Kode Etik Jurnalistik: Etika Profesi Wartawan

Posted on 31 October 2012 by romeltea

jurnalistik_terapan

Oleh ASM. Romli

Kode Etik Jurnalistik adalah etika profesi wartawan. Wartawan yang tidak menaati kode etik disebut wartawan tidak profesional, bahkan boleh disebut wartawan gadungan alias wartawan palsu.

 WARTAWAN adalah sebuah profesi. Dengan kata lain, wartawan adalah seorang profesional, seperti halnya dokter, bidan, guru, atau pengacara yang punya kode etik. Sebuah pekerjaan bisa disebut sebagai profesi jika memiliki empat hal berikut, sebagaimana dikemukakan seorang sarjana India, Dr. Lakshamana Rao:

  1. Harus terdapat kebebasan dalam pekerjaan tadi.
  2. Harus ada panggilan dan keterikatan dengan pekerjaan itu.
  3. Harus ada keahlian (expertise).
  4. Harus ada tanggung jawab yang terikat pada kode etik pekerjaan. (Assegaf, 1987).

Menurut saya, wartawan (Indonesia) sudah memenuhi keempat kriteria profesioal tersebut.

1.      Wartawan memiliki kebebasan yang disebut kebebasan pers, yakni kebebasan mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi. UU No. 40/1999 tentang Pers menyebutkan, kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara, bahkan pers nasional tidak dikenakan penyensoran, pembredelan, atau pelarangan penyiaran (Pasal 4 ayat 1 dan 2). Pihak yang mencoba menghalangi kemerdekaan pers dapat dipidana penjara maksimal dua tahun atau dena maksimal Rp 500 juta (Pasal 18 ayat 1).

Meskipun demikian, kebebasan di sini dibatasi dengan kewajiban menghormati norma-norma agama dan rasa kesusilaan masyarakat serta asas praduga tak bersalah (Pasal 5 ayat 1).

Memang, sebagai tambahan, pada prakteknya, kebebasan pers sebagaimana dipelopori para penggagas Libertarian Press pada akhirnya lebih banyak dinikmati oleh pemilik modal atau owner media massa. Akibatnya, para jurnalis dan penulisnya harus tunduk pada kepentingan pemilik atau setidaknya pada visi, misi, dan rubrikasi media tersebut. Sebuah koran di Bandung bahkan sering “mengebiri” kreativitas wartawannya sendiri selain mem-black list sejumlah penulis yang tidak disukainya.

2.      Jam kerja wartawan adalah 24 jam sehari karena peristiwa yang harus diliputnya sering tidak terduga dan bisa terjadi kapan saja. Sebagai seorang profesional, wartawan harus terjun ke lapangan meliputnya. Itulah panggilan dan keterikatan dengan pekerjaan sebagai wartawan. Bahkan, wartawan kadang-kadang harus bekerja dalam keadaan bahaya. Mereka ingin –dan harus begitu– menjadi orang pertama dalam mendapatkan berita dan mengenali para pemimpin dan orang-orang ternama.

3.      Wartawan memiliki keahlian tertentu, yakni keahlian mencari, meliput, dan menulis berita, termasuk keahlian dalam berbahasa tulisan dan Bahasa Jurnalistik.

4.      Wartawan memiliki dan menaati Kode Etik Jurnalistik (Pasal 7 ayat (2) UU No. 40/1999 tentang Pers). Dalam penjelasan disebutkan, yang dimaksud dengan Kode Etik Jurnalistik adalah Kode Etik yang disepakati organisasi wartawan dan ditetapkan oleh Dewan Pers.

Kode Etik Jurnalistik PWI

KEJ pertama kali dikeluarkan dikeluarkan PWI (Persatuan Wartawan Indonesia). KEJ itu antara lain menetapkan.

  1. Berita diperoleh dengan cara yang jujur.
  2. Meneliti kebenaran suatu berita atau keterangan sebelum menyiarkan (check and recheck).
  3. Sebisanya membedakan antara kejadian (fact) dan pendapat (opinion).
  4. Menghargai dan melindungi kedudukan sumber berita yang tidak mau disebut namanya. Dalam hal ini, seorang wartawan tidak boleh memberi tahu di mana ia mendapat beritanya jika orang yang memberikannya memintanya untuk merahasiakannya.
  5. Tidak memberitakan keterangan yang diberikan secara off the record (for your eyes only).
  6. Dengan jujur menyebut sumbernya dalam mengutip berita atau tulisan dari suatu suratkabar atau penerbitan, untuk kesetiakawanan profesi.

Kode Etik Wartawan Indonesia (KEWI)

Ketika Indonesia memasuki era reformasi dengan berakhirnya rezim Orde Baru, organisasi wartawan yang tadinya “tunggal”, yakni hanya PWI, menjadi banyak. Maka, KEJ pun hanya “berlaku” bagi wartawan yang menjadi anggota PWI.

Namun demikian, organisasi wartawan yang muncul selain PWI pun memandang penting adanya Kode Etik Wartawan. Pada 6 Agustus 1999, sebanyak 24 dari 26 organisasi wartawan berkumpul di Bandung dan menandatangani  Kode Etik Wartawan Indonesia (KEWI). Sebagian besar isinya mirip dengan KEJ PWI.

KEWI berintikan tujuh hal sebagai berikut:

  1. Wartawan Indonesia menghormati hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar.
  2. Wartawan Indonesia menempuh tatacara yang etis untuk memperoleh dan menyiarkan informasi serta memberikan identitas kepada sumber informasi.
  3. Wartawan Indonesia menghormati asas praduga tak bersalah, tidak mencampurkan fakta dengan opini, berimbang, dan selalu meneliti kebenaran informasi serta tidak melakukan plagiat.
  4. Wartawan Indonesia tidak menyiarkan informasi yang bersifat dusta, fitnah, sadis, cabul, serta tidak menyebutkan identitas korban kejahatan susila.
  5. Wartawan Indonesia tidak menerima suap dan tidak menyalahgunakan profesi.
  6. Wartawan Indonesia memiliki Hak Tolak, menghargai ketentuan embargo, informasi latar belakang, dan off the record sesuai kesepakatan.
  7. Wartawan Indonesia segera mencabut dan meralat kekeliruan dalam pemberitaan serta melayani Hak Jawab.

KEWI kemudian ditetapkan sebagai Kode Etik yang berlaku bagi seluruh wartawan Indonesia. Penetapan dilakukan Dewan Pers sebagaimana diamanatkan UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers melalui SK Dewan Pers No. 1/SK-DP/2000 tanggal 20 Juni 2000.

Penetapan Kode Etik itu guna menjamin tegaknya kebebasan pers serta terpenuhinya hak-hak masyarakat. Kode Etik harus menjadi landasan moral atau etika profesi yang bisa menjadi pedoman operasional dalam menegakkan integritas dan profesionalitas wartawan. Pengawasan dan penetapan sanksi atas pelanggaran kode etik tersebut sepenuhnya diserahkan kepada jajaran pers dan dilaksanakan oleh organisasi yang dibentuk untuk itu.

KEWI harus mendapat perhatian penuh dari semua wartawan. Hal itu jika memang benar-benar ingin menegakkan citra dan posisi wartawan sebagai “kaum profesional”. Paling tidak, KEWI itu diawasi secara internal oleh pemilik atau manajemen redaksi masing-masing media massa.Wasalam. (www.romeltea.com).*

Dapatkan Tips Komunikasi Praktis Lainnya via Email

About romeltea
Asep Syamsul M. Romli aka Romeltea --akrab disapa Kang Romel-- adalah praktisi, trainer, dan konsultan media. Profil lengkap di menu "My Profile". Karya tulis (buku) di menu "My Books". Kontak email: romeltea@yahoo.com. Follow @romeltea

Kategori | Jurnalistik



38 Responses to “Kode Etik Jurnalistik: Etika Profesi Wartawan”

  1. RIYONO says:

    pak apakah narasumber wajib memberikan data atau informasi kpd wartawan?misalnya disuatu dinas perijinan ada seorang wartawan yg meminta data tentang perusahaan tambang di wilayah tsb..trims

    • romeltea says:

      ya, wajib, sesuai dengan UU Keterbukaan Informasi Publik (KIP), tentu dipilih dan dipilah, yang sekiranya bersifat “rahasia” boleh tidak diberikan. Kalo cuma profil perusahaan, harus dikasih.

  2. shandy says:

    assalmu alaikum wr wb
    mas saya mohon arahan soalnya saya ada sedikit masalah dengan wartawan saya kerja di salah satu intansi pemerintahan saya mau curhat sedikit beberapa waktu lalu saya melarang wartawan untuk meliput berita karena saya tidak mengetahui ia wartawan kronologisnya iya mengatar surat ke kantor saya sedangkan di kantor saya sedang ada rapat oleh tamu dan ituh didokumentasikan oleh salah seorang rekan wartawan lain ketika siwartawan yang awalnya membawa surat ini terpacing untuk ikut mencari berita dan langsun mefoto foto tanpa bisa menjelaskan si pengantar surat in wartawan atau bukan maka saya larang bagai mana solusinya.

    • romeltea says:

      wa’alaikum salam wr wb… tanya ID Card/Press Card-nya, jika perlu cek ke kantor redaksinya (tlp), apa benar ia wartawan media tsb, jika ternyata bohong, usir!!!!!

  3. shandy says:

    assalamu alaikum wr.wb
    saya mau tanya mas tentang wartawan apakah setiap wartawan diwajibkan membawa surat tugas atau id card dalam setiap peliputan berita?
    dan penjelasam kode etik no 2

    • romeltea says:

      wa’alaikum salam wr wb, iya benar, setiap wartawan wajib punya ID Card/Press Card. Jika tidak punya, tlp kantor redaksinya, memastikan benar-tidaknya ia wartawan media ybs…

  4. bembeng says:

    pak ……
    perbdaan wartwan profeional ma amatir gimana pak

  5. gadieznemooo says:

    Bagaimana menghadapi wartawan, yg tiba2 dtg, kemudian nanya2 dgn nada tinggi dan menyudutkan pdhl kita ngga tw menau kasus ap yg digali.. Kemudian mengambil foto tanpa izin..

    Apakah itu wajar dan sesuai etika wartawan?

    Mohon penjelasannya… Mereka mmg tdk meminta ap2 hanya mencari informasi dgn cara mengancam2 gitu… Bgaimana menghadapinya pak???

  6. elsa says:

    asslamu alaikum wr wb
    pak, apakah setiap wartawan itu, berbeda kode etik yang digunakan?
    mohon balasannya terimakasih
    wassalamu alaikum wr.wb

    • romeltea says:

      Wa’alaikum salam wr wb, sama, yaitu KEWI (Kode Etik Wartawan Indonesia) yang sudah ditetapkan Dewan Pers dan berlaku bagi setiap wartawan Indonesia berdasarkan UU No. 49 tentang Pers. (Sebagaimana dijelaskan dalam posting di atas)

  7. Tarnando putra says:

    Saya ingin bertanya kepada Bapak masalah wartawan, Sebenarnya wartawan adalah mencari berita seluas2nya tetapi yg mengganjal di hati saya adalah wartawan yang mencari uang dengan mengancam sesorang kalau tidak di kasi uang si wartawan akan ekspos keberita atau ke tablod dan mencari kesalahan seseorang padahal si wartawan itu tahu atau seluk beluk permasalahan dan wartawan mengincar apabila ada proyek rehab sekolah dan proyek kantor dan akan mengincar kepala sekolah dan kepala kantor saya rasa wartawan model akan mencoreng nama baik wartawan yg benar2 profesional , apakah wartawan model ini di anggap sebagi wartawan profesional adakah aturan yg mengganjal perjalanan wartawan yg model ini kalau ada tolong di infokan ke saya…………..dan sya sangat berterima kasih????????

  8. Dikodiko says:

    Ane lulusan smk jurusan akuntansi gan . Tapi dari SD ane udah hobi nulis sama mengarang, juga udah sering ngeliput juga gan . Dan insyaalah ane selalu update informasi, kira2 ane bisa jd wartawan/jurnalis yg profesional gak ya gan?

  9. dina marlia says:

    mau nanya,cara membaca berita dan wawancara yang baik menurut kode etik jurnalis tu apa ya?

  10. urey says:

    apakah benar kode etik bisa dijalankan dengan benar… nyata2nya di tempat saya bekerja ada orang yg mengaku “wartawan” tetapi bukan selayaknya seperti wartawan/pers tetapi melainkan tukang peres.
    minta dibeli korannya dengan harga Rp 100.000 alasannya utk biaya cetak apakah itu disebut dengan wartawan…..GILA



Tulis Komentar