsa SIAPA sesungguhnya wartawan dan bagaimana karakternya? Jawaban atas pertanyaan ini sudah ditemukan ketika Napoleon Bonaparte menggambarkan sosok warta...
Teknik Menulis Artikel Opini Artikel opini adalah jenis tulisan (karya) jurnalistik yang berisi opini subjektif penulisnya tentang suatu masalah atau peristiwa. Teknik menulis art...

COMMENTS