Stand-Alone Journalism – Alternatif Wartawan Publikasikan Liputannya

Stand-Alone Journalism – Alternatif Wartawan Publikasikan Liputannya

Stand-Alone Journalism – Alternatif Wartawan Publikasikan Liputannya

kamus jurnalistikWARTAWAN sering kecewa karena hasil liputannya atau naskah beritanya tidak bisa dipublikasikan di media tempatnya bekerja.

Itu dulu, di era media cetak. Sekarang, di era internet atau media online, kayaknya semua tulisan wartawan, sejelek apa pun, dimuat saja, selama tidak bertentangan dengan kebijakan redaksi (editorial policy).

Media online (baca: situs berita, portal berita) sekarang tampak berlomba-lomba mengejar “kuantitas” berita di medianya karena mesin pencari, seperti Google, sangat suka konten segar (fresh content).

Namun, bisa saja hasil liputan atau naskah berita wartawan media online tidak bisa dipublikasikan karena substansi beritanya bertentangan dengan kebijakan redaksi, terlalu “kritis”, atau bertentangan dengan “pesan sponsor”.

Jika itu terjadi, wartawan masih bisa mempublikasikan beritanya lewat blog atau situs pribadinya.

Dalam Kamus Jurnalistik kini dikenal Stand-Alone Journalism. Istilah ini dikemukakan guru besar jurnalistik Jay Rosen dan Chris Nolan.

Stand-Alone Journalism atau “Jurnalis Mandiri” merujuk pada wartawan profesional yang membuat situs web atau media online sendiri.

“A journalist — or a small group of reporters — can work on the web to produce what they want as they find it appropriate. And readers are equally free to read the work of individual journalist as they see fit, on their time, not on schedules set by TV networks or the newspapers.” Not bad. Not bad at all,” tulis Nolan dikutip Poynter.

Seorang wartawan – atau sekelompok kecil wartawan – dapat bekerja di web untuk menghasilkan apa yang mereka inginkan karena mereka merasa sesuai. Dan pembaca sama-sama bebas membaca karya jurnalis individual sesuai keinginan mereka, tepat waktu, bukan pada jadwal yang ditetapkan oleh jaringan TV atau surat kabar. “Tidak buruk. Tidak buruk sama sekali,” katanya.

Jadi, intinya, Stand-Alone Journalim itu adalah wartawan membuat blog atau website pribadi untuk publikasi hasil liputannya yang tidak bisa dimuat di media tempatnya bekerja atau berita yang sama tapi menggunakan angle lain.

Jurnalis Onlie di Indonesia tampaknya tidak punya waktu luang untuk membuat blog dan menjadikannya sebagai media Stand-Alone Journalism.

Padahal, menjadi stand-alone journalis atau “wartawan mandiri” juga bisa menghasilkan uang atau “penghasilan sampingan” dari Google AdSense atau sponsor.

Dalam kondisi mayoritas media online saat ini “pro-rezim” atau “dikendalikan rezim”, maka media independen (stand-alone journalism) menjadi alternatif bagi publik untuk mendapatkan berita yang benar-benar faktual, tanpa framing, tanpa tendensi, alias murni fakta apa adanya.

Baca Juga: Jurnalisme Militan – Pers Bawah Tanah

Demikian sekadar inspirasi bagi para jurnalis atau wartawan untuk menjalankan Stand-Alone Journalisme.

Cara membuat blog atau website sangat mudah. Anda bisa cek cara membuat blog atau cara membuat situs berita dengan blog. Wasalam. (www.romeltea.com).*

Related Post

Judul Umpan Klik: Wartawan Media Online Alami Diso... Judul Umpan Klik: Wartawan Media Online Alami Disorientasi Wartawan Media Online menulis judul bukan untuk menyampaikan informasi, tapi mengundang ...
Cara Daftar dan Syarat Blog Diterima Google Adsens... Cara Daftar dan Syarat Blog Diterima Google Adsense. Selain konten berkualitas, Google mensyaratkan jumlah pengunjung banyak agar blog diterima publis...
Cara Cepat Membuat Gambar Animasi Cara Cepat Membuat Gambar Animasi Cara membuat gambar animasi alias gambar kerlap-kerlip dan gonta-ganti sangat mudah. Banget mudahnya! Gak usah...
Cara Mengubah Tampilan Blog Cara mengubah tampilan blog, mengganti template blog, atau mengubah tampilan halaman depan blog di blogspot.com (blogger.com) sangat mudah. Langkah...

COMMENTS